Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Akhirnya Pulang


__ADS_3

Dua hari adalah waktu yang cukup untuk Parto memulihkan kepalanya yang dihempas vas oleh Jamal, dia sudah boleh pulang. Sedangkan Beni, dia memaksa ingin pulang karena tahu teman sekamarnya juga akan pulang hari ini,


"Kamu jangan kayak anak kecil Ben, kata dokter aja kamu belum boleh pulang." Lulu melipat selimut yang dipakai adiknya untuk tidur,


"Dokternya mana to mbak, biar aku ngomong sama dia aja, dia itu melebih-lebihkan tahu enggak. Apanya yang belum boleh pulang, orang aku udah enggak apa-apa gini. Aku udah sehat mbak!" Terus saja protes,


Lulu langsung teringat dengan dokter yang merawat adiknya, ini enggak boleh. Lulu harus membuang jauh-jauh apapun itu yang berkaitan dengan Ardiaz. Dia enggak mau menengok masa lalu. Ya, kayak lagunya bunda Inul.. Masa lalu biarlah masa lalu,, ngono lah pokoknya!


"Mbak! Astaghfirullah kok malah bengong sih, bilang sama dokternya mbak aku mau pulang, kalau mbak Lulu enggak berani ngomong biar aku aja yang ngomong sama dokternya!"


"Ada yang cari aku? Piye mas? (gimana mas?)"


Tanpa menggunakan setelan jas putihnya, dokter Ardiaz terlihat gagah dengan kemeja warna hitam yang lengan bajunya digulung sampai batas sikut.


"Nah ini dokternya ke sini kok ya pas banget, mas dokter aku tak pulang sekarang boleh kan ya? Orang aku udah sehat kok, kesian ibuku di rumah mas dokter kalo aku lama enggak pulang." Dengan muka dibuat semeyakinkan mungkin, Beni berharap dokter Ardiaz mengabulkan keinginannya untuk bisa pulang.


"Mas dokter?" Ardiaz lebih terfokus pada panggilan Beni kepadanya.


"Iya, mau aku panggil pak kok enggak pantes. Jadi ya aku panggil mas aja, piye boleh ya aku pulang sekarang?!" Lagi-lagi Beni memaksa keinginannya.


"Kamu manggil mas kok kayak aku suami mbak mu aja," Tanpa diduga Ardiaz malah menanggapi candaan Beni. Seperti emang mancing obrolan ke arah sana.

__ADS_1


"Ya enggak apa-apa kalau mbak Lulu mau sama mas dokter, malah enak ya mbak.. kita jadi punya ahli kesehatan pribadi hahaha" Beni enggak sadar omongannya tadi membuat dua orang yang ada di ruangan itu terbang dengan pikirannya masing-masing.


Ooowh jadi kamu bohong sama aku, bilang udah nikah. Biar aku jauhi kamu, seperti dulu.. kamu pergi tanpa mau denger penjelasan ku dulu,


Ardiaz tersenyum penuh arti melihat ke arah Lulu. Merasa diperhatikan seperti itu, membuat Lulu membuang muka ke arah lain.


"Jadi gimana pak dokter? Adikku udah boleh pulang,?" Mulutnya bertanya tapi matanya enggan melihat ke arah sang dokter.


"Boleh. Melihat kondisi mas Ben yang membaik sangat cepat, enggak ada alasan buatnya untuk tetap tinggal di sini, tapi, ada hal yang musti kita bicarakan dulu.... mbak nya mas Ben!"


"Mas Ben, tunggu sebentar.. nanti akan ada perawat yang ke sini untuk membantu melepas selang infusnya, jangan dicabut sendiri ya mas," Lanjut Ardiaz.


"Kenapa enggak bicara di sini aja pak dokter? Maaf saya juga harus membereskan barang-barang ini sebelum adik saya pulang." Lulu jelas menolak. Dia enggak mau terjebak oleh kata-kata Ardiaz nantinya.


"Oowh.. kalau begitu ya maaf, mas Ben kayaknya batal pulang untuk hari ini.. hmm sangat disayangkan," Sambil menggeleng pelan, seakan-akan sedang berpikir keras Ardiaz mampu membuat Lulu mengepalkan tangannya.


Tingkah aneh antara dua insan manusia itu tak lepas dari pengawasan Beni, Beni bukan anak bau kencur yang enggak tahu gerak-gerik orang yang jatuh hati. Di penglihatan Beni, dia bisa menebak Ardiaz yang dia panggil mas dokter itu, punya sesuatu yang membuat kakaknya kesal setengah mati bila berada di dekat dokter itu. Dua hari dirawat di puskesmas, selama itu pula perhatian sang dokter di rasa terlalu berlebihan pada kakaknya. Bukan pada dirinya yang jelas-jelas adalah pasien dari dokter itu sendiri.


"Ben.. aku tak nemuin dokter gemblung tadi dulu ya, kamu enggak usah pecicilan godain suster di sini! Inget ini bukan desa kita, jaga tingkah laku kamu!"


Sebelum berjalan mengikuti Ardiaz, Lulu sempat berpesan kepada Beni.

__ADS_1


Lah pecicilan mana bisa liat sikon mbak.. mau desa kita apa enggak, pesonaku kan emang enggak bisa dihindari siapapun.


Muncul kembali sifat PD yang over nyampe luber dalam diri Beni. Beni enggak menjawab perkataan kakaknya, dia malah sibuk menebak-nebak apa yang mas dokter dan kakaknya bicarakan. Jangan-jangan dokter tadi mau nembak kakaknya, atau ngajak nikah? Wah makin dipikir makin membuat Beni penasaran.


...----------------...


Sampai di rumah dengan dibonceng Seno, membuat emak bertanya-tanya, sebenarnya kemana aja anak sulungnya ini pergi beberapa hari ini.


"To.. Esih ileng balik kowe Le? Ndadak balik barang ki ngopo?" (To.. masih ingat pulang kamu? Pakai pulang segala itu ngapain?)


Belum juga duduk, baru sampai depan pintu Parto udah kena semprot emaknya. Emak marah karena enggak ada sebijipun orang yang memberi tahu keadaan anaknya, kemana dia sampai dua hari enggak pulang. Saat Indah si bungsu, ditanya perihal kakaknya, dia selalu berkelit dan bilang nomer kakaknya tidak bisa dihubungi.


"Ya Allah mak.. mbok ya tak duduk dulu, ngomelnya nanti ditunda dulu, saget? (bisa?)"


Seno dan Indah enggak mau mengganggu acara ngomelnya emak ke anak lelakinya itu, mereka memutuskan untuk duduk di teras rumah.


Mata mereka menangkap sosok perempuan mengendarai motor matic, motor itu mendekat ke arah rumah Parto. Seno sampai beberapa kali mengedipkan mata, memastikan orang yang sekarang sedang berjalan menghampiri mereka adalah benar Shela.


"Mas.. mbak Shela ayu banget ya? Ya Allah beruntung banget itu mas To bisa dapetin mbak Shela," Celoteh Indah.


"Mas To mu juga enggak jelek-jelek amat kok dek, yang lebih beruntung itu sebenarnya aku.. aku bisa dapetin kamu, itu suatu keberuntungan yang enggak ternilai buat ku." Receh banget gaess. Biasa bucin. Biarin aja, suka-sukanya mereka aja.

__ADS_1


__ADS_2