
Parto tersenyum mendengar ucapan Shela. Ada yang lucu To? iya.. ekspresi Shela saat ini lucu. Dia jutek ke Parto tapi tetap nurut sama ibunya, bahkan saat ibunya meminta dia memanggil Parto dengan sebutan mas, Shela juga menurut saja.
Setelah makan malam, Parto di ijinkan pulang oleh ibunda Shela. Padahal Parto terus menolak saat di ajak makan bersama, tetapi bujukan ibu Shela selalu bisa meluluhkan hati Parto. Lho Baju Parto kan basah kena hujan tadi, kok enggak di suruh ganti? Berkali-kali ibunda Shela meminta Parto untuk mengganti bajunya, agar tidak masuk angin.. akan tetapi untuk hal yang satu itu Parto menolaknya mati-matian.
Yang benar saja, jika sekali dia kehujanan dan terpaksa harus memakai daster bunga-bunga saat itu dia bisa maklum. Tapi, jika hal itu terjadi lagi.. itu namanya jatuh ke lubang yang sama dua kali. Mengulang sesuatu yang dia sendiri malu saat mengingatnya. Rasanya seperti orang bodoh jika dia beneran mengganti bajunya seperti permintaan ibunda Shela. Meski dia tidak tahu dengan apa atau dengan baju siapa dia akan ganti baju.. pokonya
hora tek (enggak).
Satu yang dia tahu, di rumah Shela tidak ada lelaki.. itu artinya dia disuruh ganti pakaian dengan daster yang dulu pernah dia pakai? Lebih baik kudungan kresek wae To (pakai kerudung plastik kresek aja To).
"Mas Parto ini beneran bisa bawa brownies empat kardus gini? tangan Mas kan sakit.. Apa minta antar Shela aja?"
"Lho lho Ibu ini, apa to Bu.. emoh ah!" Shela langsung menjawab perkataan ibunya.
"Saestu saget Budhe (beneran bisa Tante) Bawa beban lebih dari ini aja sering. Terimakasih banyak ya Budhe.. Dek, Aku pulang dulu ya,"
Parto memandang Shela yang sudah sibuk bermain dengan hpnya. Hanya menjawab dengan 'hmmm' saja. Sungguh sopan sekali kamu nak.
"Ibu yang harusnya berterimakasih lho Mas.. Mas To malah pesen kue banyak, Alhamdulillah semoga keluarga di rumah suka ya Mas. Mas To hati-hati, itu tangan pasti sakit buat nyetang, jangan ngebut.. udah malem juga." Parto tersenyum, ibunda Shela benar-benar merasa kalau Parto adalah pacarnya Shela. Lagi pula, sikap Parto yang selalu sopan saat bertemu membuat ibunda Shela mudah akrab dengannya.
Setelah berpamitan, Parto beneran pulang dari rumah Shela. Shela salim enggak To? Jangan mimpi.. itu kan yang di ucapkan Shela, iya enggak mimpi.. gimana mau mimpi kalau dia aja belum tidur. Dengan terpaksa Shela dua kali menaruh tangan Parto di keningnya. Belum bisa dikatakan salim sih karena, dia kan enggak cium tangan Parto. Hal itu saja udah buat hati Parto jingkrak-jingkrak.
Meskipun Shela terpaksa melakukannya tapi, Parto tetap merasa senang. Hingga saat ini baru Indah saja yang mencium tangannya, itu juga jarang sekali Indah lakukan.. dan sekarang ada cewek selain adiknya yang mau mencium tangannya. Hal yang luar binasa, biasa maksud saya.
Meski kesulitan, Parto berusaha untuk batek (kuat) mengendarai sepeda motor. Pasalnya, sayatan beling tadi mengenai tepat di telapak tangan Parto. Membuat dirinya menahan sakit saat nyetang motor.
Perjalanan satu jam terasa sangat lama untuk Parto dengan tangan yang nyeri seperti ini, sesampainya di rumah, dia disambut oleh senyum sumringah Seno. Lah, ngapain ini manusia satu kesini? modus banget mau ngapel. Ini hari apa oee? Mentang-mentang baru jadian ngapelnya los, enggak kenal hari.
__ADS_1
"Assalamualaikum.." Parto mengungkap salam saat memasuki rumah.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarrokatuh, dari mana To?" Tanya Seno yang melihat Parto kucel, Parto menaruh empat kardus brownies yang dia beli dari ibunda Shela tadi di meja.
"Kamu tanya aku kayak gitu kok berasa anak kecil yang pulang main lalu kena omel bapaknya ya Sen!" Parto meninggalkan Seno, dia berjalan ke kamar. Berniat mengganti baju saja, tanpa mandi. Setelah selesai, Parto kembali ke ruang tamu.
"Maaf aku tinggal ganti baju tadi, Indah mana Sen?" Parto clingukan mencari adiknya. Seno lebih memperhatikan kain kasa yang membalut tangan Parto.
"Tanganmu kenopo? kesegrek arit pas ngarit opo? (kena sabit waktu cari rumput apa?)"
"Keno beling, Indah ndi? (terkena beling, Indah mana?)"
Dua kali Parto menanyakan adiknya kemana kepada Seno,
"Indah salin klambi, kutahan nganuku mau (Indah ganti baju, ketumpahan anuku tadi)"
Indah keluar dari kamar, aroma parfum buah melon tercium saat indah berjalan mendekati Parto.
"Mas To.. tangannya kenapa?" tanya Indah melihat tangan kakaknya.
"Digigit kunti," jawab Parto asal.
"Astaghfirullah Mas To, aku kok kalau ngomong sama kamu mok jutekin wae, sakjane aku iki salah opo? (sebenarnya aku ini salah apa?)"
"Emak sama Bapak mana Ndah?" Parto ogah memperlebar bahasan tentang jutek itu. Pikirannya langsung tertuju pada Shela.
"Ada di kamar, tadi juga di sini ngobrol bareng Mas Seno.." Indah melihat ke arah meja yang sekarang dipenuhi kardus brownies.
__ADS_1
"Mas.. ini punya siapa? banyak banget.. Mas aku buka satu ya?"
Parto hanya mengangguk sambil memejamkan matanya tanda mengiyakan pertanyaan Indah. Seno yang melihat pacarnya seperti anak kecil yang dapet jajan, hanya tersenyum. Apapun yang Indah lakukan saat ini tak luput dari perhatian Seno.
Indah membawa semua bungkusan brownies itu ke dapur.
"Dari mana To?" Tanya Seno.
"Rumah temen,"
"Temenmu yang mana?" Seno tersenyum melihat Parto melotot ke arahnya.
"Kamu ini kayak emak aja, apa-apa musti di jelasin dari pucuk sampai bonggol." Seno makin ngakak mendengar perkataan Parto.
"Lah kamu ngapain kesini Sen? Ngapel juga liat hari lah.. ini masih Senin, yang bener aja!" Giliran Parto yang bertanya kepada Seno.
"Aku kan enggak ngapelin kamu.. kok kamu yang sewot, emang ada larangan berkunjung di hari Senin To? Kangen kan enggak kenal hari..!"
"Aku kok berasa pengen muntah Sen, kamu lebay banget lah..!"
"Bukan lebay To, nanti saat kamu suka sama seseorang kamu baru bisa rasain kayak aku sekarang. Mau tidur aja enggak bisa kalau belum baca ucapan selamat malam dari dia, rasanya pengen deket Indah terus To.."
Parto terdiam memikirkan kata-kata Seno.
"Tidur tinggal merem kok susah! Yang bikin itu susah ya dirimu sendiri Sen," Parto akhirnya bersuara.
Enggak mau berdebat dengan Parto, Seno hanya tersenyum saja menanggapi ucapan Parto. Mau dijelaskan seperti apa kalau Parto belum merasakan sendiri sensasi debaran jantung saat melihat pujaan hati tersenyum seperti yang Seno rasakan ya susah.
__ADS_1
Yang tidak Seno ketahui.. sebenarnya Parto pun telah dijajah hatinya oleh seorang perempuan manis bak bidadari tapi punya sifat nini kunti.