
Apa yang bakal kamu lakuin kalau kamu lagi bucin akut sama orang? Camkan ya, di sini othor tulis bucin sama orang!
Apa dengan mengiriminya kabar tiap detik, dan berharap dia yang di sana juga melakukan hal yang sama?
Apa dengan rebahan santuy aja, berharap ada bintang jatuh dan berdoa si dia bakal ujuk-ujuk (tiba-tiba) nongol di depan mata?
Atau dengan melihat fotonya sampai itu mata belekan, tetes mata aja enggak menolong iritasi yang di sebabkan oleh tingkah konyolmu itu?
Hahahaha.. Meski sebucin apapun dirimu dengan sesama makhluk Tuhan yang ngaku paling seksi, tolong tetap gunakan kewarasan ya gaess. Meski othor tahu, di warung enggak ada stok kewarasan jika pengaruh bucin itu udah mendarah daging, mengalir sampai jauh ke tulang sumsum dan tulang lain penopang tubuh! Ingat satu hal, yang kamu bucinin juga manusia biasa, yang punya keluputan (kesalahan) dan juga dosa.
Berbagai macam dosa tentunya, dosa mengabaikanmu, dosa melupakanmu, dosa membuatmu menunggu, dan yang paling tak terampuni adalah dosa pura-pura lupa yang akan di ulang berkali-kali lagi dan lagi yang endingnya hanya kata maaf yang terucap! Lalu kamu bisa apa? Ya.. namanya juga bucin, ya pasti bilang 'iya enggak apa-apa kok'. Hahaha, kesian sekali kamu nak!
Kisah ini berawal dari sini, Shela yang sudah menyiapkan surprise kecil untuk ulangtahun Parto yang entah ke berapa othor lupa hahaha, dia membuat birthday cake dengan hiasan indah apa saja ada di atas kue sana. Perfect. Semua tertata dan tersusun rapi. Bukan hal sulit untuk Shela membuat kue ulangtahun dan dekorasinya. Memang itu adalah bidang dan pekerjaannya sehari-hari. Jadi tak diragukan hasil karyanya pasti sangat emejing!
Shela sengaja tidak memberi tahu Parto tentang surprise party yang akan dia berikan untuk calon imamnya itu. Sebenarnya ini bukan pesta meriah seperti yang kelian semua bayangkan, hanya kejutan kecil dari Shela untuk Parto. Untuk semua waktu dan cinta yang Parto berikan kepada Shela, Shela ingin membuat hari itu terasa istimewa untuk mereka berdua terutama untuk Parto.
"Nduk.. ayo to siap-siap ke kondangan pakdhe mu! Dari tadi kok senyam-senyum terus itu kenapa?" Ibu yang sudah rapi memakai kebaya brokat coklat masih harus menunggu putrinya yang belum mempersiapkan diri.
"Eh iya buk, hehehe Shela ganti baju dulu ya." Shela berhambur ke dalam kamar. Mengganti pakaian dan memasang aksesoris penunjang penampilan agar lebih wah nantinya.
Shela lupa, dia sudah mengirim pesan kepada Parto agar datang ke rumahnya jam empat sore nanti. Karena pesan itu dia kirim sebelum membuat kue ulangtahun untuk kekasihnya, dan setelah itu ponselnya mati karena kehabisan daya.
Shela dan ibu Kumala berangkat ke rumah pakdhe yang lumayan jauh dari desa mereka. Pakdhe menggelar hajatan untuk pernikahan anaknya. Shela memang jarang berkumpul dengan keluarga besarnya, terakhir setelah acara lamarannya dengan Parto dulu di gelar dadakan. Karena Shela memang tidak menyukai acara keramaian sebenarnya.
Setelah sampai di tempat hajatan, hampir semua orang yang melihat Shela memuji kecantikan gadis dua puluh satu tahun itu. Shela hanya memberikan senyuman saja untuk membalas pujian mereka.
Waktu berputar sangat cepat, tak terasa kumandang adzan Maghrib sudah terdengar. Shela melupakan sesuatu, ya... Shela melupakan janjinya untuk memberi kejutan ulangtahun untuk Parto.
"Shel.. mana calon suamimu? kok enggak di ajak?" Tanya salah seorang tamu yang masih kerabat Shela. Mendengar pertanyaan itu, Shela langsung teringat kepada Parto dan rencananya untuk membuat pacarnya terkejut. Tapi, sekarang malah dia sendiri yang dikejutkan oleh rencananya itu.
"Buk.. Shela pulang dulu ya buk, Shela lupa tadi siang nyuruh To buat ke rumah!" Shela terburu-buru pamit kepada ibunya. Ibu hanya menggelengkan kepala, saking enggak tahu mau komen apa.
"Pakdhe, Shela pamit pulang dulu ya.. Ibuk mau nginep sini katanya! Salam buat Tyas ya pakdhe, assalamualaikum.." Tak lupa Shela pamit kepada pakdhe kesayangannya dulu sebelum capcuss.
Sedangkan di rumah Shela, Parto yang ada di teras masih setia menunggu dibukain pintu. Padahal hujan sudah turun sebelum dia sampai di rumah Shela tapi, dia masih belum ingin beranjak dari penantiannya. Ada tetangga Shela yang memberi tahu jika Shela dan ibunya pergi kondangan ke rumah pakdhe. Kenapa Parto enggak diajak Shela pergi kondangan? Kan nanti pakdhe juga akan menjadi saudara Parto juga. Karena Shela yang tidak ingin pamer sebelum benar-benar halal. Dia aja jarang jalan bareng Parto kok, masa mau bawa Parto ke kondangan.
__ADS_1
Waktu menunjukan pukul 19.45, sudah hampir empat jam Parto menunggu. Penantian yang luar binasa! Kenapa Parto enggak pulang aja sih? Karena dia udah janji kepada Shela untuk menemuinya. Dan sebelum mereka bertemu, pantang bagi Parto untuk meninggalkan tempatnya berpijak saat ini. Uwwwuuuu.. antara sweet dan o_on sih ya hahahaha.
Shela datang dengan badan sama menggigilnya, meski memakai mantel dinginnya air hujan dan terpaan angin malam itu benar-benar membuat tulang sumsum nyaris membeku.
Melihat Shela yang datang sambil berlari, Parto yang tadi mulai kehilangan harapan bisa bertemu dengan Shela atau tidak hari ini jadi menarik senyum di wajah lumayan manis miliknya.
"To.. maaf.. maaf.. aku lupa, kamu nunggu lama ya.. maaf.." Shela berkali-kali mengulang kata yang sama.
Parto melepas jaketnya, dia pakaikan untuk Shela sesaat setelah Shela melepas mantel yang dia pakai untuk melindungi diri dari terjangan air hujan. Setelah membuka pintu rumah, Shela buru-buru menyalakan lampu. Tapi, dia tidak tahu jika saat ini sedang mati lampu dikarenakan hujan turun keroyokan.
"Lho kok enggak bisa nyala.. Sik To, ini kenapa lho.."
"Mati lampu La, udah dari siang tadi di desaku mati lampu." Terang Parto.
"Eh, iyakah.." Parto menggunakan ponselnya untuk penerangan seadanya.
Shela mengingat jika dia tadi siang mengisi daya ponsel di kamarnya. Dengan meraba-raba dinding hingga terbentur ujung lemari kakinya, Shela mencoba menuju kamarnya.
"Kamu mau kemana?" Parto menggapai tangan Shela, memberi penerangan ala kadarnya agar Shela bisa ke arah kamarnya.
"Lah.. kamu gelap-gelapan dong di sini? Udah ayo anter aku ke kamar buat ambil hp." Shela menarik tangan Parto. Yang punya tangan manut aja, kapan lagi kan bisa masuk kamar calon istri?!
"Yaaah.. kok masih mati sih! Enggak nge-charge dari siang berarti!! Iiieh ngeselin!" Shela cemberut.
"Gimana mau nge-charge kalau kabelnya enggak nyolok ke panel listrik! Kamu enggak cek dulu tadi?" Parto menunjuk ujung charger yang belum nancap ke colokan listrik.
Makin kesel lah Shela karena kecerobohannya. Mereka kembali ke ruang tamu.
"Kamu ganti baju gih.. basah tuh, nerawang tahu enggak!" Parto pura-pura membuang muka, padahal dari tadi udah lihat juga.
"Astaghfirullahalazim, Parto kamu ya.. bisa-bisanya gelap kayak gini bisa tahu bajuku nerawang! Mata kamu di kasih sensor tembus pandang ya?" Shela melepas jaket Parto, dia gunakan untuk menutup bagian depan tubuhnya.
"Ya enggak La, kalau punya mode tembus pandang malah bersyukur aku hahahaha" Shela melempar bantal yang ada di sampingnya ke arah Parto.
"Oiya To.. aku ada sesuatu buat kamu! Pinjem hpmu sini!!"
__ADS_1
Parto menyerahkan hpnya. Shela langsung berjalan ke dapur, membuka kulkas. Ingin membawa kue itu tapi agak kesulitan.
"To.. sini deh, bantu aku bentar!" Shela berteriak memanggil Parto. Dengan segera Parto datang menghampiri Shela.
Shela sudah berdiri dengan membawa kue ulangtahun untuk Parto. Belum ada lilin di atas kue itu. Karena Shela memang belum menancapkan lilin di sana.
"Eh.. apa ini?" Senyum langsung mengembang. Parto enggak nyangka Shela ingat hari ulangtahunnya. Dia sendiri aja lupa kapan hari jadinya, karena memang selama ini dia jarang hampir tidak pernah merayakan hal itu.
"Selamat ulangtahun ya To!" Masih di dapur, dengan penerangan seadanya, diiringi musik alam yang belum bosan menyirami bumi, Shela memberi ucapan itu untuk Parto.
"Aku aja enggak ingat La, tapi.. makasih ya.. makasih banyak!" Saat ingin mendekat dan memeluk Shela, Shela langsung mundur teratur.
"Eeeh jangan peluk-peluk dulu! Nanti kue nya jatuh, aku bikin ini susah payah lho!"
"To kamu punya korek api?" Tanya Shela selanjutnya.
"Enggak punya La, aku bukan perokok."
"Yaah.. terus gimana nyalain lilinnya ini? Oiya pakai kompor aja ya, sik.. pegang ini bentar! Aku mau nyalain lilin dulu!" Shela menyerahkan kue ulangtahun ke tangan Parto.
Setelah berhasil menyalakan lilin, kedua anak Adam itu kembali ke ruang tamu. Menaruh kue ulangtahun di meja dan menyanyikan lagu ulangtahun ala kadarnya sebisa mereka.
"Tiup lilinnya To, jangan lupa make a wish ya To!" Shela kelihatan sangat girang. Parto mengangguk aja, menurut perintah Shela. Membuat Shela bahagia adalah kebahagiaan juga untuknya.
Saat lilin ditiup, ruangan itu kembali meredup. Karena pencahayaan berkurang.
"La.." Parto memegang tangan Shela, Shela diam aja.
"Kamu buat permohonan apa To?" Tanpa menjawab, Parto langsung memeluk Shela. Dia sangat bahagia saat ini, penantiannya selama empat jam langsung berbuah manis.
"La.. aku sayang kamu, aku benar-benar sayang kamu" Shela membalas pelukan Parto. Makin menghappy lah Parto saat ini.
Entah siapa yang memulai, tapi saat ini keduanya sudah larut dalam silaturahmi bibir yang membuat mereka kehabisan nafas. Sudah beberapa kali melakukan pertemuan bibir, tapi malam ini terasa berbeda. Keduanya seakan lebih menjiwai ciuman yang mereka lakukan.
Parto menarik diri untuk mundur, dia enggak mau melangkahi batasan yang dia buat sendiri. Karena dia tahu, di bagian tubuhnya yang lain sedang berada di mode on fire. Tanda bahaya itu muncul saat Shela terus membalas aksinya tadi.
__ADS_1
"Kenapa To?" Suara Shela terdengar serak. Mendapat pertanyaan seperti itu.. Parto makin bingung bagaimana menjelaskan kepada Shela. Menjelaskan jika di sisi terli_arnya dia menginginkan lebih dari kissing yang mereka lakukan tadi.