Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Keseriusan Parto!


__ADS_3

Shela turun dari motornya dan langsung menampar pipi Meisya dengan keras. Seakan enggak peduli kalau dia sedang berada di jalan. Parto yang melihat kejadian yang begitu cepat itu langsung menarik Shela kebelakang tubuhnya saat Meisya akan membalas tamparan Shela.


"Sebuah tamparan aja enggak cukup buat mengganti jerih payah ibuku! Aku kira kamu cuma cewek gila yang kurang kerjaan tapi aku salah! Ternyata kamu adalah cewek abnormal yang enggak punya empati sama sekali! Ibuku semalaman enggak tidur untuk membuat pesanan kue-kue itu! Sini kamu biar aku patahin tanganmu!" Shela kembali ingin menghajar Meisya tapi, Parto menahannya. Dia memeluk Shela yang mulai kehilangan kontrol dirinya sendiri.


"Kamu pergi aja, kalau kamu tetap di sini aku enggak yakin bisa nahan cewekku untuk enggak hajar kamu!" Tatapan mata Parto yang sinis membuat Meisya agak gentar.


"To jangan kasih dia pergi! Kamu belain dia? To.. lepasin, heh kamu.. awas aja kalau sampai aku ketemu kamu lagi, aku pastikan hidungmu bakal pindah ke jidat!"


Parto berusaha menenangkan Shela yang napasnya mulai memburu. Seseorang yang kesulitan mengendalikan emosi akan bernafas ngos-ngosan seperti orang habis maraton.


"La.. udah La.. tenangin dirimu," Setelah Parto melihat Meisya sudah pergi menjauh, dan menyisakan suara motor saja, Parto akhirnya melepaskan pelukannya pada tubuh mungil Shela.


"Kamu kenapa biarin dia pergi To? dia enggak tahu gimana susahnya ibu buat kue ini, bisa-bisanya dia lempar kue ibuku ke tanah kayak gini!" Shela berjongkok melihat kondisi kue ibunya yang sudah tak berbentuk lagi.

__ADS_1


"Nanti aku ganti kue ibu itu, aku pesen lagi ya.. jangan sedih," Parto berusaha menghibur Shela.


"Sejak ayahku pergi, aku dan ibu berusaha berdiri dari keterpurukan. Kamu tahu To, dulu aku sekolah sambil jualan.. ibu keliling menjajakan jualan keliling desa. Kami harus melewati masa itu, saat orang lain hanya menawar tanpa membeli dagangan, kadang ada tega berhutang pada pedagang kecil keliling macam kami, ada yang sekedar ingin makan gratis dengan dalih ingin icip kue yang dijual ibu." Shela menghela napas, rasanya paru-parunya seperti kosong tanpa asupan oksigen.. sesak banget saat mengingat masa lalu itu.


"Saat orang lain sangat senang karena dagangan ibu yang enggak habis dan dibagi-bagikan pada tetangga.. aku yang paling muak melihat muka munafik mereka, yang bilang 'semoga besok laris ya.. jadi enggak enak kalau tiap hari dapet sisa dagangannya!'. Padahal aku tahu, mereka bersorak gembira dalam hati masing-masing. Kadang aku berdoa semoga saat makan kue ibu tanpa bayar, mereka keselek dan di samperin malaikat Izrail!"


Tanpa mau menyela omongan Shela, Parto hanya mengusap punggung Shela beberapa kali.


"Kamu tahu.. aku paling benci kata pergi, berpisah, dan meninggalkan. Aku benci perpisahan. Aku benci semua hal itu.. yang membuat hatiku makin sakit kalau mengingatnya," Enggak ada tangisan, hanya suara Shela sedikit bergetar di sini. Dia sedang menahan emosinya, dia tidak mau rasa sesak itu menyiksa dirinya.


"La.. boleh aku ngomong sesuatu?" pada akhirnya Parto bersuara. Shela enggak menjawab, hanya memandang ke arah Parto.


"Aku enggak akan ninggalin kamu! Aku janji, disaksiin malaikat di kanan dan kiriku.. aku berkata dengan penuh kesadaran, aku enggak akan ninggalin kamu!"

__ADS_1


Shela masih bungkam. Shela ini bukan tipe orang yang gampang percaya bualan, siapapun bisa mengatakan hal yang Parto ucapkan tadi. Tapi, Shela hanya butuh pembuktian..


Ayahnya juga dulu berjanji akan selalu setia mendampingi ibunya sampai tua dan hanya maut yang memisahkan mereka. Tapi apa? Enggak perlu maut yang datang diantara ayah dan ibunya.. toh akhirnya mereka berpisah juga.


"Buktiin aja!" Kata Shela singkat. Parto mengangguk mantap. Seperti sedang membulatkan tekad. Tekad untuk selalu ada buat Shela. Menyegel nama Shela di hatinya dan tidak membiarkan segelan itu terbuka.


"La.. kita ke rumahku dulu mau?" Tanya Parto kepada Shela.


"Buat apa? kan tadinya aku mau ke sana buat anter kue kamu tapi, kue itu udah rusak.. udah kotor, enggak bisa di makan.."


Parto mengulur tangannya untuk mengajak Shela berdiri, Shela menerima uluran tangan Parto.


"Untuk bilang kepada orang tuaku kalau kamu adalah calon istriku!"

__ADS_1


__ADS_2