Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Masih Suasana Menghappy


__ADS_3

Shela keluar dari kamar untuk mandi dan berganti baju, dia bukan perempuan sepemalas itu gaess. Boleh bermanja-manja tapi ya lihat situasi kondisi juga, perut yang lapar enggak akan kenyang hanya dengan berbaring rebahan aja.


"Mas.. mau makan nasi goreng?" Selesai mandi Shela menggulung rambutnya ke atas dengan handuk dan dia menghampiri suaminya. Parto sedang membetulkan lampu depan rumah yang mati langsung turun dari tangga melihat istrinya dengan penampilan seperti itu. Kaos kegedean dan celana jins pendek di atas lutut, dengan rambut tergulung handuk membuat Shela makin seksi.


"Huum.. kamu kok manis banget sih La," Parto menoel dagu istrinya. Shela hanya tersenyum.


"Tunggu bentar ya, aku buatin dulu. Udah di ganti lampunya?" Shela melihat ke atas, ke arah lampu yang tadi dipasang suaminya.


Parto mengangguk. Saat Shela akan masuk ke dalam rumah kembali, Parto memeluk tubuh Shela dari belakang, menghirup aroma tubuh istrinya dari leher belakang. Membuat Shela meloloskan suara termerdunya.


"Lepasin mas.. Aku laper lho ini,"


"Beli aja ya, kamu enggak usah masak." Parto memberi option.


"Enggak ah.. aku lebih suka masak sendiri, lepasin nanti ada yang lihat mas.." Meski mulutnya minta untuk dilepaskan dari dekapan Parto tapi, tangannya malah ikut menggenggam tangan Parto yang ada di perutnya.


"Huuft.. kamu bisa bikin aku gila dengan pakaian seperti ini, malam aja pakainya ya La.."


"Malam? Kalau malam aku lebih suka enggak pakai baju mas," Shela berhasil melepaskan diri dari pelukan suaminya. Tertawa puas karena ucapannya tadi berhasil membuat Parto tertegun. Parto sampai mengingat kembali malam panas antara mereka berdua dua hari belakangan ini.


"Mas.. nanti anterin aku ke rumah ibu ya," Ucap Shela setelah mereka berdua selesai makan.


"Iya. Ke sana sekarang?" Parto meletakan piring ke rak yang selesai Shela cuci.


"Enggak nanti aja. Sorean dikit, aku mau tidur dulu.. capek mas,"


"Mau aku temenin?" Parto menawarkan diri.


"Kalau kamu nemenin aku tidur ya capeknya malah dobel mas, tapi kalau kamu ngantuk ya tidur aja.."

__ADS_1


"Enggak deh. Kamu aja, aku buka bengkel dulu ya," Shela mengangguk sambil berjalan memasuki kamar mereka.


Parto memperhatikan istrinya dari arah belakang saat istrinya itu melenggang meninggalkan dia yang masih ada di dapur, dia merasa sangat beruntung bisa mendapatkan gadis secantik dan sangat pengertian seperti Shela. Meski dia bukan lelaki tajir melintir berdasi, dengan tunggangan Lamborghini tapi Shela mau menerimanya dengan segala kekurangan yang dia miliki.


Waktu menunjukan pukul 14.35, bengkel yang baru dia buka beberapa jam yang lalu sudah didatangi orang yang mau mencuci motor di tempatnya. Alhamdulillah rejeki pengantin baru, ya kan gaess?


Kok Parto langsung kerja sih, enggak honeymoon aja gitu, tunggu beberapa hari atau beberapa minggu baru kerja lagi? Ya dia bukan tipe lelaki pelesiran, ini realita gaess.. di desa setelah nikah enggak ada yang namanya honeymoon atau sugarmoon atau pemanis lainnya. Cukup dengan perhatian dan rasa sayang yang ditunjukan secara nyata di atas ranjang aja! Dan te_tek bengek honey, sugar, atau apapun itu enggak penting buat mereka.


Pergi ke luar kota, luar negeri, sampai luar angkasa cuma buat main adu dongkrak buat Shela dan Parto itu enggak perlu. Toh nanti juga nyewa tempat buat lakuin hal itu kan? Capek tenaga, ongkos juga enggak murah, belum lagi tagihan lainnya yang bikin persendian pada nyeri. Enggak deh... Cukup kamar pribadi mereka aja udah bikin mereka puas lahir batin.


Berbeda jika ini kisah para penguasa gedung pencakar langit alias CEO di sebelah sana.. setelah menikah pasti akan ada acara wisata pelesiran yang disebut honeymoon itu.


Ok balik ke narasi.. sampai mana tadi, oh iya.. Parto yang sedang mencuci motor pelanggan dikagetkan dengan kemunculan dua orang yang ngaku temannya. Siapa? Ben Sen tentunya.


"Assalamualaikum brother.. Wah rajinnya pengantin baru yang satu ini, udah kerja aja.." Beni turun dari motornya diikuti Seno yang hanya diam berjalan dengan masih memakai helm di kepala.


"Waalaikumsalam," Parto enggak sedikitpun menoleh ke arah kedua temannya yang duduk di bawah pohon mangga yang dia beri kursi kayu panjang di bawahnya.


"Enak!" Beuh.. singkat banget jawabnya.


"Shela mana To?" Beni celingukan mencari Shela.


"Tidur, capek dia.." Parto menghampiri kedua temannya karena tugasnya mencuci motor selesai.


"Maturnuwun njih mas.." Ucap pelanggan itu langsung pergi setelah membayar upah Parto. Parto tersenyum dan mengangguk sambil menerima uang tersebut.


Beni menyipitkan matanya, saat Parto melepas handuk kecil yang melingkar di lehernya untuk menyeka keringat. Pandangan mata Beni langsung tertuju ke arah dua tanda merah yang ada di leher Parto.


"Ediaaan.. jadi fungsi handuk tadi buat nutupin itu to? Hahaha kampret lah!" Mendengar Beni yang heboh sendiri, Seno ikutan melihat ke arah Parto tadi mengalungkan handuk kecil. Tepat di leher Parto. Fokus mereka tertuju ke sana!

__ADS_1


"Aku jadi inget kemarin malam, bang_ke gara-gara kaum durjana satu ini aku harus nyabunin burung tengah malem!" Perkataan Beni langsung disambut tawa ngakak oleh pelaku yang tak lain adalah Seno!


Parto hanya mesem aja.


"Lagian kurang kerjaan amat, ngapain itu telepon kamu angkat To.. kamu enggak tahu gimana menderitanya aku karena si anu enggak mau tidur meski udah aku nina boboin." Seno makin tertawa lepas. Dasar dua manusia tak punya malu.


"Ngapain tengah malem telepon?" Parto cuek aja. Dia enggak mau bahas hal intimnya, masalah ranjangnya dengan kedua temannya. Meski dekat, ada beberapa hal yang patut dan tidak patut untuk dibagikan. Contohnya ya hal ini. Kegiatan ranjangnya cukup dia dan Shela aja yang tahu. Beruntunglah kelian para readers KTK yang tahu betapa aach nya hubungan mereka di ranjang.


"Tuh curut satu.. Bikin orang pengen nyantet dia!" Beni bersungut-sungut.


Sedari tadi Seno hanya tertawa aja.


"Yang telepon kamu, ngapain nyalahin Seno?" Parto kembali melilitkan handuk ke lehernya.


"Alah To, enggak usah ditutupin.. aku tahu kok, gimana bentuk dan cara bikinnya. Ya.. bedanya belum praktek ke daerah itu aja.." Beni berbangga diri.


"Bagian leher enggak pernah? Bagian lain sering!" Seno mengambil rokok punya Beni yang dia letakan di bangku panjang.


"Ooowh ya pasti hahahaha.."


"Pendosa!" Seno menyalakan rokok.


Beni dan Parto memperhatikan Seno yang mulai menikmati batang rokok yang dia hisap. Eh.. ini orang kenapa kok jadi perokok gini.


"Kamu udut?" (ngerokok). Tanya Parto mengernyitkan kening.


"Iya." Jawab Seno singkat.


"Tumben..." Beni ikutan tertarik karena Seno biasanya anti dengan batang rokok yang mengandung 8 sampai 20 mg nikotin itu malah asik bermain dengan asapnya.

__ADS_1


"Ono opo?" Tanya Parto melihat ke arah Seno.


__ADS_2