
"Mela... Kamu ngapain jalan malem-malem sendirian gini? Dan.. Astaghfirullah kenapa enggak pake alas kaki?"
Perempuan yang Beni lihat adalah Mela, mantan pacarnya yang sekarang sedang mengandung anak dari suaminya yang bernama Jamal.
Seperti orang kebingungan, Mela enggak menjawab.. dia terus saja berjalan. Tatapan matanya sayu, nampak dia habis menangis. Beni merasa kasihan dengan kondisi Mela saat ini. Dengan perut yang membesar.. iya karena lagi hamil, di sepertiga malam menjelang subuh tanpa menggunakan alas kaki dia berjalan menyusuri jalan raya.
"Mel.. Mela," Panggil Beni lagi.
Mela menoleh ke arah Beni, sepertinya dia mulai sadar akan kebingungan yang dia alami. Dia merasakan kakinya nyeri. Sakit di betis dan telapak kakinya.
"Mas Beni..." Suara parau keluar dari mulut Mela. Dia terhuyung-huyung mencari penopang saat kakinya dirasa sudah sangat letih untuk berdiri.
Dengan sigap Beni menangkap tubuh Mela, rasa kasihan menggelayuti hati Beni saat ini.
"Kamu mau kemana? Aku anterin."
"Pulang.. aku mau pulang.. aku enggak betah sama dia.."
Tanpa banyak bertanya, Beni membantu Mela naik di atas motornya. Mengantar Mela ke rumah, arah yang Mela ingin tuju.
Terdengar sesekali isak tangis dari jok belakang, bukan kuntilanak atau dedemit lainnya gaess.. itu Mela yang sedang meratapi nasibnya. Beni tentu saja mendengar hal itu, tapi dia enggak mau banyak bertanya dulu. Fokusnya hanya mengantar Mela sampai ke rumah, itu saja.
Setelah sampai di rumah, Mela turun dari motor Beni. Tertatih-tatih dia berjalan menuju pintu rumahnya, Beni menatap dengan iba. Bayangkan saja perempuan hamil di subuh hari begini berada di luar rumah, kemana suaminya? Apa yang terjadi dengan pernikahan yang dulu di awal kisahnya sangat Mela banggakan?
__ADS_1
Pintu rumah Mela terbuka setelah beberapa kali Mela mengetuknya, Beni ada di samping Mela berjaga-jaga kalau mantan kekasihnya itu nanti ambruk karena kelelahan. Bukan tanpa alasan Beni melakukan hal itu, karena dia melihat Mela sangat pucat saat ini.
Ibu Mela terlihat terkejut dengan kondisi putrinya yang datang berkunjung di waktu subuh, lebih terkejut saat melihat Beni yang mengantarkan anaknya pulang, bukan Jamal menantunya.
Mela berhambur ke pelukan ibunya, menangis sejadi-jadinya, seakan ingin membagi beban dan sesak yang dia rasakan. Dengan kasih sayang ibu Mela mengusap punggung putrinya. Beni hanya diam. Iya mau ngapain lagi selain diam, enggak mungkin dia ikutan ngusap punggung Mela juga seperti yang ibu Mela lakukan.
Ayah Mela keluar dari dalam kamar, dengan mata tajam dia menatap Beni. Berbagai pikiran buruk tengah merajai benak ayah Mela. Beliau sejak awal memang tidak menyukai Beni, entah apa alasannya. Yang pasti saat ini ayah Mela terlihat ingin mengeluarkan bola matanya saat memandang Beni. Santuy om jangan emosi.. ati-ati tensi naik!
"Mel.. cerita ada apa ini sebenarnya?" Ucap ibu Mela setelah memberi segelas teh hangat untuk anaknya. Beni masih ada di sana, diantara keluarga kecil tersebut. Ibu Mela melarang Beni beranjak dari kediaman mereka. Beliau ingin tahu bagaimana bisa putrinya bisa pulang diantar Beni, beliau menunggu penjelasan dari yang bersangkutan.
"Buk.. mas Jamal selingkuh buk! Dia malah nuduh anak ini bukan anak mas Jamal, sakit hati Mela buk, mamanya mas Jamal juga sering marahin Mela, Mela di sana enggak betah buk!"
Mela menangis. Dia seperti malu saat akan melanjutkan ceritanya, karena di sana ada Beni yang juga pasti ikut mendengar penuturannya.
"Mela mengandung saat ini udah usia delapan bulan.... tapi, tapi ini memang anak mas Jamal buk... Mela enggak lakuin itu dengan orang lain..."
Mela menunduk. Dia tidak berani menatap mata ibu, ayah apalagi Beni.
"Ya Allah....." Ibu Mela syok. Beliau memegang kepalanya. Terasa masalah ini begitu menghantam pikirannya.
Ayah Mela pun ikut merasakan apa yang istrinya rasakan, bagaimanapun dia adalah seorang ayah yang pasti enggak terima saat anaknya diperlakukan enggak baik oleh orang lain. Siapapun itu.
Usia pernikahan Mela saat ini baru menginjak lima bulan, itupun belum genap. Tapi, mendengar penuturan Mela yang mengatakan bahwa usia kandungannya udah delapan bulan udah bisa ditebak kalau Mela dan Jamal melakukan unboxing sebelum waktunya. Tapi, herannya kenapa Jamal enggak mengakui hasil kerja kerasnya sendiri?
__ADS_1
Meski enggak suka tapi, ayah Mela tetap menjaga perilaku agar beliau enggak menerkam Beni, saat Beni ditanya oleh beliau bagaimana bisa dia mengantar Mela sampe rumah. Dengan penjelasan yang apa adanya, Beni mengungkapkan kejadian yang sesungguhnya. Tanpa dilebihkan atau mengurangi bagian manapun.
Setelah merasa kehadirannya enggak diperlukan lagi di sana, Beni pamit pulang. Mela menatap punggung Beni dibarengi rasa bersalah, menyesal, dan kesedihan. Hal itu membuat Mela pingsan.
Tapi, saat kejadian pingsannya Mela, Beni udah jauh meninggalkan rumah keluarga kecil tersebut.
Siang harinya, masih dengan pikiran kacau karena Wanda dan ditambah ingatannya tentang masalah Mela membuat Beni enggak fokus saat bersama dengan kedua temannya. Dia masih bungkam saat ditanyai Seno kemana dia pergi semalam.
Seperti emak-emak yang suka ngerumpi Parto dan Seno memilih ghibah Beni di depan layar. Seno menceritakan kalau semalem adalah pertemuan terakhir Beni dan Wanda, karena setelah malam itu mereka resmi pisahan.
"Ati Beni ini kok kuat banget ya, aku yakin dia titisan iron man! Meski bolak-balik, jatuh bangun karena gagal sama kisah cintanya, dia masih baik-baik aja." Tukas Parto.
"Baik-baik aja itukan kelihatannya To, aslinya kayak apa kita enggak tahu. Tu lihat.. dari tadi dia kek nelangsa banget.. diem mulu,"
"Apa lho kelian ini? Aku enggak budek sampai kelian ghibah aku di depanku." Beni memprotes kegiatan ngerumpi yang dilakukan Parto dan Seno.
"Ben.. kalau misal Wanda enggak jadi ke kota, dan tahu-tahu ada di sini buat kamu, kamu mau balikan sama dia?" Pertanyaan Parto hampir sama dengan pertanyaan Seno malam kemarin.
Beni menggeleng.
"Aku maju wes kadung loru, arep mundur atiku rasane ajur. (aku maju udah terlanjur sakit, mau mundur hatiku rasanya hancur.) Kalau aku nekat nerusin hubungan ini, orang tua Wanda pasti minta aku buat serius dengan Wanda. Bukan aku enggak mau, aku enggak sepengecut itu.. aku juga ingin hubungan kami berlanjut ke arah yang lebih serius. Tapi, aku enggak mau melangkahi mbak Lulu. Kesian mbak Lulu, untuk saat ini pacar aja dia belum punya.." Jelas Beni panjang lebar.
"Iya, kesian mbak Lulu belum punya pacar... lha adiknya.. hampir gadis satu kecamatan udah jadi mantannya."
__ADS_1
Celotehan Seno malah membuat Parto tertawa. Beni sedikit menyunggingkan senyum karena perkataan temannya itu. Seenggaknya Beni sedikit melupakan masalahnya dengan Wanda maupun info yang dia tahu tentang Mela saat ini.