
Mereka bertiga masih diam. Sepertinya bukan hanya Seno yang pusing dengan masalah ini tapi juga kedua temannya.
Dari dalam rumah, Shela muncul.. Ikut bergabung dengan suami dan dua temannya.
"Udah bangun?" Parto mengusap pipi Shela. Shela menyandarkan kepalanya ke pundak Parto, membuat Beni dan Seno iri seiri irinya!
"Huum.. Kelian kenapa?" Shela membetulkan ikat rambutnya.
"Seno yang ada apa.. aku sama Parto sih fine-fine aja La!" Beni menjawab pertanyaan Shela.
"Sen, ada apa?" Meski usia Shela paling muda di antara mereka berempat, tapi Shela pantang memanggil 'mas' ke orang lain. Dia udah terbiasa dengan memanggil nama aja untuk ketiga lelaki itu tadinya. Sampai salah satu dari roda bajaj itu mempersuntingnya, barulah Shela menyematkan title mas untuk Parto, suaminya.
"Seno galau La.. milih antara Indah dan ibunya? Ibunya enggak mau ngasih restu ke hubungannya dengan Indah." Lagi-lagi Beni yang menjelaskan.
"Cinta mereka terhalang weton La," Mendengar penjelasan Beni, Shela lantas melihat ke arah Seno.
"Kok gitu? Kalau Seno sama Indah enggak boleh lanjut ke pernikahan lha ngapain pacaran? Nyakitin diri sendiri tau enggak. Kamu juga Sen, harus tegas pilih salah satu dari mereka.. ibumu atau Indah! Jangan mengulur waktu yang akhirnya bikin luka hati semakin sulit untuk diobati! Kamu juga tahu, sakit hati itu enggak ada obatnya! Dokter aja enggak jual obat sakit hati," Gadis jutek ini mulai mengungkapkan apa yang dia pikirkan.
"Tapi aku enggak mau pisah sama Indah Shel," Seno berucap seperti itu untuk kesekian kalinya.
"Yakinin ibumu! Pasti ada jalan buat ibumu luluh." Shela masih memberi pencerahan pada Seno.
__ADS_1
"Enggak ada. Jalan satu-satunya beliau ingin aku nikah sama orang lain, siapapun itu kecuali Indah."
"Ibumu yakin kalau kamu nikah dengan pilihannya pernikahanmu akan langgeng sampai tua? Keluargamu atau keluarga istrimu nanti enggak ada yang meninggal? Apa mereka bisa ganti kulit kayak ular, punya nyawa seribu kalau kamu nikah dengan orang lain selain Indah?" Shela santai aja saat mengucapkan hal itu.
"Shel.. aku juga udah bilang itu semua, udah Shel.. aku udah jelasin kalau bukan dengan Indah aku enggak mau nikah.. Tapi, ibu malah marah sama aku, beliau diemin aku."
"Kelian punya jalan keluar buat masalah Seno?" Tanya Shela melihat ke arah Parto dan Beni.
"Ibumu tahu wetonnya indah dari siapa?" Parto bertanya pada Seno.
"Indah sendiri yang ngasih tahu, waktu ke rumah beberapa minggu sebelum kamu dan Shela nikah." Jawab Seno sekenanya.
Sekedar informasi dalam budaya Jawa, weton itu adalah hitungan hari lahir seseorang yang digunakan sebagai patokan untuk menunjuk ramalan tertentu. Cara menghitung weton bisa dilihat berdasarkan hari dan pasaran, ada juga yang dihitung berdasarkan bulan tahun kelahiran. Masih banyak yang percaya dengan hitungan weton ini. Meski ada juga yang sudah tidak memakai hitungan ini untuk meramalkan sesuatu.
"Kurang baik-baik gimana aku ngomongnya Ben? ibu itu orangnya keras. Untungnya aku punya gubuk sendiri, jadi ada masalah gini enggak lontang-lantung tidur di emper warung."
"Ya udah.. sekarang aja ke rumahmu. Tapi, aku anterin Shela ke rumah ibu dulu.. Jadi ke sana kan La?" Shela mengangguk.
"Ya udah To, aku sama Seno ke rumah Seno dulu. Nanti kamu jangan langsung ke rumah mamaknya Seno, abis dari rumah mertuamu kamu ke rumah Seno dulu.." Beni mengambil kunci motor serta rokoknya yang ada di bangku tadi.
Beni dan Seno pergi. Sedangkan Shela masih duduk di bawah pohon mangga itu bersama Parto.
__ADS_1
"Kamu mau ngomong apa ke ibunya Seno mas?" Shela tahu, suaminya juga saat ini pasti bingung. Seno adalah pacar adiknya.. Jauh sebelum menjadi pacar Indah, Seno udah jadi teman baik Parto. Begitupun dengan Beni. Mereka bertiga udah layak diberi julukan roda bajaj saking dekatnya, kemana-mana selalu bertiga.
"Aku juga enggak tahu La.. Gimana ntar aja,"
"Kalau Indah dan Seno pisahan, kamu jangan membenci Seno ya mas.. Jodoh bukan kita yang ngatur.. Mungkin aja Seno dan Indah dipertemukan hanya untuk mengukir kisah tanpa akhir bersama." Shela berusaha menenangkan hati Parto.
"Iya La.. Ini juga yang aku takutin dari awal saat Seno ngungkapin perasaannya ke Indah, ngajak Indah pacaran.. Kalau mereka bisa terus bersama, aku pasti ikut seneng tapi, jika endingnya pisahan... persahabatanku dan Seno pasti juga ikut renggang."
"Kenapa harus renggang? Tadi kan aku udah bilang mas.. jodoh bukan kita yang atur, jangan karena bubarnya Indah dan Seno kamu jadi jauhin Seno."
"Tapi siapa tahu setelah bertemu dan berbincang denganmu nanti, ibunya Seno bisa membuka hati untuk menerima Indah." Sambung Shela.
"Iya La.. semoga.."
Saat ini Shela sudah rapi dengan menggunakan baju merah yang membuat siapapun tak akan bosan untuk memandangnya.
"Ayo mas.." Shela mengagetkan Parto yang tengah melamun.
"Kamu cantik banget," Sesaat Parto langsung melupakan apapun itu yang membuat dia melamun tadi. Kecantikan Shela membuat dia terhipnotis.
__ADS_1
Shela hanya tersenyum menanggapi perkataan suaminya. Keduanya langsung berangkat menuju rumah ibunda Shela. Tanpa ada pembicaraan selama perjalanan. Keduanya diam. Diam dalam pikiran masing-masing.