
"Sen.. kita cari Indah dulu aja." Kata Shela sambil menepuk pundak Seno dari belakang.
"Iya Shel. Ini juga dari tadi aku sambil liatin kalau-kalau dia ada di jalan."
Shela ikut mengangguk saja. Padahal mau mengangguk atau enggak juga Seno enggak bisa lihat juga.
"Kamu udah cuba telepon dia?" Tanya Shela egen. Tumben Shela mau bicara banyak-banyak sama orang selain Parto,
"Udah. Entah udah berapa ratus kali itu nomerku cuba hubungi dia tapi enggak ada jawaban."
Mereka kembali terdiam. Udara malam itu terasa lebih dingin, karena tadi sore sempat turun hujan.
"Shel.. tolong hubungi nomer Indah ya, siapa tahu nanti dia mau angkat teleponnya." Memberikan ponselnya dengan tangan kirinya kepada Shela, Seno berharap bisa mendapat kabar dari Indah. Shela menerima ponsel Seno,
"Kodenya apaan? Ini pake dikodein gini kok, aku mana bisa buka!" Shela memanyunkan bibirnya.
"Tanggal lahir Indah Shel,"
"Aku mana tahu tanggal lahir cewekmu itu Senooooo!!!" Seno lupa, Shela bukan Parto yang hafal di luar kepala tanggal lahir Indahnya. Setelah Seno menyebutkan beberapa angka yang menjadi password dari hpnya, barulah Shela bisa membuka kunci layar ponsel lelaki yang sekarang masih nyetang motor sambil clingukan itu.
"Sen.. kamu pake foto alay buat wallpaper?" Tanya Shela saat melihat wallpaper hp Seno adalah foto Seno bersama Indah. Indah si wajar masih imut, mau bergaya kayak apa juga cocok. Lha Seno? Mau bilang tua kok enggak tega. Ya udah bilangnya terlampau matang aja.
"Ya mben to Shel.. kamu kok lama-lama kayak Parto lho, apa-apa dikomenin." Setelah mengucapkan kalimat pembelaan itu, Seno tiba-tiba menghentikan laju motornya. Membuat Shela yang enggak siap dengan rem mendadak Seno langsung terhempas ke depan nempel ke punggung Seno.
Dengan kesal Shela mendorong dan nabok punggung Seno.
"Kamu gila ya? Mau ambil kesempatan? Bener-bener deh enggak Parto, enggak temennya sama-sama enggak ada yang waras!!" Protes Shela.
__ADS_1
Seno enggak menggubris perkataan Shela, dia memilih turun dari motor setelah motornya berhenti. Berjalan sedikit berlari menuju arah seorang gadis yang mendorong motor maticnya.
"Pantes ngerem mendadak.. Udah ketemu tulang iganya ternyata!" Kata Shela tanpa ada yang mendengarkan ucapannya.
"Dek... Ya Allah kamu kok sampai dorong motor gini? Kenapa?" Tanya Seno cemas.
"Mas Seno.. Motornya kehabisan bensin. Ndak bisa jalan, aku tadi enggak cek dulu, waktu mas Seno hubungi aku tadi, aku buru-buru pengen liat kondisi mas To." Indah sampai ngos-ngosan. Entah sudah berapa lama dan jauhnya dia mendorong motornya itu,
"Astaghfirullah, kamu pasti kecapean. Maafin aku ya dek. Harusnya aku enggak ngasih kabar ke kamu dulu.. yang ada malah bikin kamu kesulitan kayak gini. Lha hp kamu mana? Aku hubungi dari tadi enggak tersambung lho,"
"Hp ku ketinggalan di kamar mas.. maaf ya,"
Shela berjalan mendekati kedua insan bucin itu,
"Ini kelian mau minta maaf nyampe besok pagi apa gimana? Kalau iya aku tak bikin tenda dulu, lanjutkan acara halalbihalal nya."
"Astaghfirullah Shel.. iya iya, aku anterin kamu pulang iyaa." Seno manyun aja karena acara bermanis-manisan dengan Indah langsung terganggu oleh sindiran halus Shela.
"Enggak usah. Gini aja Sen, kamu cariin bensin buat motornya Indah, kalau udah bisa nyala nanti motornya aku pinjem buat pulang sendiri. Kamu enggak usah nganterin aku. Kamu anterin aja Indah pulang, ini udah malem banget, jam besuk pasien juga pasti udah ditutup. Percuma juga mau ke sana."
Omongan Shela ada benarnya juga, tanpa mengulur waktu, Seno langsung bergegas mencari apa yang musti dia cari.
Malam itu berakhir.. Shela pulang ke rumahnya, Indah diantar Seno pulang, mbak Lulu jagain Ben dan To di puskesmas.. semua merajut mimpi masing-masing.
Tapi ada satu orang yang enggak bisa sedikitpun memejamkan mata, semalaman orang itu duduk dan memandang gadis yang tidur meringkuk di bangku panjang depan kamar rawat inap.
Ardiaz, dia mengeluarkan ponselnya.. dengan jarak yang enggak begitu dekat, dia arahkan kamera ponselnya untuk menangkap gambar di depannya. Beberapa foto dia ambil, sungguh enggak sopan. Mana boleh ambil foto orang tanpa izin seperti itu. Tapi, Ardiaz cuek aja. Malah dia senang bisa mengabadikan momen dimana mantannya itu sedang tertidur pulas.
__ADS_1
jam menunjukan pukul 03.15, Ardiaz tetap duduk tanpa melakukan hal apapun. Keisengan yang tadi dia lakukan dengan mengambil foto mbak Lulu diam-diam pun dia akhiri.
"Aku kembali Lu.. Dan sekarang enggak ada alasan apapun bagimu untuk menolak ku. Meski kamu bilang udah punya suami, tapi aku enggak bakal percaya gitu aja. Tunggu aja, lihat gimana aku bisa bikin kamu mau nerima aku lagi."
Dokter Ardiaz melangkah pergi dari tempatnya duduknya tadi, dia takut membuat wanita yang masih bertahta di hatinya itu bangun dengan berteriak karena pasti kaget dan enggak suka dengan kehadirannya.
Siang itu, Seno dan Indah udah berada di puskesmas tempat Parto dan Beni dirawat. Indah menjadi sangat cerewet dengan level yang udah di upgrade sebelumnya. Melihat kondisi kakaknya dia bukan nangis sedih seperti yang mbak Lulu lakukan saat melihat Beni pertama kali yang terbaring lemah di tempat tidur pasien, Indah malah ngomel enggak abis-abis.
"Sen.. kamu isi baterai apa itu tadi Indah? Bisa kayak gitu, ngoceh enggak kelar-kelar!" Protes Parto yang memotong ucapan Indah.
"Mas To ini denger aku enggak? Aku masih baik hati ini enggak bilang emak sama bapak ya, cuba kalau aku kasih tahu mereka, mas To bisa diiket bareng kambing di kandang!"
"Udah Ndah.. jangan dimarahi terus kakaknya, kesian itu. Kamu enggak kesihan apa sama kakakmu?" Mbak Lulu menjadi dewi penyelamat Parto.
"Abis aku kesel mbak, mas To ini kayak bocah sukanya bikin aku jantungan." Melipat kedua tangannya di depan dada, Indah melengos enggak mau lihat kakaknya.
"To.. kamu mau ini?" Tanya Seno menawarkan minuman di gelas cup untuk Parto. Sengaja mengalihkan pembicaraan agar pacarnya enggak ngoceh terus kayak burung beo.
"Apa itu Sen? Mau dong.." Beni yang menjawab pertanyaan Seno.
"Es rumput laut, tapi aku heran kok enggak ada rumputnya. Ini rumputnya yang mana sih?" Seno mengocok gelas cup itu sambil di bolak-balik, mencari dimana rumput versi dia itu berada.
"Iya lah enggak tahu, di pikiranmu cuma ada rumput tetangga!" Ucap Parto kesal. Kesalnya sama Indah dilampiaskan pada Seno. Good emejing To!
"Njiiir lambemu!" Protes Seno.
Dan seisi ruangan itu tertawa karena kekonyolan tiga somvlak.
__ADS_1