Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Kepergok Bersama Dia


__ADS_3

Sepuluh hari jelang pernikahan Parto dan Shela.. kedua keluarga ini disibukan dengan tradisi ulem atau memberi kabar kepada saudara dan tetangga untuk datang dan ikut larut dalam kebahagiaan yang mereka rasakan.


Kenapa enggak pakai undangan aja? Undangan tertulis juga ada.. tapi tradisi ulem sudah ada dan turun-temurun mereka lakukan untuk menjaga silaturahmi agar tetap terjaga.


"Mas To.. aku nanti pakai kebaya merah apa putih?" Tanya Indah bersemangat.


"Tapi warna pink juga bagus ya mas? Aku bingung nih.." Saat ini Indah sedang memilih baju di toko bersama emak dan kakaknya. Parto malas menanggapi semua pertanyaan Indah yang seperti kereta api ekspres itu.


"Kamu pakai yang ijo ini aja. Bagus. Mirip ratu pantai selatan!" Parto mengambil baju hijau cerah dengan model yang agak old. Dia lempar ke arah Indah.


"Mak.. lihat mak, masa aku disuruh pakai baju ini! Dikira mau pesta kostum apa! Nyebelin banget sih!!" Mengembalikan baju ke tempat asal.


"Ya tinggal bilang.. kalau Shela yang suruh pakai baju tadi kira-kira mau apa enggak." Emak cuek, lebih fokus pada baju-baju yang berbaris rapi di depan beliau.


Mau nikah kok ribet gini ya


Parto memeriksa ponselnya, sepi! Tidak ada notifikasi apapun. Bahkan provider aja malas mengiriminya pesan. Membunuh kebosanan sambil menunggu emak dan adiknya berbelanja, dia berinisiatif mengirimkan pesan kepada Shela.


Parto: Assalamualaikum,


Satu menit, lima menit, sampai sepuluh menit menunggu pesannya belum juga dibalas oleh Shela. Dibaca pun enggak.


Ini orang ngapain lho, sibuk banget apa gimana.. nyampe enggak sempet pegang hp.


Pikir Parto memasukan kembali ponselnya ke dalam saku celana.


"Mas ayo pulang! Dipanggil dari tadi kok diem aja! Ngelamunin apa sih?" Indah sedikit berteriak.


"Kapan manggilnya? Iya iya.. ayo lah, mana yang mau dibawa pulang?" Parto celingukan mencari belanjaan emak dan adiknya.

__ADS_1


"Itu. Semuanya bawa kamu ya, emak sama Indah masih mau belanja ke pasar!"


"Mak.. ini udah banyak banget lho, masih mau belanja apa lagi?" Parto geleng kepala saat menyusun barang belanjaan emak dan adiknya ke motor.


"Kamu mana ngerti! Itu semua dibawa pulang dulu. Jangan sampai ada yang ketinggalan." Emak melenggang pergi bersama Indah. Meninggalkannya yang hanya diam tanpa kata.


Sibuk menyusun barang, Parto dikagetkan oleh tepukan di pundaknya.


"Mas Parto," Panggil seseorang yang sepertinya akrab dengannya.


"Eh.. Lin, apa kabar?" Menghentikan aktivitas angkut barang ke motor.


"Alhamdulillah baik mas.. Mas To belanja banyak banget?" Ralina memperhatikan belanjaan Parto.


"Ini punya emak sama Indah. Kamu mau belanja juga?" Parto bingung mau tanya apa.


"Tadi ambil undangan mas..."


Melanjutkan ngobrolnya dengan pesen es dawet yang emang mangkal di depan toko baju tempat Parto, Indah dan Emak berbelanja tadi.


"Diminum Lin, kamu enggak buru-buru kan?" Parto menyerahkan segelas es dawet ke tangan Ralina.


"Makasih ya mas." Ralina menerima es dari Parto.


"Nikahnya aja masih lama kok mas, tiga bulan lagi. Dan iya aku enggak buru-buru kok. Mas Parto katanya juga mau nikah sama pacarnya ya?" Tanya Ralina menelisik.


"Iya. Kamu tahu dari pak Agus?" Obrolan makin menarik bagi mereka.


Ralina mengangguk. Mengaduk pelan es dawet yang dia pegang. Seperti memikirkan sesuatu.

__ADS_1


"Kenapa Lin? Kamu tak undang kok. Cuma mungkin undangannya belum dikasih ke kamu. Aku titipin ke pak Agus."


"Bukan itu mas.. kayaknya kok cepet banget ya mas To tahu-tahu mau nikah aja.. pacaran sama ceweknya udah lama ya?" Pertanyaannya kok gitu?! Hmmmm.


"Udah. Iya namanya jodoh Lin, kamu malah lebih gercep dari aku. Kapan pacarannya kok tahu-tahu udah dilamar sama calon suamimu, langsung diajak nikah lagi," Parto tersenyum.


"Ya gimana mas.. nunggu sampeyan ya enggak mungkin." Memandang serius ke arah Parto.


"Eh.." Parto agak terkejut dengan jawaban Ralina.


"Bercanda mu bikin aku mendadak migren Lin hahaha." Tawa Parto hilang saat mendengar ponselnya berbunyi.


Shela. Calon istrinya itu menelpon, tanpa Parto ketahui Shela tengah ada beberapa meter dari jarak dia nyendol dawet bareng Ralina.


Parto langsung mengangkat teleponnya.


Parto: Assalamualaikum, ya La.


Di seberang sana tidak memberi jawaban.


Parto: Halo.. calon istriku, calon ibu dari anak-anakku, denger salamku kan ya?


Shela: Waalaikumsalam! Baru calon! Kalau kamu enggak pergi dari tempatmu duduk sekarang, calonmu ini bisa jadi mantanmu!


Seketika Parto menyisir ke segala arah. Mencari keberadaan pemilik hatinya. Menyadari sesuatu jika Shela tengah memperhatikannya, dia tak mau makin membuat si penelepon ngambek, Parto langsung berdiri dan sedikit menjauh menjaga jarak dari tempatnya tadi nyendol bareng Ralina.


Parto: Jangan ngawur kalau ngomong. Kamu dimana?


Shela: Dulu kamu bilang aku di hatimu, sekarang tanya aku dimana? Aku ngungsi di dengkulnya!

__ADS_1


Sengak. Tanda yang menelepon sedang dalam mood yang tidak baik-baik aja. Parto melihat sosok itu, sosok memakai cardigan rajut, duduk di motornya, memegang ponsel yang masih dia letakan di telinga.


Parto langsung menghampiri Shela tanpa memperdulikan Ralina yang masih bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, Ralina memperhatikan semua gerak-gerik Parto. Sampai akhirnya dia tahu bahwa ada seseorang yang sedari tadi memperhatikan dirinya dan Parto nyendol dawet di depan toko.


__ADS_2