
Indah meletakan hpnya yang tadi sempat dia pakai untuk menerima telepon. Nomer tidak dikenal memanggil, saat itu dia ragu akan mengangkatnya atau membiarkan saja. Karena nomer itu menelepon saat dia sedang melakukan ritual rutin siangnya, berbalas pesan dengan Mamas Seno nya.
Ya, karena merasa kepo dengan siapa yang menelepon.. akhirnya Indah menggeser tanda hijau di layar hpnya untuk menerima panggilan itu.
Di ujung sana terdengar suara perempuan berteriak memanggil nama Seno, pacarnya. Hmm ini siapa to? Pikir Indah.
Sangat jelas, dan Indah bisa mendengar apa yang perempuan itu dan pacarnya perdebatkan. Indah menautkan alisnya.
Ternyata Mas Seno udah lama naruh hati ke aku, Ya Allah...
Berucap dalam hati, setelah mendengar apa yang Seno dan perempuan di seberang sana bicarakan. Senyum merekah, hatinya seakan berflowers. Itulah yang Indah rasakan saat ini. Bahagia.
Sedang di tempat lain, Meisya seakan ingin merutuki dirinya sendiri karena perbuatan bodohnya. Sebelum kejadian tadi, kejadian dimana dia berteriak memanggil Seno dengan lantang, dan mengutarakan apa yang dia rasakan... Dia menghubungi nomer Indah. Dia bisa dapet nomer rivalnya itu sewaktu hp Seno ada di dia dulu untuk di servis. Masih inget kan kejadian hp Seno kegiles ban motor Meisya?
Tadinya Meisya pikir akan mudah merayu Seno, kenapa mikir gitu? Ya karena dia cantik, dia dewasa, dan pasti lebih wow dari pada saingannya yang menurutnya hanya ababil (abegeh labil) itu. Selain itu, dia beranggapan juteknya Seno ke dia karena sewaktu mereka bertemu selalu saja ada Indah yang menjadi satpam Seno. Pasti Seno akan lebih welcome kepadanya saat sedang sendiri seperti saat ini.
Rencana yang matang dia rancang sedemikian rupa agar terjadi perselisihan dan salah paham antara Seno dan Indah. Meisya sudah sangat yakin kalau nanti dirinya akan diterima. Itu akan menjadi momen patah hati paling nyesek yang Meisya ciptakan untuk Indah saat Seno menerima pernyataan cintanya.
Tapi, lihat apa yang terjadi sekarang? Dia dibuat malu bertubi-tubi karena ulahnya sendiri. Sudah ditolak iya, malu sama temen di pabrik pasti, dan yang paling parah... dia malah seperti menunjukan kekalahannya kepada Indah. Membuat Indah yang sejak tadi pasti mendengar ucapan Seno dan dirinya di sebelah sana serasa di atas hamparan bunga.
__ADS_1
Bodoh.. bodoh.. bodoh!!! Kenapa aku bisa sebodoh ini? Kenapa harus aku sendiri yang menangis?! Ini enggak adil! Sangat enggak adil! Harusnya cewek tengil itu yang sekarang menangisi kisah cintanya, kenapa mesti aku? Apa kurangnya aku dibanding cewek tengil itu? Jelas aku lebih segala-galanya! Aku enggak terima ini!!! Aku bakal balas sakit hati ini, berkali-kali lipat dari yang aku rasain. Jangan salahkan aku kalau rasa sayangku berubah jadi benci yang mendarah daging!!!
Dengan emosi yang menguasai hati, Meisya berjalan cepat menuju parkiran. Dia tidak peduli kalau sekarang masih jam kerja. Marah dan emosi menguasai hati dan pikirannya. Tanpa memperdulikan panggilan teman-temannya yang ada di sana, Meisya tetap melangkah pergi.
Apa itu tadi? Kenapa kesialan selalu saja menggelayuti ku? Lihat aku!!! Aku Meisya Indira, aku cantik, aku pintar, di usiaku sekarang karirku baik! Enggak ada yang salah dengan diriku kan??? Aku bukan pelawak yang bisa kelian tertawakan saat kemunculanku! Ini bukan akhir, jelas ini bukan akhir!! Aku enggak terima akhir seperti ini. Siapa yang buat aku sakit hati harus rasain apa yang aku rasain!
Berjalan seperti orang kesetanan, saat tiba di parkiran dia segera menaiki motornya.
Mau kemana sih Meis? Udah sih jangan bikin orang lain makin benci kamu, mending salam-salaman sama Indah, sama Shela juga. Cipika-cipiki kelian! Damai itu indah kawan! Bukankah begitu?
...----------------...
Mendapat pesan dari Indah yang mengajaknya bertemu, tanpa berpikir dua kali Seno langsung mengiyakan ajakan itu.
Saat tiba di sana, Seno di sambut dengan senyum manis gadisnya.
Berjalan mendekati Seno, Indah seperti merasakan energi cinta yang kuat saat melihat kehadiran Seno. Tanpa sadar mereka sudah saling berhadapan.
"Tumben..." Kata Seno menoel hidung Indah.
__ADS_1
"Mas,,, boleh minta peluk?" Ucap Indah menundukkan wajahnya.
"Eh? Apa? Kenapa dek? Aku ada salah? Jangan bilang abis ini kamu mau ninggalin aku...? Bagian mana lagi di diri aku yang buat kamu enggak nyaman dek? Aku bakal..."
Ucapan Seno terhenti. Dia merasakan tubuhnya ditarik oleh medan magnet tinggi. Membuat dia mendekat dan kini gadisnya berinisiatif memeluk dirinya lebih dahulu.
Ada apa ini? Kenapa Indahku jadi aneh begini?
Seenggaknya itulah yang dipikirkan Seno.
"Mas Seno kelamaan durasi ngomongnya, tinggal meluk aja lama." Sambil berniat melepaskan pelukannya. Tapi, Seno malah mengeratkan pelukan itu. Membuat Indah yang tadi malu jadi makin salah tingkah karena perlakuan Seno.
"Jangan bilang kamu mau mutusin aku... aku enggak mau dek, aku enggak bisa..."
Seperti tercekat saat Seno berucap demikian.
"Mas... siapa yang mau mutusin Mas Seno? Aku ndak ada pikiran ke arah situ, Mas kok mikir jauh banget?"
Dilepas pelukan itu. Ditatapnya lekat-lekat gadis yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"Terus kenapa dek? Tiba-tiba ngajak ketemuan di sini dan minta peluk juga... ini bukan kamu banget. Aku takut kamu bakal bilang 'ini terakhir kali kita ketemu'."
Indah tersenyum. Membuat Seno semakin gila dibuatnya. Sebenarnya ada apa? . Pikir Seno.