
Parto kembali mengerjapkan matanya, hantaman dari benda yang Jamal lesakan untuknya menimbulkan efek pusing dan nyeri yang sulit di definisikan. Hanya dia yang tahu bagaimana rasanya sakit di belakang kepalanya saat ini.
"To.. kamu kabarin keluarga kamu ya, hp kamu mana? sini aku yang telepon mereka!" Shela menatap penuh cemas kepada pacarnya itu.
"Hpku kan mati La.., enggak apa-apa.. uwes ojo khawatir.. Beni.. Beni mana La?" Parto mencoba tetap tenang meski sebenarnya belakang kepalanya terasa nyut-nyutan.
Shela menunjuk ke arah ranjang yang Beni pakai untuk berbaring, masih dengan mata tertutup. Dokter yang menangani Beni tadi mengatakan, Beni akan sadar dalam dua atau tiga jam setelah efek obat bius hilang.
"La.. gimana keadaannya Beni?" Parto melihat Beni yang masih memejamkan matanya.
"Aku udah minta Seno ke sini To, keluarga Beni harus tahu kalau dia dirawat di sini." Shela menyeka keringat yang muncul di kening Parto.
"Kata dokter tadi luka tusukannya butuh tiga puluh jahitan, lumayan dalam tapi enggak sampai kena organ vitalnya. Dia juga butuh transfusi darah karena terlalu banyak darah yang keluar tadi. Tapi, semua oke. Dokter bilang Beni punya fisik yang kuat, dia bisa bertahan dan pasti sembuh secepatnya."
Parto memegang tangan Shela. Hari ini pasti sangat berat untuknya.
"Kamu butuh sesuatu?" Tanya Shela sigap.
Belum sempat menjawab, Seno muncul dengan nafas ngos-ngosan.
"Astaghfirullah.. kok bisa jadi gini To? Shel.. ini gimana ceritanya kok Beni sama Parto kalah di medan peperangan? Biasanya kan Beni paling jago soal bela diri, bisa kalah kelian sama Jamal?!"
Baru dateng udah minta dilakban itu mulut Seno. Nyerocos enggak ada ujungnya.
"Terus ini gimana? Udah ngasih tahu Mbak Lulu kamu Shel?" Tanya Seno lagi.
"Mbak Lulu itu siapa?" Shela balik bertanya tanpa melihat ke arah Seno. Males ya La, berpaling dari wajah mamas Parto hehehe.
"Ya mbak nya Beni lah Shel!" Jawab Seno sedikit kesal.
"Ya mana aku tahu kalau Beni punya mbak namanya mbak Lulu?!" Enggak mau kalah, Shela ikutan ngotot! Bahkan dia jauh lebih nyolot dengan nada bicara satu oktaf lebih tinggi. Membuat Seno diam mengakhiri perdebatan, dia milih jalur aman aja daripada nanti Shela berubah jadi nini kunti dan nerkam dia.
"To.. aku hubungi Indah sama mbak Lulu ya,"
"Mbak Lulu aja, Indah enggak usah. Aku enggak apa-apa.. Nanti malah emak cemas."
__ADS_1
Seno melihat Shela, seolah ingin meminta persetujuan. Shela cuek aja. Enggak ngerti kode yang Seno berikan.
Seno memilih memberi kabar kepada Indah dan mbak Lulu, mau diomeli Parto juga itu urasan belakangan. Setelah mengirim pesan kepada Indah dan mbak Lulu, Seno mendekati ranjang pasien yang di pakai Beni untuk berbaring. Muka Beni pucat, kesian banget dia. Itu yang Seno pikirkan.
Shela berjalan mendekati Seno, ditariknya jaket Seno untuk mengajak Seno keluar dari ruangan itu. Membiarkan Parto dan Beni beristirahat. Seno mengikuti langkah kaki Shela.
Di luar kamar pasien itu terdapat bangku. Di bangku itu Shela dan Seno duduk dengan pikiran masing-masing.
"Tadi kejadiannya gimana Shel?" Seno enggak dapat menutupi rasa penasarannya.
Dengan tempo yang sesingkat-singkatnya Shela menceritakan kejadian pertumpahan darah tadi kepada Seno. Mata Seno menyala-nyala, seperti ada api di dalam maniknya.
"Syetan itu orang! Udah tahu salah malah bikin kesalahan baru kek gini, dimana otaknya si Jamal itu? Terus dia dimana sekarang Shel?" Seno emosi mendengar penjelasan Shela. Rasanya dia ingin menghajar Jamal saat ini juga.
"Aku enggak tahu. Waktu nganter Parto dan Beni ke sini aku enggak merhatiin dia, fokusku saat itu cuma gimana caranya biar Parto dan Beni secepatnya mendapat pertolongan."
Tentu saja Shela enggak tahu dimana Jamal saat ini ada dimana, dia aja enggak habis pikir Jamal bisa berbuat senekat itu. Dalam hatinya mungilnya, Shela menyalahkan dirinya sendiri karena kecerobohannya mengajak Beni dan Parto menemui Jamal. Emosi Jamal yang meluap-luap membuat Jamal bisa sesadis itu melukai orang lain. Tanpa berpikir tindakannya itu bisa melukai, membahayakan, bahkan yang paling parah bisa menghilangkan nyawa orang lain.
Melihat ketegangan di wajah Shela, Seno beranjak untuk membelikan minum atau sekedar sesuatu yang bisa mengganjal perut Shela. Seno yakin, pacar temannya itu pastilah belum makan sejak siang tadi.
Setelah membayar apa yang Seno beli di warung yang berada di seberang puskesmas, dia melihat mbak Lulu berjalan sedikit berlari menuju ruangan rawat inap Beni berada.
Mbak Lulu, dia adalah gadis yang cantik. Dia memang enggak modis seperti wanita jaman sekarang pada umumnya, keseharian selalu memakai rok panjang dan baju longgar serta hijab panjang menutupi bentuk tubuhnya. Seperti sekarang ini, hanya menggunakan gamis berwarna coklat susu dan hijab senada, dia tergesa-gesa menuju puskesmas setelah mendengar kabar dari Seno kalau Beni, adiknya dirawat di sini.
"Sen.. piye to, ono opo? Mabengi kan jaremu Beni nginep nyang gonmu, lha kok saiki malah nyasar tekan kene iki kepiye?" (Sen.. bagaimana to, ada apa? Tadi malam kan katamu Beni nginep di tempatmu, lha kok sekarang malah nyasar nyampe sini ini gimana?)
Sambil berjalan menunjukan dimana Beni di rawat, Seno menceritakan kejadian yang dia sendiri juga ketahui dari Shela.
"Sepurone mbak, aku dewe ora ngiro nek bakal koyok ngene.." (Maaf mbak, aku sendiri enggak nyangka kalau akan seperti ini..)
Sampai juga mereka di kamar rawat inap Beni, mbak Lulu segera melihat kondisi adiknya. Shela dan Seno mengikuti dari belakang, mbak Lulu mendekati dan mengusap pelan rambut Beni. Dia enggak kuasa membendung air matanya, dengan tertunduk mbak Lulu menangis. Dengan menutupi mulutnya dia berusaha enggak bersuara dalam tangisnya.
Shela mendekati mbak Lulu dan berusaha menenangkan perempuan yang belum dia kenal itu.
"Maaf mbak.. aku yang ngajak Beni ketemu Jamal, aku yang salah..." Suara Shela pelan tapi masih bisa terdengar.
__ADS_1
Mbak Lulu hanya diam, hanya adiknya yang dia pikirkan saat ini.
"Shel jangan nyalahin diri terus, bukan kamu yang salah," Seno berusaha menghibur Shela.
Mendengar ada sedikit keributan dengan suara isak tangis yang mbak Lulu ciptakan, membuat Beni membuka matanya. Melihat hal itu, mbak Lulu, Seno dan Shela merasa senang.
"Sen.. Parto..??" Ucap Beni pertama kali.
"Alhamdulillah ya Allah.." Mbak Lulu bersyukur adiknya sudah sadar.
"Parto enggak apa-apa Ben," Ucap Seno mengerti maksud dari perkataan Beni.
Merasa seperti orang asing, Shela menjauh dari ranjang Beni dan mendekati tempat Parto. Emang deketan ya? Iyo gaess,, sebelahan mereka dirawatnya.
Seno tanpa disuruh meninggalkan ruangan itu untuk memberi tahu dokter atau petugas yang berjaga kalau Beni udah siuman. Tak butuh waktu lama.. Seno kembali dengan seorang lelaki berjubah putih, bukan pahlawan bertopeng ya gaess. Dia dokter!
Mbak Lulu memperhatikan wajah dokter yang memeriksa adiknya, terasa tidak asing.
"Mas Beni kuat ya, obatnya diminum biar cepet sembuh! Dan jangan gelud lagi selama masa penyembuhan, mudeng nggeh?" (ngerti ya?)
"Dan ini keluarga dari mas Beni mana?" Dokter itu memasukan stetoskop yang tadi dia pakai untuk memeriksa Beni, ke saku jas putihnya.
"Eh.. Lulu??" Dokter itu sepertinya mengenal mbak Lulu.
Oke up nya sampai sini dulu Gaess.. jujur aku sedang berada di mode 'ehem',,
Kesibukan di rl yang euuuh buat up KtK jadi enggak nentu, maaf untuk hal yang satu itu gaess.
Sebisa mungkin aku bakal up, meski enggak bisa up to date kek biasanya.
__ADS_1
Terimakasih atas kesetiaan dan dukungan kelian untuk novel gabut ala kadarnya punyaku ini ya gaess,,, Sehat selalu kelian!
Lope lope kelian pokoe❤️