
Hanya marah-marah saja ternyata juga bisa menguras tenaga. Terbukti Shela sampai menghabiskan satu botol air mineral yang dia beli dari pedagang pop es tak jauh dari lokasi tempatnya ribut dengan Parto barusan. Shela sengaja tidak kembali lagi ke tempat acara resepsi sepupunya itu karena malu dengan tamu yang lain dan malas ketemu Parto.
Berniat pulang saja, Shela menuju tempat parkir. Mencari letak motornya diantara banyaknya motor yang lain. Setelah dia menemukan motor maticnya, diperhatikan betul-betul dan di amati lagi motor itu, dia tidak mau mengulang kesalahan yang sama. Salah mengenali motornya sendiri.
Panas banget di sini, aduh orang-orang ini markir motor kok pada enggak rapi gini. Ini gimana caranya aku keluarin motorku dari sini. Seketika aku pengen punya kekuatan kek Captain Marvel yang kuat tak tertandingi itu biar bisa keluarin motorku dari sini pake kekuatan manipulasi gravitasi.
Shela bingung memikirkan cara supaya motornya bisa keluar dari area parkir itu agar secepat mungkin dapat meninggalkan lokasi pernikahan sepupunya yang sudah membuat dia malu tadi.
Parto yang melihat Shela sibuk memindahkan dan menggeser posisi motor lain demi untuk membuat motornya keluar dari kerumitan posisi parkir yang menjebak motornya itu hanya tersenyum-senyum sendiri.
Sepuluh menit adalah waktu yang lama, dan Shela merasa frustasi sendiri dengan kesemprawutan baru yang dia bikin sendiri. Panasnya terik matahari siang itu makin menambah tingkat emosi Shela.
Ini apa enggak ada orang yang mau nolong aku apa gemana sih? Jian semuanya pada nyebelin. Aku nyesel banget tadi kesini bawa motor dewe, harusnya bareng ibu tadi naik travel. Ah, ini semua gara-gara manusia akhlakless itu..
Makin lama emosi Shela makin menjadi. Dan biang dari semua kekesalan Shela adalah Parto. Iya, Shela menobatkan Parto sebagai orang yang menyebabkan harinya kacau, orang yang wajib dia hindari keberadaan sekarang.
"Perlu bantuan?" Ucap Parto yang melihat Shela sudah kepayahan dan keringat mulai bercucuran di wajahnya.
"Ora butuh! Minggato kowe (enggak butuh! Pergi kau)" Shela masih mementingkan egonya.
"Yakin?"
"Kalau niat bantuin itu langsung bergerak aja! ngapain pake tanya.. dasar cowok enggak peka! Kamu seneng kan lihat aku kesusahan kek gini, dasar nyebelin!" Shela menyeka keringat di dahinya. Parto bukannya enggak peka, dia tahu harus ngapain tapi sebelum itu setidaknya dia basa-basi dulu untuk menanyakan kepada Shela apa dia butuh bantuannya atau tidak.
Dan sudah bisa di tebak Shela pasti malu mengakui kalau sebenarnya dia memang butuh bantuan untuk sekedar mengeluarkan motornya dari tempat parkir itu.
__ADS_1
"Parkiran lucknut! bikin susah orang aja!"
Parto melotot mendengar makian Shela.
"Mulutmu itu bisa enggak di kasih filter, enggak enak banget ngomongnya." Tanpa memperdulikan ucapan Parto, Shela tetap ngoceh tanpa henti.
Setelah berhasil mengeluarkan motor Shela dari kerumitan tempat parkir tadi, jangan berpikir ada adegan mengelap keringat yang dilakukan Shela ke dahi Parto kayak di pilem-pilem. Sungguh, semua itu tidak terjadi.
Shela malah langsung tancap gass tanpa berkata apapun. Mulutnya sudah cape ngomel-ngomel dari tadi sehingga melupakan atau mungkin sengaja enggak mau bilang 'Terimakasih' dulu kepada Parto karena telah membantunya menyelesaikan masalah motornya tadi.
"Moga aja aku enggak ketemu dia lagi," Ucap Parto yang juga akan beranjak dari tempat dia berada sekarang. Meninggalkan tempat parkir dan kediaman Mela yang masih rame karena acaranya belum selesai.
Parto menuju rumah Seno. Setengah jam perjalanan membawanya sampai di alamat yang dia tuju. Dia sudah bisa menebak kedua temannya itu ada di sana.
"Assalamualaikum.." Parto nyelonong masuk karena memang pintu rumah Seno dibiarkan terbuka. Terlihat Beni sedang tertidur di sofa ruang tamu. Dan Seno? dia sibuk bermain dengan hpnya, sudah bisa di pastikan kesibukan yang sama sedang di lakukan oleh Indah di ujung desa sana.
Parto duduk di samping Seno yang langsung meletakkan hpnya di atas meja.
"Asyem.. kamu langsung ingetin aku sama dia aja. Eh itu Beni kenapa? Enggak mabok kan dia?" Parto memperhatikan Beni yang tertidur dengan tangan kanan di letakkan di atas dahinya. Kelihatan banget seperti orang yang kebanyakan beban pikiran.
"Dia enggak mendem ko .. katanya semalem dia lembur kerja terus tadi pagi kan langsung tak ajak ke tempat ka_winannya Mela. Belum merem blas itu dia."
"Oowh tak kirain mendem (mabok), Sen aku pinjem bajumu ya.. aku mau mandi. Gerah banget ini."
"Iyo gari jipuk kono, (iya tinggal ambil sana,) Abis mandi cerita ya.."
__ADS_1
"Cerita apa?"
"Tentang caramu jinakin kucing liar di tempat Mela tadi hahaha, aku sampai speechless lho To tadi.. Lihat kamu narik tangan nini kunti kok kayak adegan di tipi-tipi. Sayang banget aku enggak lihat lagi terusane tadi kek apa,"
Parto enggak menjawab. Dia masuk ke kamar Seno lalu mengambil baju untuk ganti. Berjalan ke arah kamar mandi dan menyelesaikan apa yang perlu di tuntaskan di sana.
Beni terbangun karena suara hpnya terus berbunyi. Seno yang melihat itu hanya mesem saja.
"Hmm.. Waalaikumsalam, aku di rumah Seno Mbak, iya nginep.." Ternyata hp Beni yang sedari tadi berbunyi karena ada panggilan telepon dari Mbak Lulu.
"Owh ya udah Mbak.. waalaikumsalam"
Beni memutuskan panggilan telepon dari Mbak Lulu. Masih dengan posisi yang sama, selonjoran santuy, dia meregangkan otot-ototnya yang kaku. Bahasa gaulnya ngolet.
"Kenapa?" tanya Seno kepada Beni.
"Disuruh pulang, Mbak masuk shift malem, ibu di rumah sendirian.. kesian." Beni duduk, mengambil sebatang rokok yang ada di atas meja yang tadi dia letakkan di sana sebelum tertidur. Hendak menyalakan korek api, dia di kagetkan oleh Parto yang melempar baju batik yang baru saja dia pakai.
"Udut wae.. keropos kui ngko paru-parumu. (Merokok melulu.. keropos itu nanti paru-parumu)"
"Njiir, kapan kamu nyampe sini? bukane tadi masih ea ea di tempat Mela sama cewek kuntimu?" Seno yang mendengar perkataan Beni hanya tertawa. Parto duduk di sebelah Beni.
Beni tidak jadi merokok karena dipelototi oleh Parto saat akan kembali menyalakan korek apinya.
"Cerita To.. Asyem banget kamu, seleramu duwur jebule (tinggi ternyata). Cewek juteknya kebangetan aja bisa kamu taklukkin gitu," kata Beni semangat.
__ADS_1
"Nah setuju, age ndang cerito.. (buruan cerita)"
Parto menarik nafas dalam. Mengingat kejadian tadi siang membuat dia kembali gemes, gemes sama cewek yang baru tiga kali ketemu tapi udah bikin dia nekat memegang tangan bahkan sampai memeluknya di depan umum.