Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Menolaknya!


__ADS_3

Sampai di rumah dengan segala kepenatan dan kelelahan raga, Parto masih bisa tersenyum saat mengingat kotak merah pemberian Shela. Gadis dengan sejuta kejudesan dan kebawelannya itu ternyata bisa manis seperti sekarang ini.


Dan sekarang lihatlah bagaimana Shela yang jutek, sengak dan bar-bar itu bisa memberinya sebuah kejutan, ini adalah momen uuh yang Parto sendiri enggak pernah bayangkan sebelumnya.


Eh tapi tunggu... tunggu... Dia kan dari awal enggak suka sama Parto. Apa mungkin di dalam kotak itu isinya bom rakitan? Jadi waktu Parto membuka kotak itu bakal ada goncangan hebat? Meledak.. booom!! Seperti itu? Lupakan! Othor terlalu sering dapet goncangan hati, jadi mikirnya makin nyeleneh!


Setelah menyelesaikan ritual mandinya, Parto kembali ke kamar. Penasaran dengan apa yang ada di dalam kotak itu. Pelan-pelan dia menaruh kotak itu di meja. Masih memandanginya.


Kenapa enggak langsung dibuka aja sih? si Bambaang ini bikin penasaran aja, jitak purun?


Tangan Parto akhirnya enggak sabar untuk segera membuka isi kotak berukuran sedang itu. Dengan mata berbinar dan senyum mengembang dia melihat isinya yang ternyata adalah sebuah topi. Topi dengan bordir huruf P kecil yang terletak di samping kanan sebagai hiasannya.


Apapun itu Parto sangat menyukainya. Segera dia mengenakan topi itu. Seperti anak kecil yang girang karena mendapat apa yang diinginkan, seperti itulah perasaan Parto saat ini.


Dia rebahkan tubuhnya di kasur yang sudah tidak empuk lagi. Melepas kembali topi yang dia kenakan. Menaruh topi itu di dadanya. Pikirannya terbang melayang menuju gadis berambut hitam panjang menawan itu. Gadis itu menutup harinya dengan kejutan manis yang enggak bakal dia lupakan. Parto sampai tidak merasakan kalau dirinya belum makan dari tadi siang. Hatinya terlalu bahagia. Sehingga respon tubuhnya agak melambat belum memberi sinyal kalau dia lapar. Dengan suasana hati yang sangat baik, Parto pejamkan matanya untuk menyusuri alam mimpi.

__ADS_1


...----------------...


Siang ini cuaca benar-benar terasa sangat panas. Mungkin nanti sore akan turun hujan. Atau enggak, entahlah. Yang pasti, siapapun yang berada di bawah teriknya sang surya saat ini pasti sependapat jika pancaran cahayanya terasa seperti membakar pori-pori kulit.


Seno berjalan cepat menuju kantin, sekali lagi dia berjalan tanpa memperhatikan sekitarnya. Asal lurus, belok, nabrak bilang maaf. Dan begitu seterusnya. Matanya seakan enggak mau lepas dari hp yang dia bawa.


Sampai dia tiba di kantin dengan selamat, tanpa halangan yang berarti. Bukan makanan tujuan utamanya ke sana. Melainkan hanya bersantai sambil berbalas pesan dengan pujaan hati. Siapa lagi kalau bukan Indah.


Seseorang yang melihat kehadiran Seno di kantin, langsung berjalan menuju tempat Seno duduk saat ini.


Seno menatap malas. Hanya melirik sekilas, setelah itu dia berdiri tanpa berucap apapun. Kenapa Seno jutek banget? Karena dia menjaga perasaan pacarnya. Dia udah janji enggak bakal berurusan lagi sama cewek muka badak itu. Apalagi setelah Seno tahu satu hal, Indah tipe pencemburu akut! Wajar lah, cemburu tanda sayang, right?


"Mas Seno kok malah pergi!?? Mas aku mau ngomong!" Meisya membuang semua rasa malunya ke tempat sampah terdekat. Berteriak di tengah banyaknya pekerja lain yang berada di sana. Dan hampir semua mata langsung memperhatikan ulahnya.


Seno berbalik arah. Menatap Meisya yang sekarang malah tak bergeming melihat sorot mata tajam milik Seno.

__ADS_1


"Mas... Kenapa kamu enggak bisa sedikit aja lihat ke arahku? Aku udah lama sayang sama kamu. Berkali-kali cuba deketin kamu, tapi.. tapi kamu enggak pernah anggap aku ada! Aku memperhatikanmu Mas! Aku melihatmu! Tapi apa yang aku dapat? Setelah penantian lama, setelah ada kesempatan buat maju, ternyata aku dihadapkan sama kenyataan... kenyataan kalau kamu udah punya pacar! Dan pacar kamu cuma cewek centil, kekanakan, dan manja seperti itu!!!"


Dihirupnya oksigen sebanyak yang dia bisa, namun sia-sia hanya perasaan sesak yang dia dapat. Air mata jatuh di pipi gadis yang sebenarnya manis itu. Apalagi dia sadar, sekarang ini dirinya jadi bahan tontonan banyak pasang mata. Malu udah enggak dirasa lagi. Yang penting baginya saat ini bisa mengungkapkan apa yang dia rasakan. Pedih itu tak bertepi.


Seno berjalan mendekat.


"Kamu tahu? Cewek yang kamu bilang 'cuma cewek centil, manja dan kekanakan' itu, membuat aku rela nunggu dia selama empat tahun agar dia mau membalas rasaku??! Butuh waktu selama itu untuk menguji kesabaran hatiku. Aku enggak pernah berpikir membelokan hatiku ke lain arah, meski dulu aku pernah merasa usahaku buat dapetin dia bakal sia-sia. Tapi, aku kembali bangkit.. kembali ke niat awalnya yaitu jadiin dia satu-satunya permaisuri hatiku. Ya, cuma dia. Hanya dia yang aku mau, yang aku tuju, dan yang bertahta di sini." Ucap Seno dengan menunjukan dada kirinya. Jantungnya.


Membuat Meisya makin kesulitan mengambil nafas. Matanya seakan berkabut. Dia enggak mau berakhir malu seperti ini. Tadinya dia berpikir setelah mengungkapkan apa yang dia rasa, Seno akan sedikit berbelas kasih pada dirinya. Tapi, lihat sekarang. Hanya kekecewaan yang dia dapat.


"Tapi gimana dengan aku Mas...." Ucap Meisya terbata-bata.


"Aku tulus sayang sama kamu," Imbuhnya.


"Tapi maaf, ketulusan mu belum bisa menggoyahkan langkahku untuk terus mempertahankan dia!"

__ADS_1


Kudu piye nek wes ngono? (Harus gimana kalau udah kek gitu?) Di tolak di depan umum. Tanpa sedikitpun rasa melas (iba) Seno berjalan meninggalkan Meisya yang masih menangis sesenggukan.


__ADS_2