Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Boleh Pulang


__ADS_3

Empat hari Parto dirawat di klinik, hari ini dia sudah diperbolehkan pulang. Dengan syarat harus tetap kontrol kondisinya karena benturan di kepala membuatnya sering merasa pusing.


Ada cerita lucu waktu Parto masih dirawat di sana, rombongan emak-emak datang menjenguk dengan menyewa truk sebagai alat transportasi mereka. Petugas klinik melarang adanya kerumunan orang, karena selain mengganggu ketenangan pasien yang beristirahat, pandemi juga menjadi alasan mereka dilarang masuk. Tapi, bukan emak-emak namanya kalau kalah adu debat dengan mahkluk lain.


Dengan memaksa rombongan emak-emak yang berjumlah lebih dari dua puluh orang, berhasil masuk ke ruang rawat Parto untuk membesuknya.


Ruangan yang memang cukup untuk pasien beristirahat menjadi layaknya pasar. Meski berusaha memelankan suara, tetap saja mereka yang berjumlah banyak menimbulkan kegaduhan juga.


"To.. kamu sombong saiki (sekarang). Mentang-mentang udah mau nikah disapa di jalan aja diem! Nah to jatuh kan.. itu kualat namanya To. Makanya kalau aku nyapa itu disautin (dijawab), kan enggak kejadian gini jadinya!" Eleh sok peramal mbak Sri deh.


"Aduh mbak Sri ini kan manggilnya di jalan ya bener to kalo Parto diem aja, bisa aja Parto enggak denger. Beda cerita kalau ketemu di warungmu tapi Parto cuek.. nah itu baru sombong namanya," Salah satu tetangga Parto membela Parto yang hanya tersenyum aja. Dia sampai bingung mau menanggapi yang mana.


Emak-emak pada ribut sendiri, banyak berkomentar. Dari mengomentari klinik yang Parto tempati saat ini, mulai dindingnya yang kusam lah, kamar mandi kejauhan, perawat di sini yang galak-galak, tanya ada fasilitas apa aja di klinik itu, menanyakan penyebab Parto jatuh dari motor, sampai kepo ke masalah Shela. Udah melenceng jauh dengan niat awal mereka ingin menjenguk si sakit ya?!


"Mbak Sri nanti kalau pulang dari sini mampir ke pasar ya, bilang sama supirnya!" Perintah salah satu tetangga Parto yang othor sendiri enggak tahu siapa namanya.


"Lah.. kenapa aku? Kan bu Darmi bisa bilang sendiri," Mbak Sri sibuk kipas-kipas dengan menggunakan kardus air mineral yang dia sobek tadi. Panas men!!

__ADS_1


"Kan mbak Sri yang di depan! Ya kalau aku yang di depan bareng supirnya bisa bilang sama supirnya mbak!" Nyolot gaess.


"Nanti tukeran tempat aja, aku juga eneg duduk di deket supir itu. Udah orangnya jorok, enggak rapi, yang paling gilani (jyjyc) kaosnya itu bolong pas di keteknya!! Aku kok pengen muntah tadi liat alas Roban di pindah keteknya!!" Sebagian emak-emak tertawa.


"Lagian mbak Sri kok ya sempet-sempetnya lihat ke sana! Moh (enggak mau) aku kalau di depan malah duduk bareng orang kayak gitu! Mending di belakang aja ya bu-ibuu.. adeem!"


Tak doain pulang dari sini nanti ujan deres!! Batin mbak Sri merasa dijolomi oleh emak-emak lain.


Ya begitulah, emak-emak di desa saat mau menjenguk tetangganya yang sakit memanfaatkan transportasi tak lazim yang sebenarnya diperuntukan untuk mengangkut barang.


Dan sekarang ini Parto bersiap untuk pulang dari tempat yang membuatnya sembuh dari kecelakaan yang menimpanya. Dia enggak bilang pada siapapun kalau dirinya jadi korban tabrak lari. Karena pasti akan berbuntut panjang.


"Enggak apa-apa mak, cuma ya masih ngilu sedikit." Parto tersenyum saat mendapat perhatian dari emak.


"Ya wes.. Ayo lah pulang! Ini kita mau pulang dari klinik kok bawaannya kayak orang habis piknik. Segala bantal, selimut, di bawa-bawa!" Bapak yang kerepotan karena barang bawaannya dirasa paling tidak manusiawi dari pada yang lain. Istrinya cuma bawa tas kecil, berisi obat-obatan Parto dan entah apa lagi yang ada di dalam sana. Anak perempuannya hanya membawa boneka agak besar yang baru dibelikan Seno semalam. Dan anak lelakinya hanya tersenyum saja, dia mau bantu bawa ini itu dilarang emaknya. Alhasil bapak lah di sini yang paling dijolomi.


"Masih mending kemarin emak enggak nyuruh bawa kasur lantai ke sini pak, bisa makin repot nanti bapak bawanya." Indah tersenyum. Dia lalu mengambil satu tas yang isinya cemilan yang masih banyak belum dimakan juga dari orang-orang yang menjenguk Parto.

__ADS_1


"Sini pak, bantalnya biar aku bawain. Nanti nubruk orang lho kalau bapak bawa bantalnya nutupin muka begitu." Parto mencoba membantu bapaknya yang kerepotan itu.


"Udah To, biarin aja bapakmu yang bawa! Kamu jangan ngeyel, bapakmu itu udah biasa bawa barang berat dari dulu waktu masih muda. Cuma bawa beberapa bantal, selimut, sama dua tas aja enggak kerasa, ya to pak?" Emak melirik bapak yang hampir nabrak pintu keluar klinik tersebut.


"Iya mak, barang berat yang sering bapak bawa dari dulu ya emak ini. Sering minta gendong! Kalau cuma bantal sama selimut ini sih enggak ada apa-apanya, berat emak berkali lipat dari ini aja bapak kuat hahaha!" Parto dan Indah saling pandang. Indah menepuk jidatnya. Dan Parto hanya tersenyum aja saat tahu bapak mendapat cubitan maut dari emak.


Mereka pulang dengan travel pak Agus. Pak Agus sendiri yang menyupiri satu keluarga itu. Saat Parto ingin menggantikan beliau, pak Agus melarangnya.


"To.. kamu tahu Ralina mau nikah?" Tanya pak Agus di tengah perjalanan, hanya mencari obrolan ringan agar suasana enggak sepi banget di dalam travel.


"Tahu pak, Beni yang ngasih tahu kemarin." Ucap Parto sedikit kliyengan dengan cara pak Agus membawa mobil. Suka gas rem gas rem bikin mobil travel yang melaju di jalan yang memang enggak rata makin bergoyang manja.


"Tadinya aku mau jodohin Ralina sama kamu To, tapi ya namanya jodoh enggak ada yang tahu. Kamu ternyata udah punya pacar, dan Ralina sendiri langsung menyetujui saat sales telur asin meminangnya!"


"Sales telur asin?" Tanya Indah di jok belakang.


"Iya Ndah, kan Ralina kerjanya di minimarket, sering ketemu sama banyak sales nah salah satunya ya si Andi itu! Segala jenis telur dia tawarkan ke toko-toko. Itu aja yang aku tahu tentang calon suami Ralina." Tutur pak Agus.

__ADS_1


Akhirnya mereka sampai di rumah pak Suprapto, bapaknya Parto. Turun dari mobil, emak langsung berjalan cepat masuk ke dalam rumah. Seperti emak mabuk kendaraan karena naik mobil pak Agus.


Setelah membongkar semua barang bawaan dari klinik, pak Agus pamit pulang. Parto dan bapak sudah menahan pak Agus untuk istirahat dulu, tapi beliau beralasan kalau Eva, anak bungsunya terus mencarinya sedari tadi. Ya udah, ucapkan terimakasih dan sayounara untuk pak Agus aja.


__ADS_2