Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Dilema


__ADS_3

Parto masih bisa mendengar suara knalpot motor Seno meski orangnya sudah jauh entah sampai mana. Seno memutuskan untuk pulang setelah berpamitan kepada kedua orangtuanya dan juga Indah.


Kamu kok gentle banget to Sen. Enggak nyangka aku lho, kamu yang biasanya paling enggak normal dari kita bertiga bisa merubah jadi keren kek tadi.


Emang Seno ngelakuin apa? Enggak lakuin apapun sih, hanya ngobrol biasa sama Bapak dan Emak ada dia juga di sana. Obrolan biasa aja itu seperti merubah penilaian Parto kepada Seno.


Parto kasih restu ke Seno? Secara lisan belum di ucapkan tapi, sepertinya hati mungil Parto tersentuh juga untuk menyalakan lampu hijau buat Seno.


Lelaki itu yang di pegang omongan dan janjinya. Waktu Seno tadi berjanji untuk tidak menyakiti hati Indah, jujur saja Parto tersentuh.


Bukan langsung berpelukan tentunya, untuk apa juga mereka lakukan hal itu. Seenggaknya, Parto bisa tenang karena akan ada Seno yang juga berdiri di garis terdepan untuk menjaga Indah.


Masa aku kalah sama Indah, anak ingusan itu aja ada yang mepetin. Apa yang salah dari aku cuba, meski aku enggak seganteng Seno dan Beni tapi kan aku juga enggak jelek-jelek amat.


Di hiasi jutaan bintang yang bertaburan di langit, malam yang se indah itu malah nampak suram bagi Parto. Parto masih duduk di teras rumahnya, pikirannya melayang jauh tentang bayangan Indah dan Seno.


Semakin di pikir semakin enggak karuan saja rasa hatinya. Parto putuskan untuk kembali masuk ke dalam rumah.


"Kamu kenapa To?" Tanya Bapak yang melihat perbedaan pada sikap Parto. Di banding anggota keluarga lain, Bapak adalah sosok yang jarang terekspos di sini. Ya karena Bapak sibuk dengan dunia persawahan dan ternak kambingnya.


"Kenapa gimana to Pak, aku malah bingung Bapak ini tanyanya kok gitu," Parto memilih duduk berhadapan dengan Bapak.

__ADS_1


"Kamu dari tadi diem, enggak kayak biasanya. Ada masalah apa To, apa lagi mikirin sesuatu?"


"Begini Pak, aku kok mau ke kota saja ya Pak, cari kerja di sana. Di sini kerjaan enggak nentu.. sering nganggurnya daripada kerjanya. Berasa jadi orang enggak berguna aja kalau terus-terusan seperti ini. Enggak ada kemajuannya."


Pak Suprapto tersenyum mendengar ucapan anak laki-lakinya.


"To, mau di manapun kamu bekerja itu sama saja. Yang penting tekun, rajin dan niatmu mantep pada satu tujuan itu, Bapak tanya tujuanmu apa kok pengen bekerja di kota?"


"Ya biar bisa kayak Seno Pak, mapan, punya tempat tinggal sendiri.. jadi kalau aku suka sama seseorang dan menikah nanti enggak nyusahin orangtua atau mertua karena masih tinggal bareng di satu atap"


"Bapak ndak larang kamu mau kerja dimanapun itu To, asal pekerjaan itu halal dan ndak rugiin orang lain. Tapi, saran Bapak lebih baik kamu tetap bekerja di desa. Sebenarnya di sinipun banyak pekerjaan yang sesuai bidangmu."


Bapak ini bilangnya enggak ngelarang aku ke kota tapi kok ngomongnya seperti itu. Ya sama aja itu ngerawehi (melarang) pak.


"Ya ndak gitu juga to To, kamu kok malah mikirin tentang kambing.. Kalau kamu kepengen punya rumah sendiri seperti Seno temenmu itu, kamu bisa merenovasi rumah Embahmu. Rumah itu kan sudah ndak ada yang nempatin, Bapak yakin tabunganmu juga cukup untuk memperbaiki rumah itu"


"Injih (Iya) Pak.. besok tak ke rumah Embah buat lihat apa aja yang harus di perbaiki. Pak, nuwunsewu (maaf) aku tak ke kamar dulu ya, rasanya kok udah sepet banget ini mata. Ngajak merem Pak"


Bapak hanya mengangguk mengiyakan perkataan Parto.


Berjalan menuju kamarnya, Parto berhenti karena melihat pintu kamar Indah yang terbuka. Di lihatnya Indah sudah terlelap di tidurnya, mengarungi alam mimpi yang pasti hanya Indah sendiri yang tahu.

__ADS_1


Ndah, waktu cepat sekali berlalu.. sampai aku sadar kita enggak pernah lagi bercanda berebut buah talok dari pohonnya (sejenis buah ceri kecil). Saling ngumpetin sendal di kandang kambing Bapak, atau hal kecil lain seperti saat kamu merengek mengadukanku ke Bapak atau Emak sepulang sekolah karena kecapean, dan aku enggak mau membawakan tasmu.


Parto menutup pintu kamar Indah, malam ini Parto benar-benar dilema. Tapi, berkat keberanian Seno yang terang-terangan meminta ijin kepadanya untuk mendekati Indah, dia jadi di berikan hidayah. Saat lelaki memantapkan hati untuk seorang wanita, lelaki itu haruslah mapan terlebih dahulu.


Kebutuhan sandang, pangan, papan, memang bisa di cukupi pasangan setelah menikah seiring berjalannya waktu tapi, akan lebih baik kalau ketiga hal tersebut sudah di persiapkan sejak awal. Jaman sekarang kalau hanya bermodal nekad saja maka netijen akan berlomba-lomba untuk mengghibah setiap saat.


Di kamarnya, Parto merebahkan diri di kasur yang enggak empuk-empuk amat itu. Meski begitu, tempat tidur itu adalah tempat ternyaman bagi Parto saat ini. Tempat melepaskan lelahnya setelah seharian mendorong si Ayam yang merajuk, dia keluarkan kertas kecil dari dalam saku celananya.


Dia belum sempat menyimpan nomer Ralina yang Seno berikan tadi sore,


Namanya siapa tadi ya? Aku kok lupa, Seno bilang Na Na siapa tadi ya.. Oalah Markonah. Aaih Markonah namamu aja susah banget aku hafalin..


Parto mengetik nama Markonah di daftar kontaknya. Masih dengan memegang hp, dia malah terdidur.. Tanpa sadar dia melakukan panggilan video kepada Ralina.


.


.


.


Astaghfirullah ini siapa malem-malem video call cuma keliatan lubang hidungnya. Apa ini nomer Mas Seno ya, tapi kok kelakuannya absurd begini.

__ADS_1



__ADS_2