
Beni sampai di minimarket tapi, dia tidak menemukan keberadaan Parto. Kemana Parto ini sebenarnya? Beni yang penasaran, akhirnya memutuskan memasuki minimarket tersebut dengan modus membeli air mineral. Yang sesungguhnya dia hanya ingin bertanya kepada kasir yang bekerja di sana, apakah dia mengetahui dimana atau kemana Parto sekarang ini.
"Mbak.. liat temenku enggak? Yang tadi nongkrong itu di depan sama aku, pake kaos putih, muka enggak cakep-cakep amat, katanya dia kenal sama Mbak!" Beni ini enggak bisa basa-basi banget apa ya. Nanyanya kek gitu amat.
"Mas Parto? Iya tadi motornya mogok Mas, berkali-kali Mas Parto cuba ngidupin motornya tapi enggak bisa juga. kesian itu dia dorong motornya.. mau ke bengkel kayaknya." Ucap Ralina yang sekarang menatap Beni lekat-lekat.
"Kenapa enggak di telepon aja Mas?" Imbuh Ralina.
"Masalahnya dia enggak bawa hp Mbak.. wes angel cah siji kae (udah susah anak satu itu)"
Beni meneguk minuman yang dia beli, masih di dalam minimarket, numpang ngadem ya Ben?
"Mas.. itu mukanya kenapa?" Tanya Ralina yang ternyata memperhatikan Beni.
"Abis nyium cewek Mbak.. tahunya itu cewek istri orang.. abis deh aku di hajar sama suaminya hahaha" Mendengar jawaban nyeleneh Beni membuat Ralina ikut tersenyum.
"Mbak aku tak cari Parto dulu ya, maturnuwun infonya.." Beni pergi meninggalkan Ralina yang masih melaksanakan tugasnya, bekerja sebagai kasir di minimarket.
Sepuluh menit dia mengendarai motor, Beni akhirnya menemukan keberadaan Parto. Terlihat di bengkel pinggir jalan, dia ikut membongkar si ayam . Parto tidak menyadari kehadiran Beni, dia masih fokus dengan motornya.
"Batang kowe ki! (bang_ke kamu ini!)" Beni menyalakan rokoknya dan duduk di kursi yang disediakan bengkel kecil itu.
"Njiir Ben, sepurone lah.. ayam mogok ngene. Ya Allah Ben, kowe gelud?" Parto kaget. Dia langsung menghampiri Beni, terlihat muka Beni lebam di bawah mata kiri dan sudut bibirnya. Parto duduk di dekat Beni dan menyerahkan pekerjaan memperbaiki si ayam kepada montir di situ.
"Kan aku udah bilang.. tugasmu cegah aku jangan sampai gebukin manusia lucknut satu itu.. lah kamu enggak ada nongol. Ya udah, abis itu bocah tak gibeng!" Parto merasa enggak enak hati saat melihat temannya itu terluka. Ya, emang bukan luka parah yang mengharuskan Beni harus ke rumah sakit.. tapi, Parto merasa enggak bisa menepati janjinya. Dia diminta tolong kayak gitu aja enggak bisa.
Tadi, setelah berkali-kali menghidupkan motor tapi gagal.. Parto memiliih ngojek saja dan meninggalkan motornya di depan minimarket, namun setelah muter-muter membelah jalan.. Parto tidak menemukan kemana Beni ngintilin Adit. Akhirnya Parto kembali ke minimarket tadi dan membawa ayamnya ke bengkel. Dan di sinilah Parto sekarang.
__ADS_1
"Kamu apain dia Ben?" Tanya Parto yang melihat baju Beni juga kotor, mungkin mereka berguling-guling di tanah.. makanya bisa kotor seperti itu. Ayolah.. berani kotor itu baik bukan?
"Belum aku apa-apain kok istrinya malah udah dateng duluan. Belum puas aku hajar cocote (mulutnya) sing dremimil (omes / ngomong enggak abis-abisnya) wae kui."
"Serius kamu belum ngapa-ngapain dia?" Parto kok ragu.
"Kamu enggak percaya sama aku? Aku belum apa-apain To.. baru juga tak tonjok beberapa kali. Aku aja belum balesin dendam motorku yang di tendang sama dia. Tadinya pengen tak patahin itu kakinya.. lah kesel lagi kan aku kalau ingat."
"Kamu masih sayang ya sama mantanmu itu sampai-sampai rela babak belur gini demi dia?"
Beni tersenyum mendengar pertanyaan Parto.
"Entah.. aku hanya ingin melindungi dia. Rasanya udah lama banget aku enggak ketemu dia, tapi.. dia enggak ngubah panggilannya ke aku. Masih manggil aku Beben.. panggilan dia ke aku pas masih sama-sama dulu. Aku kangen waktu dia manja-manja ke aku.." Beni meneguk habis sisa air mineral yang sejak tadi berada di tangannya.
"Opo opo? Beben!? Lha terus kamu panggil dia siapa? Wawan? Dada? eh... kok aneh Ben,"
"Motornya udah jadi Mas.." ucap pemilik bengkel.
"Tu To.. jangan ngakak terus, buruan bayar itu. Abis ini tak ajak kamu ke rumah dedek mantan."
"Ah emoh aku Ben, kamu enak kesana minta elus pipi.. paling enggak pas pulang dapet jatah tu bibir lha aku? Moh lah moh.."
Parto sepertinya bisa membaca pikiran Beni. Terbukti Beni hanya ngakak tanpa mengelak saat Parto berucap demikian.
"Harusnya kamu itu juga cari cewek To, biar enggak neyeng (berkarat) kui lambemu! hahaha"
"Kamu aja yang enggak tahu Ben.. aku orange slow, pelan tapi pasti.. enggak usah pamer sana-sini, sat-set tahu-tahu resmi. Wah sak jose Ben, hahaha"
__ADS_1
"Pelan tapi pasti? Ngesot sono.. mau kayak Seno? suka sama ababil (abegeh labil)?"
"Njiir adikku itu mok kata-katain! Ya enggak lah.. seleraku bukan bocah kayak tipenya Seno gitu. Tipe cewekku sepesial Ben..."
"Spesial kek kunti yang borong sate cak Irun waktu itu?" Beni langsung tertawa terbahak-bahak karena Parto melotot ke arahnya. Parto kalah telak, dia selalu enggak bisa jika di suruh debat sama orang. Dia bukan tipe ceriwis, ngecipris kayak Beni. Juga bukan tipe bucin nyampe akut kayak Seno.. Parto hanya mengikuti arus kemana hatinya membawa dia ke jodoh yang telah digariskan untuknya.
Beni dan Parto mengendarai motor ke arah berlawanan, Parto ingin pulang dan Beni ingin ke rumah dedek mantan. Tujuan mereka berbeda sekarang. Parto juga ingin cepat pulang karena Indah yang sedang enggak enak badan. Dia ingin memastikan kalau adiknya sudah sembuh.
Saat melewati jalan yang dulu jadi tempat pertemuan pertamanya dengan Shela.. Parto malah tersenyum, dia tidak menyangka kalau setelah kejadian itu dia bakal terus-terusan bertemu dengan Shela.
Sesampainya di rumah, mata Parto memindai tiga motor yang semuanya sangat dia kenali.
Dia heran kenapa ada motor itu terparkir di depan rumahnya. Mengucap salam.. Parto memasuki rumahnya.
"Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam.." Parto kaget saat melihat sosok yang akhir-akhir ini ada di pikirannya. Menjawab salamnya tapi dengan tatapan terkejut pula
"Shela.." Hanya itu yang mampu keluar dari mulut Parto.
Shela langsung berdiri dari tempatnya duduk karena melihat cowok yang enggak pengen dilihat ada di sini.
"Mas terimakasih ordernya ya.. aku permisi" ucap Shela kepada Seno, ya Seno yang memesan kue untuk Indah..
"To.. udah beres urusannya sama Beni?" tanya Seno yang melihat Parto baru masuk ke rumah.
"Udah Sen tapi, sekarang aku ada urusan lain.."
__ADS_1
Parto berjalan keluar rumah, masih ada Shela di sana. Saat Parto mendekat, Shela malah ingin segera pergi dari rumah Parto.