
"Awas aja kalau Seno berani meluk-meluk Indah," Parto bergunam saat melihat Indah masih diem belum menunjukkan tanda-tanda akan melepas balon yang ada ditangannya.
"Kalau malah di ajak civokan sama Seno piye To hahaha" Beni selalu bisa jadi kompor.
"Ntutmu.. tak jepretin karet lambemu iku kapok!" Mendengar ucapan Parto, Beni malah makin ngakak.
"Aku yo emoh nek cuma dapet tangannya aja, perjuangan bertahun-tahun lho To, kamu enggak sakno karo Seno hmm..?" Beni keknya lebih cocok jadi anaknya Mbak Sri aja, suka banget bikin panas ati.
"Udah diem aja kamu Ben, ngomong terus bikin aku makin pusing."
Beni melihat Parto cemberut, dia malah makin bersemangat menggoda temannya itu.
Kok mereka bisa punya ide bersatu padu untuk bantuin Seno buat nembak Indah? dapet ide darimana itu? Jadi.. waktu di empang itu Seno udah ngasih kode kepada dua temannya. Mengajak mereka masuk ke rumah dan membicarakan apa yang ingin dia lakukan. Emang Seno mau lakuin apa? Ya nembak Indah itu, elaah pake nanya.
Tadinya Parto ogah bantuin, apa-apaan kayak enggak ada kerjaan lain aja. Emang Parto punya kerjaan lain apa? Enggak ada. Silahkan tertawa. Tapi, setelah Beni ikut membujuk Parto, akhirnya Parto menyetujui untuk membantu rencana Seno mengungkapkan perasaan pada Indah. Tim dibentuk, Beni bagian jaga target di rumah. Wah tugas enteng ini sih. Parto ikut Seno ke lapangan, mau main bola? Iya.., serah mau main apa asal jangan mainin hati yang nulis aja.
Di lapangan, Seno minta Parto untuk membantunya menaikkan layangan dengan ukuran jumbo.
"To.. kamu yang semangat lah To, masak cuma ngiburke (terbangin) layangan kek gini aja kamu enggak bisa? Ini selak (keburu) malem lho.."
"Ceriwis banget sih kamu.. kamu yang mau buru-buru ya kamu aja ni yang nerbangin! Kamu enak cuma ngumbul-ngumbulke tok! Aku mok kon lari sana lari sini, dasar temen lucknut!! Sakjane aku oleh opo mok kon rekoso ngene hah?? (Sebenarnya aku dapat apa kamu suruh menderita begini hah??)"
Parto kesal karena merasa dijolimi Seno. Akhirnya mereka bertukar posisi, Seno yang nerbangin layangan Parto bagian eaa eaa aja. Lucu ya, cowok udah gede tapi mainnya layangan.. ya daripada mainin perasaan orang. Bisa dikirimi santet via online nanti.
Layangan berhasil diterbangin, cape.. iya pasti. Seno aja sampai ngos-ngosan. Parto tersenyum melihat Seno yang bermandi keringat,
"Makanya kalau mau nembak cewek ya selajimnya aja (dibaca selazimnya aja), kamu ini nyusahin diri sendiri dan orang lain. Kalau ditolak mampus kamu," Parto meneguk air mineral yang dibeli Seno tadi bersamaan dia membeli balon lope-lope yang masih kempes.
"Namanya berjuang To, aku enggak mau cuma modal omdo (omong doang)! Indah dan kamu juga harus tau aku enggak main-main soal perasaanku. To.. itu kok aku beli balonnya kek gitu, bisa terbang ga itu?" Seno memperhatikan balon warna merah yang masih tergeletak tak berdaya disamping Parto.
__ADS_1
"Kamu dulu sekolah apa enggak? kalau mau balonnya terbang itu isinya helium bukan ababmu tok! (napasmu aja!) Makin enggak waras kamu ya.. kamu pikir modal napasmu bisa bikin balon itu terbang hah? ngawur aja..!"
"Lah.. iya aku lupa, kok enggak kepikiran ya To, lha terus ini piye To?"
"Lha mbuh.. (sabodo) aku males mikir!"
Seno gemas dengan jawaban Parto. Dan lagi bisa-bisanya dia enggak kepikiran kalau yang bisa mibur (terbang) itu balon helium bukan balon tiup! Enggak kurang akal Seno buru-buru menghidupkan motornya. Mau kemana? Cari penjual balon helium lah.. mau minta diisiin udara itu balonnya. Carinya kemana? Hiiih tanya mulu tak bubarin kelian lho.
Sen.. kamu biasanya paling waras di antara kita kok sekarang berubah jadi paling enggak waras.
Dalam sepuluh menit Seno kembali ke lapangan. Di sana masih ada Parto yang memainkan hpnya. Wah tumben, sibuk ni keknya Parto. Iya lah.. sibuk baca status orang di pecabuk.
"Wah sangar.. dapet helium dari mana Sen?" Parto yang melihat Seno datang dengan membawa balon yang sudah terbang sedikit kagum karena Seno terniat banget keknya.
"Tak isi gas elpiji ini To hahaha"
"Iyo, mben njeblosi lambemu kui (iya, biar meledak di bibirmu itu)"
"To.. kamu telepon Beni ya! kasih tahu dia semua udah ok.. aku mau ngiket balon ini dulu. Takut terbang." Parto hanya mengangguk saja.
Parto menekan nomer Beni, melakukan panggilan telepon.
Parto: Rampung! Ndang rene (Kelar! Buruan kesini)
Beni: Piye? Opo? Heh yang bener.. astaghfirullah,,
Parto: Syedeng kowe yo?
Beni yang ada di belahan desa lain sana langsung mematikan telepon. Seno melihat ke arah Parto, bertanya pada Parto dengan isyarat alis di naikan 'gemana?'. Parto hanya menjawab dengan mengangguk saja. Tanda udah beres semua. Tinggal nunggu Indah datang kesini aja dengan membawa debaran jantungnya.
__ADS_1
...----------------...
Saat ini Seno merasakan kegugupan di dalam hatinya, tapi dia mencoba setenang mungkin dihadapan Indah. Matanya intens menatap kedua mata Indah. Seperti memberi tahu Indah kalau dirinya bersungguh-sungguh dengan apa yang dia ucapkan.
Indah tersenyum menatap Seno, balon berbentuk lope-lope itu di tariknya mendekat ke arahnya dan di peluknya. Artine opo kui? Indah menerima Seno?
"To.. Selamat, Seno bakal jadi adik iparmu!" Ucap Beni yang melihat Indah mendekap balon helium itu. Parto diam saja. Dan sudah bisa dipastikan Seno garing eh girang banget. Udah kek gitu doang? enggak ada adegan hmm piye ngono lho (gemana gitu lho).. Kelian mikir apa wahai reader budiman dan budiwati?
Tiba-tiba balon yang didekap Indah terlepas dan melayang ke udara.. hah? Seno mengedipkan matanya seolah enggak percaya. Ini gimana, jadi Seno di tolak? Beni dan Parto pun ikut kaget karena balon yang terbang itu. Apalagi Seno, dia langsung lemas. Seakan kakinya enggak mampu menopang dia berdiri.
"Mas Seno.." Panggil Indah saat melihat Seno tertunduk, rasanya wes mbuh. Seno mencoba rapopo (enggak apa-apa). Dia menatap Indah kembali. Menelan salivanya guna membasahi tenggorokan yang mulai kering.
"Dalem.. Iya Ndah, aku enggak apa-apa.."
Yakin enggak apa-apa? Bohong, terlihat jelas ada kekecewaan di wajah Seno. Dia sudah yakin, dia optimistis bahwa Indah akan menerima dia tapi, kenyataannya.. Seno hanya tersenyum. Tersenyum yang dipaksakan.
"Mas Seno.. aku.." Indah belum selesai bicara tapi Seno sudah memotongnya.
"Iya.. aku tahu Ndah, enggak usah ngasih alasan kenapa kamu enggak bisa sama aku.. kita pulang aja ya, aku panggil Parto buat nganterin kamu pulang."
Beni dan Parto merasa kesian kepada Seno. Timbul rasa simpati di hati kedua orang itu untuk Seno.
"Sen sakno men kowe (Sen kesian banget kamu)" Ucap Beni yang melihat Seno masih berdiri di depan Indah. Parto masih diam tanpa berkomentar apapun. Entahlah tadinya dia ingin Indah melepaskan balon itu tanda penolakan perasaan Seno untuk Indah. Tapi, setelah melihat Indah beneran melepaskan balon itu, ada rasa yang Parto sendiri enggak bisa menjelaskan.
"Mas Seno.. bisa dengerin aku ngomong dulu,"
Indah menarik tangan Seno. Tangan Indah berkeringat, dia gemetar. Seno mengangguk, hanya itu yang bisa Seno lakukan. Rasanya seluruh tenaganya hilang ikut terbang bersama balon lope-lope tadi.
__ADS_1
Aaach Mas Seno menggalau....