
Shela bangun dari tidurnya, dia seperti mendengar Parto memanggil namanya. Saat bangun pun Shela agak bingung kenapa dia bisa ada di kamar. Padahal seingatnya tadi dia dan Parto masih ngobrol di ruang tamu.
Shela melihat ponsel Parto yang ada di meja riasnya. Lampu senter ponsel itu masih menyala. Dia putuskan melihat ke ruang tamu, mungkin Parto tidur di sofa panas yang mereka pakai untuk mengeksplor bibir masing-masing tadi.
Tidak ada orang, artinya.. Shela melangkah cepat membuka pintu, di teras pun Parto tidak nampak batang anunya! Fix Parto pasti pulang. Mendengar petir yang menyambar kencang membuat Shela segera masuk rumah kembali. Dia masuk kamar.
Dibilang jangan pulang malah ngeyel!
Shela memutar otak, bagaimana caranya agar tahu kalau Parto udah sampai rumah apa belum. Oiya, dia mengambil ponsel Parto. Dilihatnya jam, pukul 02.05, apa ini waktu yang tepat untuk menghubungi orang. Tapi, rasa cemas serta khawatir membuat Shela menekan nomer Indah untuk dia hubungi.
Beberapa saat menunggu, Indah di seberang sana akhirnya mengangkat teleponnya juga.
Shela: Assalamualaikum, Ndah.. ini Shela. Mau tanya mas To udah sampai rumah kan ya?
Dengan suara serak khas orang baru bangun tidur, Indah menjawab...
Indah: Waalaikumsalam mbak, sik mbak.. aku lihat kamarnya dulu..
Shela mengangguk. Menunggu. Semoga Parto memang sudah sampai di rumah, itu yang Shela ingin dengar dari ujung desa sana.
Indah: Halo mbak..
Shela: Iya,
Indah: Mas To enggak ada di kamarnya mbak, mungkin pulang ke rumahnya sendiri.
Shela ber 'ooowh' aja. Mengakhiri sambungan telepon itu. Habis memutuskan sambungan telepon, Shela malah makin khawatir sama Parto. Ini gimana bisa tahu kalau Parto ada di rumahnya atau enggak.
__ADS_1
Ponsel Parto berdering. Terpampang di sana nama Indah dengan yang memanggil. Cepat-cepat Shela mengangkat telepon itu.
Indah: Mbak Shela.. mas To enggak ada di rumahnya, barusan aku telepon mas Seno. Mas Seno sama mas Beni ada di rumah mas To dari sore. Mereka nginep di rumah mas To.
Shela diem.
Indah: Halo.. mbak! (Memastikan yang di sana masih mendengar suaranya)
Shela: Iya Ndah.. makasih ya. Ya udah kamu tidur lagi aja, masih jam segini juga. Maaf ganggu ya.
Ini orang ngeselin banget! Hobi banget bikin orang khawatir.
Saat Shela akan mengeluarkan motornya dari dalam rumah, sekali lagi ponsel Parto berbunyi. Sekarang nama Seno ada di sana. Shela mengabaikan telepon itu. Dia ingin mencari Parto. Pikirannya udah enggak tenang. Hujan memang masih mengguyur desa mereka, tapi tidak lagi sederas tadi. Shela mau ngapain? Mau keluar cari Parto sepertinya. Lagi-lagi ponsel Parto berbunyi. Shela yang udah kesal karena Parto makin kesal karena ponselnya pun bisa membuat dia emosi. Enggak orangnya, enggak hpnya sama-sama nyebelin!
Shela: Apa???
Shela hampir mematikan ponsel Parto.
Seno: Shel, aku sama Beni udah di jalan. Cari Parto, nanti kalau kami udah nemuin tuh demit satu bakal langsung kasih kabar sama kamu!
Shela: Ok.
Di jalan Beni hanya tertawa mendengar ocehan Seno.
"Udah aku bilang jangan telepon dia, ngeyel sih!" Ucap Beni masih ngakak.
"Kok bisa sih Parto suka sama cewek lampir kayak gitu. Untung aja Indahku enggak kek gitu, bisa senam jantung tiap hari kalau dapet istri kayak gitu!" Beni kembali ngakak.
__ADS_1
"Lagian ya Sen, harusnya aku yang protes di sini... kamu nyari Parto karena di suruh sama Indah. Lha ngapa aku mok ajak susah kayak gini? Yang bener aja lah.. ini udah hampir jam tiga subuh! Jam tidurku berkurang gara-gara kakak beradik serta pacar-pacar mereka!"
"Protes nanti aja sama Parto! Itu orang minta disunat lagi keknya. Dia yang pacaran, dia yang enak, kita yang ngenes! Udah disuruh jagain rumahnya, sekarang suruh nyari dia. Awas aja kalau dia cuma nepi sambil ngopi di warung nungguin ujan reda. Aku botakin anunya saat itu juga!" Beni mulai ngedumel, ketularan Seno.
Jadi mereka pakai motor Beni untuk muterin desa arah rumah Shela demi apa cuba kek gitu? Demi masaaa.. sesungguhnya manusia kerugian... (Timpuk aja yang nulis, othor ikhlas hahahaha)
"Ben.. Stop Ben, berhenti!" Seno menepuk pundak Beni. Dan saat motor berhenti, Seno langsung turun dan berlari ke arah ayam, motor Parto yang tergeletak di jalan. Matanya menyisir sekitar jalan itu.
"To..!!!" Beni melihat Parto yang tergeletak dengan posisi tengkurap. Ada apa ini? Kenapa Parto bisa nyampe tiduran di situ?
Seno yang baru saja menepikan ayam langsung menghampiri Beni yang mengangkat tubuh Parto yang terkulai.
"Buset Parto pucet banget Sen," Di atas telinga kanan dan kening Parto terlihat goresan luka yang serius. Di tangan, lengan, sampai dada atas juga sama parahnya.
"Ini orang abis di tabrak rombongan Kunti mau hajatan ke rumah genderuwo yang pesta nyunatin anaknya keknya. Gila bisa kayak gini lho" Seno nyerocos membantu Beni membopong Parto yang pingsan ke atas motor yang mereka bawa tadi.
"Ayam gimana itu?" Tanya Seno kepada Beni.
"Biarin aja, kuncinya ambil. Tepiin, dikunci stang dulu! Enggak bakal jerit-jerit juga itu motor kita tinggal di sini sendiri! Kamu pegangin Parto aku mau gaspol!" Beni enggak menunggu jawaban Seno. Motor langsung dia lajukan cepat ke klinik terdekat.
"Ben.. ati-ati lah, edan kamu kayak bawa kebo mau lahiran aja ini!!" Masih aja cerewet si Seno ini.
Enggak butuh waktu lama, Beni sampai di klinik. Setelah memanggil petugas kesehatan di sana, Parto langsung di tangani oleh perawat.
"Sen.. kamu telepon Shela sana!" Beni tampak cemas. Dia khawatir dengan kondisi Parto, pasalnya benturan Parto terjadi di kepala. Dia takut Parto terkena cedera otak. Karena dalam waktu hampir berdekatan kepala Parto dua kali kena benturan.
"Kamu aja deh, aku ngeri mau telepon dia." Beni menerima ponsel yang Seno sodorkan untuknya. Sebelumnya dia menghela nafas, kok kelihatan seperti mau perang sih Ben. Santai aja lagi, Shela enggak senyeremin itu kok!
__ADS_1