Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Tamu Tak Diundang


__ADS_3

Shela pamit untuk pulang. Dia enggak mau membuat ibunya khawatir, Parto yang ingin mengantar Shela sampai rumah dilarang olehnya, Shela ingin saat berkunjung ke rumahnya nanti bukan hanya Parto seorang diri. Tapi, dia datang bersama kedua orang tuanya.


"Toooooooo... gila kamu ya?! Kamu pakai pelet apa To, kasih tahu aku lah! Asyem banget!!" Teriak Beni yang memekakan telinga.


"Apa to Ben berisik banget?!" Parto mengeluarkan uang dua puluh ribu dan membayar minuman yang tadi Shela minum sebelum meninggalkan tempat mbok Yun.


"Kok bisa Shela mau sama kamu, serius ya To, aku mikirnya Shela bakal mutusin kamu tadi."


Masih enggak percaya dengan apa yang baru saja didengar dan dilihatnya sendiri.


"Kan dulu aku pernah bilang, suatu saat aku lho orang yang paling akhir tertawa. Oda usah kakean polah Ben, aku sangger sat-set ngono. Aku balik disik yo" (Enggak perlu banyak tingkah Ben, aku asal sat-set gitu. Aku pulang dulu ya.)


Beni memandang kagum saat ini pada Parto. Benar juga, dulu Parto pernah berucap bahwa dialah orang yang akan tertawa paling akhir dengan kisah cinta diantara mereka bertiga, dan tanpa banyak drama Parto bisa membuktikan hal itu. Dari mereka bertiga, Parto yang gerakannya tak terbaca, tahu-tahu bisa macarin cewek sejutek nini kunti. Dan sekarang malah cewek kunti itu sendiri yang minta dilamar oleh Parto. Benar-benar wow banget.


"Nah Ben.. Parto malah udah nemuin tulang rusuknya kamu kapan?" Pertanyaan dari mbok Yuni membuyarkan lamunan Beni.


Iya ya, kalau dipikir-pikir bukannya Beni yang merasa paling oke dari mereka bertiga, lha tapi kok malah dibikin paling mengsad di sini. Itulah kehebatan jempol othor wahai sodaraku sebangsa setanah air.


"Aku santai mbok. Lagian mau nyeriusin siapa pacar aja ndak punya," Jawab Beni jujur.


"Kamu kan yang paling laku dari dua temenmu itu Ben, kok mendadak ndak punya stok cewek iku kepiye?" Sambil membereskan meja serta mengambil dua gelas es teh yang tadi diminum sepasang kekasih yang telah meninggalkan warungnya, mbok Yuni mulai kepo dengan perjalanan asmara Beni.


"Ya gitu deh mbok." Beni mengambil rokok yang ada di meja, menyulutkan api ke ujung batang rokok itu. Setelah dia hirup dalam-dalam, dia hembuskan asapnya ke udara. Mantaf bro.


...----------------...

__ADS_1


Sampai di rumah, Shela melihat seseorang yang sama sekali tidak ingin dia lihat bahkan dalam mimpinya sekalipun. Sedang duduk di ruang tamu dengan santai, menikmati suguhan teh hangat yang Shela lihat ada di depan tamu itu.


"Assalamualaikum buk," Shela mencium tangan ibunya yang tengah duduk bersama dengan tamu tadi.


"Waalaikumsalam, uwes nduk?" Ibu tersenyum hangat untuk Shela.


"Sampun buk."


"Dia ngapain ke sini buk?" Shela memandang sinis ke arah tamu yang mungkin kedatangannya tidak diundang itu.


"Sopan lah sedikit dengan ku! Bagaimanapun aku istri ayahmu, aku ibu mu juga kan?!" Tutur perempuan itu sambil duduk menyilangkan kakinya.


"Ibuku cuma satu! Dan kamu, sampai kapanpun enggak pernah ku anggap ibuku! Untuk apa ke sini? Minta sumbangan? Tak tahu malu!" Enggak ada basa-basi. Shela begitu membeci wanita di hadapannya ini. Yang entah alasan apa yang membawanya ke sini menemui ibunya.


"Hei.. sikap macam apa itu? Kamu sama sekali enggak punya sopan santun! Enggak bisa menghormati orang yang lebih tua, tapi ya udah sewajarnya kalau sikapmu seliar itu. Bisa dilihat bagaimana ibumu enggak pecus didik kamu!!" Seakan sedang memancing emosi, wanita tadi terus saja nyerocos.


Shela yang kembali dari dapur datang dengan membawa satu ember hitam air dan gayung yang dia taruh di meja. Makin murka lah si tamu yang di perlakukan seperti sapi ini.


"Air itu lebih cocok untuk kamu minum. Dan, terserah mau ngomong apa tentang aku atau ibuku, karena kami enggak hidup dari belas kasihan mu!"


Ibu mengusap punggung anak gadisnya, seolah menenangkan putrinya itu agar tidak tersulut emosi.


"Alah.. udah cukup dramanya! Sebenarnya aku juga malas ke sini! Panas, gerah, enggak ada AC, apalagi udara di sini udah tercemar karena aku satu ruangan sama kelian ini. Aku ke sini cuma mau ngasih tahu.. bapakmu itu lagi sakit, butuh biaya banyak! Aku sama anakku udah capek ngurusin dia, habis-habisan uang kami yang keluar buat biaya pengobatannya! Jadi aku ke sini buat minta uang untuk nerusin berobatnya dia!" Ketus sekali.


Shela tertawa, meski tawanya terdengar sangat dipaksakan.

__ADS_1


"Lucu sekali, kamu ke sini cuma mau ngemis rupanya! Benar kan tebakanku!"


"Nduk.." Ibu menggeleng pelan. Seakan memberi isyarat agar tidak ikut gila seperti wanita yang masih santai duduk dengan menyilangkan kakinya itu. Sesekali wanita itu terlihat mengeluarkan dan mengibaskan kipas lipatnya yang dia simpan di dalam tas.


"Buk.. biar Shela aja yang bicara sama wanita jadi-jadian seperti ini. Enggak perlu sopan santun buk, karena jenis manusia seperti ini hanya mudeng kalau di maki-maki."


Mendengar kalimat yang Shela ucapkan, membuat wanita itu berdiri murka. Yang benar saja, dia dikata jadi-jadian! Padahal kan iya, eh.


"Seperti ini caramu mendidik anakmu Benar-benar menjadi gadis liar!"


"Jangan pernah kamu menghina ibuku! Ibuku lebih segala-galanya daripada kamu. Bahkan aku enggak rela jika ibuku di bandingkan dengan mu!! Aku liar? Yang penting bukan pelakor seperti kamu! pahami lagi ucapanku! Pe-la-kor!" Dengan ejaan yang dibuat sedetail mungkin membuat wanita yang sebut saja namanya tante Rodiyah ini geram.


Tapi, dia masih menahan emosinya meski uap panas emosi itu udah ada di ubun-ubun. Membuat kepulan asap di telinga dan kepalanya kalau ini film animasi.


"Terserah saja! Mau bilang apapun, nyatanya bapakmu sekarang butuh biaya berobat buat nyambung nyawanya! Kalau kelian enggak mau ngasih duit, mending ku antar aja itu bapakmu ke sini! Rawat dia, udah sakit-sakitan, menyusahkan, ambil saja bapakmu lagi! Urus dia, kamu kan anaknya! Tunjukan baktimu juga sama dia!" Masih dengan kipas-kipas manjah tante Rodiyah berucap seakan tanpa dosa.


"Buk.. ibuk lihat, orang seperti ini yang ayah pilih dan ninggalin kita buk! Mungkin ini semua karma buat ayah buk! Dia dulu menyia-nyiakan kita, sekarang.. orang yang dia pilih dan dijadikan istri malah balik menelantarkan dia. Ini adil sekali buk!" Shela sedang menahan air matanya agar tidak keluar. Tapi suara itu bergetar, menandakan hatinya sangat sakit saat ini.


"La.. enggak boleh bilang gitu nduk," Ibu kembali mengusap punggung anaknya.


"Ya udah kalau kelian enggak mau ngasih duit! Aku cuma ngasih tahu itu aja, enggak betah lama-lama di tempat panas seperti ini! Tunggu saja bapakmu ke sini, di antar supir travel!"


Melangkah keluar rumah, tante Rodiyah enggak malu melenggang seperti itu.


"Iya panas orang di kanan dan kirimu bukan berdiri malaikat tapi setan dan demit!" Ucap Shela membanting pintu.

__ADS_1


__ADS_2