Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Shela Pingsan


__ADS_3

"Ya.. pergi aja! Pergi.. sejauh yang kamu bisa, jangan peduliin aku.." Shela berkata dengan hati seperti tersayat. Lirih dia berucap, berjalan seperti orang linglung menuju motornya. Langkahnya gontai. Dadanya sesak, dia udah berusaha kuat selama ini.. tapi, pelukan Parto malah membuat pertahanannya hancur..


Perasaan ini seperti puluhan tahun yang lalu, saat ayahnya dengan tega pergi meninggalkan dia dan ibunya. Pergi mencari kebahagiaannya sendiri, tanpa beliau sadari.. hal itu membuat luka di hati Shela. Membuat trauma bagi Shela hingga saat ini, dia sangat takut kehilangan. Itulah yang sebenarnya Shela pendam selama ini.


Parto tahu Shela sedang tidak baik-baik saja sekarang ini. Dia mengikuti langkah kaki gadis itu berjalan. Tapi, hal yang enggak disangka terjadi. Shela ambruk. Gadis itu pingsan. Parto yang berdiri tepat di belakang Shela, langsung sigap menangkap tubuh gadis imut itu.


"Astaghfirullah.. Mas Parto, temannya kenapa?" Ralina yang juga melihat hal itu ikut panik dan kaget.


"Dia pingsan Lin, ya Allah La.. kamu kenapa Dek?" Raut muka Parto terlihat panik dan cemas. Dia enggak bisa diam saja dan cuek melihat Shela seperti sekarang ini, itu bukan sifatnya.


"Mas.. bawa temennya ke kamar Dira, kesian ini Mbaknya ya Allah.. mukanya pucet banget Mas, piye iki.."


Parto menuruti ucapan Ralina. Dia mengangkat tubuh Shela, menuju kamar Dira. Dira adalah anak pertama pak Agus.


"Lho To.. Mbak yang nganter roti kenapa itu?"


"Pingsan Paklek.. Paklek pinjem kamar Dira dulu ya, kesian ini mbaknya.." Pertanyaan Pak Agus di jawab oleh Ralina. Karena sekarang fokus Parto hanya pada Shela. Dia bahkan terus menatap wajah Shela yang pucat dengan mata terpejam, membuat Shela terlihat seperti snow white. Pak Agus ngintilin mereka dari belakang, sepertinya dia ingin tahu keadaan Shela.


Sampai di kamar Dira, Parto merebahkan tubuh Shela dengan hati-hati. Ralina yang berada di belakang Parto tadi datang dengan membawa minyak kayu putih dan segelas air putih hangat.


"To, ini sebenarnya ada apa? Mbak ini kenapa?" Pak Agus lagi cosplay jadi polisi ini ceritanya. Tanya ini dan itu. Kepo ternyata sudah mendarah daging di semua lapisan masyarakat.


"Enggak tahu pak Agus.." Parto terus menatap wajah Shela tanpa mau berpaling sedikitpun. Ralina mengoleskan minyak kayu putih di sekitar hidung Shela agar dia segera sadar.


"To, Lin, aku ke depan lagi ya.. itu mbaknya kalau udah bangun nanti kasih makan ya Lin, laper pasti dia.. itu perutnya kecil gitu, makanya pingsan.." Pak Agus ini, semuanya di ukur dengan perut. kalau pingsan berarti kelaparan. Kok gemes ya pen nyubit pak Agus pake tang.


La.. aku salah apa lagi to ini, aku bingung kalau kamu kayak gini. Aku kudu piye La.. Kamu buat aku dilema. Antara bertahan dan berjuang untuk kamu atau mundur pelan-pelan dan tutup buku. Bangun La.. ya Allah, aku beneran takut banget lihat kamu sampai pingsan kayak gini.


"Mas Parto cemas banget.. Mbak ini pacarnya mas Parto ya?" Tanya Ralina yang akan membalur minyak kayu putih ke perut Shela.


"Mas Parto hadap belakang dulu, aku mau kasih mbak ini kayu putih di perutnya." Lanjut Ralina.


"Iya.. kasih aja Lin, aku juga enggak akan nengok kesitu.." Parto tetap mengamati wajah baby face Shela yang masih kelihatan pucat.


"Mas Parto belum jawab pertanyaanku.. Mbak ini pacarmu to Mas?"

__ADS_1


"Iya Lin.." jawaban singkat Parto membuat Ralina ber 'oooo' saja.


"Mas To, aku ke luar dulu ya.. tak bikinin teh anget dulu buat si mbak pacarnya Mas Parto."


Ralina berjalan keluar kamar Dira. Parto memberanikan diri menggenggam tangan Shela. Terasa dingin. Dia kemudian mengecek suhu badan Shela dengan meletakkan telapak tangannya di kening Shela, syukurlah Shela enggak demam. Lalu apa yang membuatnya sampai pingsan seperti ini?


Shela bisa pingsan karena tubuhnya bereaksi berlebihan saat dihadapkan dengan pemicu pingsan itu sendiri.. seperti adanya perubahan emosi yang ekstrim pada dirinya. Pingsan adalah kehilangan kesadaran sementara yang berlangsung tiba-tiba. Karena adanya gangguan pada aktivitas saraf di korteks otak besar yang bisa menyebabkan seseorang tak sadarkan diri.


Perempuan cenderung mudah terkena syok emosional atau emotional shock, rasa takut yang berlebihan, kondisi penuh tekanan memicu respon syok pada sistem kardiovaskular yang akan mengakibatkan pingsan. Weeh thor tumben kamu ngetik sesuatu yang berfaedah.. hahaha aku enggak sedudul itu wahai readers budiman.


Shela menggerakan jemarinya, terasa oleh Parto saat Shela melakukan gerakan kecil itu. Karena memang tangan Parto masih menggenggam jemari Shela, seolah menyalurkan kehangatan untuk gadis imut itu.


"Alhamdulillah ya Allah.. La.. minum dulu Dek, apa yang kamu rasain sekarang?" Shela mengerjapkan matanya. Yang dia lihat pertama kali adalah tangannya yang masih digenggam Parto. Melihat ke sekeliling, ini dimana? pikir Shela saat ini.


"Aku mau pulang.." ucap Shela lirih.


"Iya La iya.. aku anterin kamu pulang, ini minum dulu ya," tangan kanan Parto mengambil gelas yang berisi air putih hangat yang terletak di meja dekat tempat tidur. Tangan kiri Parto? Dia sendiri masih enggan melepas genggaman tangannya di jari lentik Shela.


Shela menuruti ucapan Parto. Dia meminum air yang di berikan kepadanya.


"Enggak usah peduliin aku, enggak usah baik-baikin aku, aku mau pulang, ibu pasti cemas. Aku enggak mau bikin ibu cemas." suara Shela terdengar parau.


"Maaf.. aku enggak bisa nurutin kata-katamu itu untuk enggak peduli sama kamu,"


Shela baru menyadari tangan mereka masih bertautan. Dia mencoba menarik tangannya tapi, niatnya dihentikan Parto.


"Lepasin.." Parto hanya menggeleng tanda menolak perintah Shela.


"Aku mau pulang.."


"Aku anterin."


Ralina masuk ke dalam kamar Dira. Saat melihat Shela sudah siuman. Ralina tersenyum,


"Alhamdulillah Mbak pacarnya mas Parto udah sadar.. Mbak ini minum teh anget dulu, apa mau makan? aku juga ambilin nasi ini buat Mbak,"

__ADS_1


Shela menautkan alisnya 'Mbak pacar mas Parto?' siapa yang dia maksud.. aku?


"Maturnuwun ya.. aku enggak apa-apa.. aku mau pulang, sepindah malih maturnuwun (sekali lagi terimakasih) "


"Aku enggak ngapa-ngapain Mbak pacarnya Mas Parto, itu lho Mas Parto yang khawatir banget.."


Shela sedikit tersenyum mendengar panggilan yang Ralina berikan untuknya. Panjang banget. Parto yang melihat senyum di wajah Shela merasa lega. Shela juga sudah tidak sepucat tadi,


"Panggil dia Shela aja Lin, kamu manggilnya kepanjangan.." Ucap Parto kepada Ralina.


"La.. aku antar pulang kamu sekarang ya? Ibu pasti khawatir kalau kamu belum sampai rumah." Sekarang Parto melihat Shela. Shela terdiam. Enggak menolak atau mengiyakan.


"Oowh pada mau pulang ya.. enggak nunggu pesta Efa dulu apa Mas?"


"Enggak Lin, kesian Shela pasti capek banget hari ini.. Lin aku nitip motorku ya. Nanti bilang sama pak Agus aku nganterin Shela pulang, kunci motor masih di tempatnya."


Ralina hanya mengangguk sambil tersenyum. Dia melihat Parto dan Shela punya chemistry yang kuat. Mungkin jodoh. Mungkin..


Parto membantu Shela bangun dari tempat tidur. Shela masih terdiam. Enggak memberi respon penolakan juga.


Sesampainya di luar rumah, setelah pamit kepada pak Agus, Parto melepaskan jaketnya. Memberikan jaket itu untuk dipakai Shela.


"Pakai ya La.." Ucap Parto.


"Iya.. Maturnuwun Mas.."


Parto yang mendengar kata-kata Shela hanya mengangguk. Di perjalanan, Parto berpikir.. apakah dia harus menjauh dari Shela.. Dia masih bingung sebenarnya kenapa Shela se anti itu kepadanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...



"Adek mau kemana? Sini Mas To anterin.."


Eaaaaaaa.. itu Mas Parto saat tersenyum memiringkan wajahnya.

__ADS_1


Masih mau lanjut kreji up?


__ADS_2