
Shela dan Parto melonjak kaget. Parto sampai salah tingkah karena belum bisa menguasai situasi. Cepat-cepat Shela menarik tangannya yang masih digenggam Parto.
"Waalaikumsalam buk, buk kok enggak kedengeran pulangnya... tadi dianterin siapa buk?" Shela berdiri menghampiri ibunya.
"Lha itu sama Jamal, mana bolunya nduk.. biar dibawa Jamal sekalian. Istrinya ngidam pengen bolu katanya."
"Mas, udah lama enggak main ke sini. Kenapa? Mas apa kabar?" Imbuh ibunda Shela setelah Parto menyalami beliau.
"Oalah yang pesen bolu si Jamal. Iya bu, sik tak ambilke dulu bolunya." Shela berlalu menuju dapur. Tinggallah Parto dan ibu yang sekarang duduk santuy di kursi ruang tamu.
"Maaf Bu... kemarin-kemarin banyak carteran. Enggak ada selonya blas, (jedanya sama sekali). Alhamdulillah kabar baik bu,"
Parto selalu bisa mengambil hati ibunda Shela tanpa omongan yang bertele-tele dan muluk-muluk.
"Hati-hati pas bawa mobil ya Mas, jangan ngelamun. Jangan ngebut. Ini tadi sengaja mampir apa disuruh Shela?"
"Njih Bu, tadi sengaja ke sini. Dek Shela ndak nyuruh kok Bu,"
Dan keduanya larut dalam perbincangan ringan. Melupakan Jamal yang masih ada di depan teras rumah,
Shela berjalan melewati ibu dan Parto tanpa senyum. Hanya berlalu pergi untuk menyerahkan kue pesanan Jamal.
"Ya Allah La.. ibu kok lupa, Jamal masih ada di luar! Suruh masuk Nduk...!" Ucap ibu. Shela berhenti dan mengangguk saja.
"Jamal.. Jamal suami Mela bu?" Tanya Parto kepo.
"Lha iya.. kamu kenal Jamal Mas? Itu Mela, istrinya lagi isi, katanya pengen bolu gitu.."
Weeh gerak cepat juga si Jamal. Nikah baru dua bulan udah isi..
"Mas... ibu tak sholat dulu ya, nanti lanjut ngobrol lagi. Itu tehnya diminum ya," Ibu menepuk pundak Parto. Yang punya pundak hanya mesem.
Shela masuk lagi ke dalam rumah. Pandangannya menyapu seluruh ruangan.
"Cari apa?" Tanya Parto.
"Ibu." Jawab Shela singkat.
"Ibu sholat, Jamal mana? kok enggak di suruh masuk?"
"Kamu ini nanyanya kek orang yang punya rumah dan aku jongos mu! Jamal langsung pulang lah, ngapain juga lama-lama di sini."
__ADS_1
Parto berdiri dia berniat pulang.
"Ya maaf kan aku cuma tanya, La.. aku pulang ya,"
"Kamu enggak pamit ibu? apa tadi udah pamit?" Udah kayak detektif aja nanyanya.
"Belum. Tadi disuruh nunggu beliau sholat."
"Lha terus ngapain ngeyel mau pulang, enggak nurut orang tua! Durhaka kamu To?"
"Kamu ini kenapa La.. kayaknya dari tadi nahan aku di sini. Enggak boleh pulang. Kamu kangen sama aku?"
Sambil nyengir menunjukan deretan giginya, Parto kembali duduk diposisi semula.
"Dieh apaan?! Enggak.. siapa juga yang kangen sama kamu!!"
Keduanya terdiam. Bergelut dengan pikiran masing-masing.
"To.. dada mu masih sakit?" Tanya Shela memecah kesunyian.
"Iya... Malah sekarang makin menjadi sakitnya. Ngilu La..."
"Eh yang bener To? Astaghfirullahalazim.. terus piye? Mau periksa aja?" Shela panik.
Parto makin pintar memainkan kata-kata. Enggak rugi dia berteman sama Beni yang jago merakit kata jadi kalimat buat luluhin hati pasangan. Terbukti, sekarang Shela menaikan sedikit ujung bibirnya.
"Kamu salah minum obat keknya! Jadi eror otakmu!"
"Mungkin dulu waktu masih bayi, emak ku lupa belum ngajak aku ke posyandu buat divaksin campak. Nyatanya sekarang aku dicampakkan..."
Shela ngakak mendengar penuturan Parto. Bisa-bisanya dia ngomong kaya gitu.
"To, aku yakin tadi yang kena timpuk kursi bukan bagian dada mu tapi kepala mu! Jelas banget sekarang kamu jadi makin enggak waras."
Apapun lah La... asal kamu selalu senyum bahkan tertawa kayak tadi, mau mok kata gila, enggak waras, kelainan, juga aku ikhlas aja.
Setelah menyudahi sesi obrolan gaje mereka, Parto pamit pulang setelah ibunda Shela menyelesaikan sholatnya dan kembali bergabung bersama kedua anak manusia tersebut.
Kali ini Shela tidak lagi menahan kepergian Parto. Tapi, dia malah ikut mengantar Parto sampai teras depan. Hal yang biasanya enggak pernah Shela lakuin.
Dan karena Shela yang terjun langsung mengantar Parto pulang, ibu hanya mengiyakan saat Parto pamit kepada beliau dengan mencium tangan beliau.
__ADS_1
"Mas pulang ya dek.." Ucap Parto tersenyum melihat Shela yang makin hari makin buat hatinya berflowers.
"Enggak pantes banget! Manggilnya Shela aja udah! Apa sih To pakai dek dek segala. Aku bukan adikmu!"
Parto memberanikan diri menarik tangan Shela, agar mereka semakin dekat. Mengikis jarak antar keduanya.
"Jangan macem-macem To," Lirih Shela tanpa berniat menepis jarak mereka.
"La.. aku butuh kepastian, kamu gimana? Mau jadi pacarku?"
Sekali lagi Shela dibuat sesak karena ulah Parto yang membelitkan tangannya di pinggang ramping Shela.
"Lepasin, kamu gila ya.."
"Jawab La..." Ucap Parto memohon.
"Aku..."
"Mas ini kontak motornya masih di meja, mau dituntun apa itu motornya?" Seru ibu Shela di depan pintu.
Lagi-lagi Parto dan Shela seperti mengulang kisah di awal part. Saat detik eksekusi sudah dijalankan, mereka harus dihadapkan dengan situasi yang 'aaargh' kayak gini, lagi.
Shela tersenyum karena melihat raut muka kecewa dari Parto. Sambil berjalan kembali ke arah pintu rumah Shela untuk mengambil kontak motornya yang sekarang dibawa ibunda Shela, Parto berucap..
"Aku cuma butuh kata 'iya' dari kamu,,,"
Entah apa yang Parto dan ibu Shela bicarakan, Shela enggak bisa mendengar dan menebaknya karena jarak mereka yang lumayan jauh.
Shela mengingat sesuatu, di dalam jok motor ada sesuatu yang dia beli untuk Parto. Hah? enggak salah? enggak.. emang Shela membeli something untuk Parto waktu di toko kado tadi siang.
Setelah Parto kembali ke motornya, Shela sudah menyambutnya dengan pandangan mata berbinar.
"La.. maaf ya, tadi aku enggak sopan,"
Shela tidak menggubris ucapan Parto. Dia malah menyerahkan kotak merah berukuran sedang kepada pemilik motor ayam tersebut.
"Apa ini La?"
"Nanti aja sampai rumah kamu bukanya,"
Parto mengangguk. Dia tersenyum. Hatinya sangat menghappy, bayangkan... seorang Shela memberinya kado. Bahkan saat ulang tahunnya sangat jarang ada yang memberinya hadiah.
__ADS_1
"La.. makasih banyak... aku pulang ya,"
Shela mengangguk. Dan kedua insan itu akhirnya berpisah. Parto harus kembali ke rumah, pulang untuk mengistirahatkan tubuhnya. Dan Shela, setelah Parto dan motornya berlalu pergi dia segera memasuki kediamannya.