
Hari mulai pagi, Indah sudah ada di klinik bersama emak dan bapak. Dari datang sampai bertemu anak sulungnya, emak tak habis-habisnya memberi siraman kalbu. Ngomong tanpa jeda, membuat pening siapapun yang mendengarnya.
"Kan emak udah kasih tahu sama To, itu motor butut dimuseumin aja! Udah ndak layak buat angkut orang. Masih aja di pakai. Ndak denger omongan emak ya jadinya kayak gitu! Ngeyelan!" Lanjut emak, sekarang emak ganti menyalahkan si ayam. Padahal ayam juga korban di sini, kesian sekali nasibmu yam..
"Kan kita ndak tahu penyebab Parto jatuh mak, siapa tahu ditabrak orang, namanya juga musibah mak.. yang penting Parto ndak apa-apa." Bapak tahu sebenarnya istrinya sangat mencemaskan putranya. Beliau hanya bisa ngomel-ngomel untuk menutupi kekhawatirannya,
"Apanya yang ndak apa-apa? pakne ini lihatnya gimana to? Muka udah kayak mumi banyak tambalan gitu kok, belum lagi itu tangannya, patah pasti itu! Emang pakne tahu rasanya kayak apa? Bisa bilang ndak apa-apa lagi, udah diem aja pak kalau emang ngomong pun malah bikin emosi!!" Emak mulai emosi jiwa karena bapak bilang Parto enggak apa-apa.
Indah menghela nafas, ini emak sama bapaknya kok malah ribut sendiri.
"Mak.. mas To enggak ditambal itu, dikira muka mas To ban motor apa pakai ditambal segala." Indah memberi komentar juga akhirnya.
"Iya ndak ditambal tapi didempul!" Makin ngawur.
"Mak.. jangan berisik nanti ditegur sama petugasnya lho," Indah mendekati emaknya yang duduk di bangku agak jauh dari tempat Parto berbaring.
"Mending kamu bilang sama suster sana Ndah.. suruh kasih plester di bibir emak biar bisa diem." Bapak ngajak perang rupanya,
"Bapak aja yang diplester mulutnya. Kalau perlu dijahit sekalian!!" Emak udah kesal makin kesal lah beliau.
Mendengar keributan yang diciptakan oleh emak dan bapaknya, Parto akhirnya bangun juga. Shela yang sedari tadi ada di sampingnya, langsung menyambut dengan senyum saat Parto membuka matanya.
"Udah bangun?" Tanya Shela dengan suara lembut.
__ADS_1
"Apanya?" Balik bertanya,
Senyum di wajah Shela langsung pudar. Mukanya cemberut saat Parto tanya 'apanya'.
"Ya kali aku tanya burungmu yang bangun?" Bisik Shela tepat di telinga kanan Parto. Parto yang tadi belum sadar betul jadi membuka lebar matanya.
"Jangan mulai La,, aku lagi kayak gini kamu mancing mulu" Agak berdehem menetralkan debaran jantungnya karena ucapan Shela barusan.
Emak, bapak dan Indah langsung mendekat saat tahu Parto sudah bangun. Bisa ditebak, emak menjadi pelopor terjadinya kuping berdenging karena semua kalimat panjang lebar beliau untuk Parto. Dari menyalahkan ayam, sampai menyuruh Parto kiloin si ayam aja ke tukang loak!
"Mbak Shela udah makan?" Tanya Indah mencoba mengalihkan pembicaraan agar suasana sedikit lemes enggak tegang lagi.
"Udah Ndah, oiya.. To makan ya, aku suapi" Shela membantu Parto untuk duduk.
"Bisa kan kamu yang bikin berdiri," Emak melotot mendengar ucapan Parto. Shela hanya tersenyum tanpa menjawab. Sedang Indah pergi keluar, karena di luar ada Seno yang duduk santuy sambil ngobrol dengan Beni.
Emak langsung menoel bapak agar mundur mengikuti beliau.
"Apa Mak?" Bisik bapak.
"Abis keluar dari klinik kita sah kan aja itu To sama Shela. Kok emak cium kode-kode bahaya diantara mereka!" Emak ikut berbisik-bisik.
"Sah kan? suruh nikah gitu?" Manggut-manggut tapi belum ngeh kearah mana istrinya bicara.
__ADS_1
"Ya iya! Tadi bapak denger kan? Mereka bilang berdiri berdiri gitu? Bahaya itu pak!" Emak makin memelankan suara agar Parto dan Shela enggak denger apa yang mereka bicarakan.
"Apa lho mak? Bapak malah ndak ngerti," Bingung dong bapak! Iyalah.. othor budiman juga ikut bingung ini!
"Alah... bapak ini, itu kode keras pak.. kode keras!" Emak menaikan satu oktaf suaranya, gemes sama bapak yang masih enggak mudeng karena pikiran mereka yang belum bertemu ujungnya.
"Ini malah emak yang ngasih kode ke bapak? Tadi bilang berdiri sekarang bilang keras, ayo pulang aja mak hehehe" Seketika itu juga emak langsung memukul pundak bapak!
"Ngawur! Udah lah.. emak males ngomong sama bapak! Enggak nyambung!!" Berlalu pergi. Kembali mendekati Shela dan Parto.
"Nduk.. Le.. ini kalau abis pulang dari klinik, setelah To sembuh.. Kelian langsung nikah aja mau?" Emak bertanya seperti tanpa beban.
"Biar To ada yang ngandani! (negur atau kasih tahu). Enggak bikin emak cemas mikirin bujang satu ini!" Lanjut emak.
Parto mengedipkan mata bingung, Shela menaruh kembali tempat makan yang sudah separuh kehilangan isinya karena berpindah ke perut Parto.
"Kan masih tiga bulan lagi mak.. kenapa malah dicepetin?" Tanya Shela agak malu sebenarnya.
"Emak kepengen cepet jadi mbah kayaknya To," Tukas bapak tersenyum membela istrinya.
"Nah itu.. iya bener itu!" Emak tertawa tanpa dosa. Membuat Parto dan Shela enggak tahu mau gimana menanggapinya.
Dikira nyetak bayi segampang nyetak kue, ngadon, masukin oven, tunggu dua puluh menit keluar jadi anak!
__ADS_1
Shela tersenyum dengan pikirannya sendiri. Dan Parto yang melihat Shela tersenyum, ikut tersenyum aja. Ya lah.. Mau apa lagi cuba?