Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Perdamaian dan Awal Peperangan!


__ADS_3

Seno mulai melangkahkan kaki di teras rumah Indah. Jantungnya berpacu lebih cepat seperti ingin loncat dari tempatnya. Dia merogoh hp yang diletakkan di kantong jaketnya.


Udah sampai sini masa mau mundur si Sen. Enggak guna banget jadi cowok.


Jerit batin Seno.


Dia masih ragu antara ingin menghubungi Indah, yang nomernya dia hafal di luar kepala atau menunggu saja di luar. Lah si Bambang, ngapain juga jauh-jauh ke rumah Indah, kalau niatnya hanya berdiam diri di depan rumah aja.


Seno memutuskan untuk menemui Indah. Berjalan mendekati pintu rumah, diketuknya pintu bercat putih itu.


"Assalamualaikum," Seno sedikit mundur dari tempat dia berdiri semula.


Pintu dibuka, nampak Indah di sana memakai kaos longgar dan celana pendek di atas lutut. Seno mengerjapkan matanya. Seakan menemukan sosok berbeda dari Indah. Indah terlihat makin aach dengan penampilan seperti itu. Biasanya Indah akan memakai babydoll atau celana panjang setiap kali mereka bertemu, baru sekarang Seno melihat Indah memakai celana pendek.


"Waalaikumsalam.. masuk Mas," Ucap Indah membuyarkan lamunan Seno. Lah emang Seno ngelamunin apa? Ya mbuh, tanya Seno aja. Berjalan mengikuti si empunya rumah, Seno tak henti-hentinya memandang Indahnya.


"Dek.. aku mau ngomong," Seno berucap setelah dipersilahkan duduk oleh Indah. Indah mengangguk, memberi waktu untuk Seno bicara.


"Dek.. kamu masih marah sama aku?" Seno melihat Indah hanya menggeleng. Kok sepertinya Indah males banget bicara. Apa mungkin lagi sariawan? atau bau mulut? entahlah...


"Aku minta maaf ya Dek, aku belum bisa buat kamu seneng saat sama aku. Aku malah ngasih kesedihan buat kamu, aku minta maaf..."


Seno menunduk. Dia bingung mau berkata apa. Bibirnya seakan kelu, ribuan kata yang Seno rangkai lenyap karena kebisuan Indah.


"Mas Seno enggak perlu minta maaf, aku yang egois dan selalu ingin dimengerti. Sebenarnya aku yang salah, aku enggak mau dengerin penjelasan Mas Seno dulu. Sikapku itu malah membuat kita sama-sama tersakiti. Aku kekanakan ya Mas?" Mendengar penuturan Indah membuat Seno langsung mendongakan kepala dan menatap Indah.


"Jadi kamu udah maafin aku Dek?" Seno akhirnya bisa tersenyum lega saat Indah mengangguk menjawab pertanyaan Seno.


Emak yang mendengar adanya percakapan di ruang tamu mengira Indah sedang mengobrol dengan Parto. Beliau memastikan pendengarannya dengan berjalan menuju ruang tamu.


"Lho Seno to, tak kiro Parto tadi. Oalah..."


Seno berdiri, berjalan mendekati emak dan mencium tangan emak Indah. Emak yang diperlakukan seperti itu menganggap biasa aja. Karena memang sedari dulu Seno sering melakukan hal itu. Hal itu apa? Mencabuti bulu ketek Pio? Hmmm ya mencium tangan emak tadi lho. Hiih.

__ADS_1


"Kelian ngobrol aja, emak enggak bisa nemenin. Mata emak ngantuk pol ini.." Emak berlalu pergi.


Seno kembali duduk, tapi saat akan berbicara... emak muncul lagi.


"Indah salin kui katokmu! Bocah wedok nompo dayoh kok koyo ora katokan. Copot saiki! Salin ndang!" ( Indah ganti itu celana mu! Anak cewek nerima tamu kok seperti enggak pake celana. Lepas sekarang! Ganti cepat! )


Mendengar teguran dari emak, Indah baru menyadari kalau saat ini dia memakai celana yang minim bahan, terlalu mengekspos paha mulusnya. Indah langsung mengambil bantal yang ada di kursi dan menuruti pahanya.


Seno hanya diam. Indah yang mendapat teguran dari emak tapi dirinya yang ikut salah tingkah.


Selagi Indah pergi ke kamar untuk mengganti bajunya, sebenarnya yang perlu di ganti itu adalah celananya. Seno ditemani emak ngobrol ngalor-ngidul. Emak terlihat akrab dengan Seno, mungkin karena Seno yang sudah lama menjadi teman Parto dan sering juga berkunjung ke rumah mereka.


Enggak bosen apa Mak disatroni Seno terus-terusan? Lain kali jangan kasih masuk ke rumah kalau pas main cuma bawa badan doang Mak. Suruh bawa minyak goreng biar ada manfaatnya itu si Seno! (Thor.. kamu waras? Sudahlah lupakan.)


Waktu menunjukkan pukul 21.39, sudah sangat malam untuk ukuran seseorang bertamu di rumah gadis. Seno memutuskan untuk pamit. Diantar Indah sampai halaman depan, Seno berpamitan dengan mengecup kening Indah. Indah sampai speechless.


Sambil mengusap rambut Indah, Seno berkata..


Indah tersipu malu. Mukanya langsung ngeblush. Seno selalu bisa membuat hati Indah terasa seperti pabrik kembang api. Wes mbuh rasane. (Udah enggak tahu rasanya.)


"Hati-hati di jalan Mas, udah malem.. jangan ngebut ya,"


Seno tersenyum mendengar kalimat perhatian yang terlontar dari bibir Indah.


"Tadinya mau nginep aja Dek, biar besok kita disuruh nikah hahaha" Candaan Seno membuat mata Indah melotot.


"Candaan Mas enggak lucu!"


"Ehem.. gitu aja manyun to Dek, ya kali aku nginep di sini? Belum juga tidur udah digorok sama kakak mu. Diseret keluar sama bapak mu, disunat lagi sama emak mu! Besoknya nama Seno tinggal kenangan. Tamat dek."


Indah malah tertawa mendengar candaan Seno. Dan malam itu mereka akhirnya dengan perdamaian. Eaaaa perdamaian.. perdamaian.. perdamaian.. perdamaian.. banyak yang cinta damai (icik kiwir) tapi perang semakin ramai.. bingung, bingung, ku memikirkan. (Othor obatnya abis gaess. gosah dipeduliin!).


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Shela menatap ke arah lelaki yang sekarang terlihat bersendau gurau dengan seorang perempuan. Matanya menyipit. Seakan ingin memfokuskan pandangannya.


Cowok semua sama. Bilang ingin buktiin nyatanya jelalatan sama cewek lain juga. Enggak bisa dipercaya, bisa-bisanya aku percaya sama orang model gitu. Shela... gunain logika mu, di dunia ini semua orang pamrih. Semua!


Merasa ada yang memperhatikan, Parto lelaki yang di lihat Shela sedang berbincang dengan Ralina melihat ke sekeliling arah. Seperti memindai target, mata Parto langsung mengunci satu titik. Shela.


"La.." Panggil Parto sambil berjalan mendekati Shela. Shela cuek. Dia diam saja, tetap meneruskan pekerjaannya mengangkat kardus-kardus catering pesanan Ralina untuk perjalanan ke Jogja hari ini.


"La.. kok diem aja, eh sini aku bantuin," Parto yang berniat membantu Shela mendapat pandangan sinis bin nyeremin dari pemilik mata indah itu. Tangan Parto ditepis Shela saat akan membantu mengangkat kardus kecil mungil itu.


"La.. kamu kenapa?" Tiga kali Parto memanggil dan bertanya kepada Shela tapi tidak mendapat respon yang baik dari Shela.


"Gosah tanya-tanya kenapa dan ada apa! Awas minggir, aku mau selesaiin kerjaanku!" Shela berucap dengan nada sengak. Pokoknya sangat terdengar tidak bersahabat.


Ini Shela kenapa lagi sih, astaghfirullah. Ucap Parto dalam hati.


"Mas Parto itu temennya tanya mau berangkat kapan? keburu siang lho ini!" Ralina memanggil Parto yang sekarang sedang galau dengan perubahan sikap Shela kepadanya.


"Ben.." Panggil Parto kepada Beni yang sekarang sedang meneguk air mineral. Beni berjalan ke arah Parto.


"Piye? Mangkat saiki?" (Gimana? berangkat sekarang?).


"Eh.. Dedek Lala.. Dedek mu jalan-jalan juga bareng Mamas Parto?" Beni teralihkan fokusnya saat melihat Shela yang sekarang sudah duduk manis di atas motor.


"Apa? Gosah sok akrab! Aku enggak kenal kamu, awas!!" Shela udah cosplay jadi reog ternyata.


"Ben.. kamu yang supiri Ralina ya, aku ada urusan yang lebih penting." Parto berucap sambil melihat ke arah Shela.


Shela menatap Parto sesaat. Tapi, langsung membuang muka ke arah lain. Enggak mau berlama-lama menatap mata lelaki itu.


"Lho lho lho.. kok ngene ceritane iki kepiye? Ngomong sendiri sana sama Tali tambang!" Beni jelas saja protes, niatnya hanya ingin ikut liburan malah disuruh jadi supir.


Shela yang malas melihat drama di depan matanya, membunyikan klakson agar Parto menyingkir dari jalannya.

__ADS_1


__ADS_2