
Parto dikagetkan dengan suara gaduh di dapur, dia yakin hal itu bukan perbuatan kucing. Shela.. Pasti istrinya itu yang sedang memporak-porandakan dapur beserta isinya.
"Kenapa La?" Parto menghampiri Shela yang manyun sambil memotong tempe.
"Jangan ke sini! Aku kesel sama kamu!" Shela menodongkan pisau ke arah Parto. Otomatis Parto memundurkan langkahnya. Menelan saliva, agak horor karena ulah Shela ini.
"Hei.. Pisau mu itu di singkirin dulu, kena aku bisa menjanda kamu." Parto mendekat, mengambil pisau dari tangan Shela.
"Kamu kesel kenapa?" Lanjutnya.
"Aku enggak tahu, pokoknya aku lagi kesel sama kamu! Kamu ke bengkel lagi sana!" Hardik Shela. Parto menghela nafas, mengikuti apa yang istrinya perintahkan. Tapi, saat Parto putar balik hampir meninggalkan dapur. Shela melempar panci ke lantai. Seketika Parto kaget dan menoleh kembali ke belakang.
"Astaghfirullah... Kenapa lagi La?" Parto tetap sabar menghadapi istri kuntinya.
"Kamu ini emang enggak peka ya?? Disuruh pergi langsung nyelonong pergi!! Makin kesel aku sama kamu!! Jangan deket-deket aku, jangan tidur bareng aku!" Shela manyun. Moodnya emang anjlok-anjlokan akhir-akhir ini. Tapi, hari ini adalah yang yang paling parah menurut Parto.
"Aku aja yang masak, kamu duduk aja. Kamu pasti capek kan?" Mencoba membuat Shela tenang. Banteng memang perlu matador yang tepat biar bisa jinak!
"Kamu enggak suka masakanku? Bilang kalau enggak mau makan masakanku bilang!" Hedeeeeh.
"Suka... Kenapa musti enggak suka, kamu taburin racun ke sana juga pasti aku makan. Aku enggak mau kamu capek, biar aku aja hmmm?" Cuba bungkusin satu yang kayak gini buat othor oeee!
Shela mulai tersenyum, apalagi saat dia merasakan Parto mengusap pelan rambutnya. Dia makin berbunga.
"Kamu mau bikin apa? Ini tempenya kok banyak bentuknya gini," Parto enggak mau bilang tempenya seperti korban mutilasi karena potongan yang panjang pendek tidak beraturan. Dia tahu Shela akan ngamuk lagi kalau dia bilang tempenya hancur karena perbuatan istrinya tadi.
"Digoreng!" Shela ketus. Melihat kursi di dapur lalu menariknya ke dekat Parto, dia duduk di dekat Parto yang mahir kalau hanya goreng tempe.
"Mau masak apa lagi?" Parto berjongkok di depan Shela. Memandang dengan tatapan memuja, kedipan mata Shela membuat Parto gemas. Diusapnya pipi istrinya itu dengan lembut.
__ADS_1
"Enggak tahu,"
"Kamu mau makan apa, nanti aku masakin." Parto masih tetap sabar menghadapi Shelanya.
"Aku enggak mau makan nasi. Aku mau sosis!" Parto memiringkan kepalanya, agak bingung ini Shela kok jadi labil gini. Sebenarnya dia kenapa?
"Sosis goreng? Sosis bakar? Sosis apa?" Parto berdiri dari tempatnya tadi.
"Sosis mu aja.." Shela tersenyum jahil.
"Heeeeh" Parto ikut tersenyum mendengar guyonan istrinya. Dia langsung konek dengan apa yang diinginkan Shela.
Meninggalkan pasangan pengantin baru yang sedang bucin-bucinnya ini, mari kita simak perjalanan suci Beni saat akan membeli sparepart motor untuk kebutuhan bengkelnya. Di perjalanan, perutnya terus berbunyi menandakan jika dia butuh asupan makanan.
Dia arahkan motornya ke warung mi ayam terdekat. Beni bukan tipe pemilih soal makanan, apa aja dia sikat. Seperti sekarang ini, saat sudah berada di warung mi ayam, menunggu pesanannya dibuatkan dia memakan apa saja yang ada di depannya.
Dua kerupuk, sate telur puyuh hampir tiga tusuk ludes dibabat sama dia. Untung masih bisa tahan diri enggak ngabisin meja dan kaleng kerupuk di depannya.
"Dasar alap-alap! Itu perut enggak bisa banget bersabar hah?! Antri, sabar jadi orang tuh!!" Bentak Virza gadis yang sedang duduk santai sambil menikmati es jeruknya.
Beni kaget, haah dia lagi. Kenapa musti ketemu dia mulu sih!!.
"Namanya juga laper, aku kan buru-buru." Beni membela diri.
"Semua yang ke sini juga laper! Bukan kamu aja," Virza menatap malas ke arah Beni yang duduk jauh dari tempatnya sekarang.
Beni mendekati Virza. Ini orang kenapa mancing-mancing emosinya.
"Kamu ada dendam apa sih sama aku? Untuk kebohongan ku yang dulu itu.. aku ngaku aku salah, aku minta maaf. Kamu juga main ngutuk aku aja, aku anggap itu sebagai cara kamu maafin aku. Dari pada ribut mulu tiap kali ketemu aku mending kita temenan aja, gimana?" Beni tersenyum khas dia.
__ADS_1
"Ora sudi!" Jawab Virza angkuh.
"Kamu enggak sudi jadi temenku, maunya jadi pacarmu gitu? Atau suamimu?" Beni selalu bisa bikin orang lain kesal jika berdebat dengannya.
"Jangan harap!" Virza masih ingat kejadian di mana dia sangat percaya kepada Beni yang mengaku udah beristri itu, sampai-sampai memberi nasihat agar Beni jangan sering keluar malam, keluyuran atau nongkrong bareng temen-temennya karena pasti istrinya yang tengah hamil butuh perhatiannya. Dan ternyata semua itu hanya bualan Beni semata.
"Aku masih ingat lho, kamu mati-matian minta pertanggungjawaban ku. Kemarin sih aku nolak karena baru putus dari mantanku, ditinggal kerja ke kota. Terus dapet masalah sama mantan yang lain.. huufft aku kan pusing, mana kamu datang tiba-tiba minta dika_winin lagi." Beni curhat pemirsah.
"Kalau sekarang aku siap deh.. Mau pacaran dulu apa langsung nikah? Aku sih ayo!" PD banget ini orang satu.
"Kamu sok yes banget jadi orang ya? Pamer mantan ini dan itu, sok laku banget jadi laki! Dan sorry aku enggak tertarik jadi wanita rabun yang udah putus asa karena mau nerima kamu jadi pasanganku! Balik ke motormu, berkacalah! Kita enggak cocok!!" Virza geram.
Beni menerima pesanan mi ayamnya. Tanpa malu dia makan di samping Virza, orang udah laper banget enggak perlu pencitraan!
"Rakus!" Ucap Virza melihat cara makan Beni yang tak peduli dengan panasnya mi yang dia santap.
"Aka ci? Camu mu tal huapin?" Bahasa planet Namex! #Apa sih? Kamu mau tak siapin?
"Sumpah ya, aku mulai ilang nafsu makan liat kamu! Mbak... punyaku dibungkus aja!" Virza berdiri dari tempatnya duduk.
"Nafsu makan ilang tapi nafsu yang lain meningkat, iya kan?" Beni tersenyum mengejek.
Saking kesalnya, Virza menuangkan satu mangkok sambal ke dalam mi ayam Beni. Beni tentu kaget. Ini orang ngajak ribut banget lho!
"Kamu kenapa to? Aku kan belum selesai makan??" Beni ikut berdiri karena kesal makanannya sekarang direndam dengan sambal satu mangkok penuh.
"Awas aku mau pulang!" Virza ingin melenggang pergi tapi di tahan oleh Beni yang berdiri kokoh di depannya.
"Aku biarin kamu pergi kalau kamu habisin mi yang kamu campur sambal itu!" Beni tak kalah sengit.
__ADS_1
"Mimpi aja! Enggak sudi aku makan sisamu!!" Virza makin maju mendekati Beni tanda menantang.
"Awas jangan maju lebih dekat, aku sih enggak apa-apa.. Nanti kalau bagian depanmu nabrak punyaku, kamu ngotot lagi minta aku tanggung jawab!" Beni tertawa diiringi kesalnya Virza yang ditandai dengan wajahnya yang merah padam.