Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Salah Info


__ADS_3

Parto melongo karena ditinggal Beni sendiri di warung mbok Yuni hanya bisa terdiam. Dia mulai berpikir apa iya dia beneran enggak waras sekarang. Ciuman waktu itu... efeknya bisa membuat separuh kepintarannya yang sebenarnya enggak pintar-pintar amat itu menguap terbang bersama pikiran tentang khayalannya, kapan hal itu terulang lagi.


Dia menggeleng, mengusap mukanya kasar agar pikiran gendengnya tentang bibir Shela sedikit terhapuskan.


"Kowe iki kenopo To?" Tanya mbok Yuni yang sedikit bingung dengan gerak-gerik Parto.


"Anu mbok... sirahku kebek larahan! (Anu mbok.. kepalaku penuh sampah!)


Mbok Yuni menautkan alisnya. Menatap sekilas ke arah kepala Parto.


"Kowe arang keramas opo piye? bisane mengkono? Sobomu nek ndi? kok iso sirah kebek larahan?" (Kamu jarang keramas apa. gimana? Bisa-bisanya kek gitu? Mainmu kemana? Kok bisa kepala penuh sampah?)


Baru main di bibir gadis sekali mbok.. tapi, efeknya udah bikin aku gila berhari-hari.


Tanpa mau menjawab, Parto hanya bisa bergunam dalam hati.


Dia keluarkan ponselnya, mengamati wallpaper di hp kepunyaannya. Foto gadis jutek dengan muka berpoles telur nampak terpampang di sana. Siapa lagi kalau bukan miss C. Parto ingin menghubungi Shela tapi, urung dilakukan.


Kenapa dia bisa sekangen ini sama mahkluk satu itu. Padahal sudah resmi jadi pacar tapi Parto masih menahan diri untuk sekedar datang menemui gadisnya. Lho kenapa? Kan nanti malah Shela mikirnya Parto enggak kangen atau enggak serius sama dia?


Keinginan untuk bertemu melepas rindu itu selalu ada tapi, Shela selalu bilang enggak bisa ketemu. Dia sibuk akhir-akhir ini. Catering ibunya sedang full order. Parto enggak mau mengganggu Shela saat udah diberi lampu kuning tanda peringatan untuk jangan ganggu dia dulu.


Rasa kangen itu tak tertahankan, dengan nekat Parto mengirimkan sebuah pesan singkat ke nomer kekasihnya.


'Aku ke sana La..'


Oiya mengenai panggilan setelah mereka jadian, resmi berpacaran, mereka masih memanggil dengan nama masing-masing. Enggak ada embel-embel 'dek, mas, ay, beib' atau yang lain. Parto masih memanggil Shela 'La', pun sebaliknya Shela juga tetap mempertahankan nama 'To' untuk memanggil pacarnya itu.


Enggak ada kata-kata manis juga yang menghiasi chat mereka, hanya sesekali mereka saling menunjukan perhatian dengan chat yang kadang cukup nyeleneh.


Seperti contohnya tadi pagi, Shela menyempatkan mengirim pesan wa kepada Parto saat dia akan memulai harinya.

__ADS_1


Shela: Bangun! Tu upil minta dikorek!


Parto sampai ngakak baca chat jam 04.00 pagi dari Shela. Enggak kalah nyeleneh, Parto dengan antusias membalas pesan Shela.


Parto: Pinjem jarinya buat ngorek upil.


Shela: Aku punya ide lain, gimana kalau pake ekskavator aja? Aku yakin itu benda di ujung gua sana bisa lenyap sampai akar-akarnya.


Kok ekstrim? Ya, seperti itulah mereka. Mau ketemu apa cuma berbalas pesan, enggak ada sisi manis dan romantis yang mereka tunjukan. Tapi, hal itu yang membuat hubungan mereka seakan lengket kek rambut kena permen karet. Susah lepas.


Pernah Parto bertanya, kenapa mau menerima perasaannya. Menyambut rasa Parto untuk Shela. Dengan enteng Shela menjawab..


"Aku berusaha menyelamatkan populasi langka seperti kamu. Aku hanya enggak mau kamu mati bundir saat cintamu aku tolak. Dan populasi kamu yang tinggal satu-satunya ini nanti pasti langsung punah!"


Enggak mau kalah dalam bicara, Parto menjawab...


"Oowh secara enggak langsung kamu mau melestarikan populasi ku gitu? Bantu aku menambah jumlah populasi ku dengan berkembangbiak sama kamu ya hahaha"


Parto tiba di rumah Shela. Dengan membawa sesuatu yang Shela inginkan tadi. Saat Parto mengirim pesan akan berkunjung ke rumahnya, Shela minta dibawakan sesuatu. Yang awalnya membuat Parto bingung, kenapa dia harus membawa benda itu. Tapi, berhubungan rasa bucinnya lebih besar daripada rasa keponya akhirnya dia menuruti keinginan Shela.


"Assalamualaikum"


Parto mengetuk pintu rumah Shela yang terbuka tidak dikunci. Dari dalam muncul seorang perempuan paruh baya yang masih nampak cantik di usianya saat ini.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, wah ada mas Parto. Masuk mas,"


Setiap Parto berkunjung ke rumah Shela, ibunda Shela selalu bersikap ramah kepadanya. Parto merasa ibunda Shela adalah titisan bidadari yang sesungguhnya. Aura positif selalu terpancar saat di dekat beliau.


"Nduk.. mas mu ini lho dateng. Kamu tinggalin dulu itu nyusun kerdus-kerdusnya." Ibunda Shela ikut duduk setelah mempersilahkan Parto untuk duduk pula.


Muncul sosok itu, sosok yang berhari-hari Parto rindukan. Sosok yang mampu membuat hatinya jungkir balik hanya dengan memikirkan tentang gadisnya itu.

__ADS_1


"Bawa To?" Tanya Shela to the point.


"Iya bawa. Ini. Aku tadi bingung sama ukurannya, ya udah aku ambil aja semua ukuran. Maaf kalau salah ya. Aku juga bingung tadi ada yang bersayap sama enggak. Maklumin ya La... seumur idup aku belum pernah beli ginian."


Shela menatap penuh curiga setelah mendengar apa yang Parto ucapkan. Tidak jauh berbeda dengan ibunda Shela. Mereka saling menatap penuh tanya.


"Kamu beli apa emang To?" Shela mengambil satu kresek besar bungkusan yang Parto berikan kepadanya.


"Pembalut! Kamu yang minta dibeliin pembalut kan?"


Ibunda Shela sampai membelalakan matanya. Bisa-bisanya putrinya itu minta dibelikan pembalut pada seorang lelaki yang belum menjadi suaminya.


"Kamu gila ya?!! Kamu baca pesanku kan? Ngapain juga beli pembalut sebanyak ini? Astaghfirullah To, aku tahu kamu ini agak enggak waras, tapi ya aku baru sadar tingkat enggak warasmu sampai di titik nadir."


"Huuuuss Nduk... kamu nek ngomong mbok ya yang sopan! Tadi kepiye ceritane kok sampai mas mu kamu suruh beli pembalut sebanyak ini?"


Parto mengambil hp dari kantong celananya. Membaca kembali pesan yang dia kirimkan untuk Shela. Dan membaca balasan yang Shela kirim untuknya. Sekarang dia mulai paham, dia lah yang salah dalam membaca pesan Shela. Hal itu membuat Parto ingin berlari mencari ember untuk menutupi mukanya.


"Lagian kamu tadi bilang 'ke sini bawain aku pembalut'. Aku enggak baca lagi terusannya. Karena aku buru-buru ke sini." Parto seakan ingin membela diri.


"Pembalut kan ada terusane To, astaghfirullahalazim. Pembalut luka. Tanganku abis kena pisau dapur! Ya kali jariku mau mok tempeli pembalut gituan? Kamu ini ah... nyebelin banget sih!"


Ibunda Shela sampai ikut tertawa karena tingkah lucu anaknya dan Parto. Ternyata telah terjadi missed comunication antara Parto dan putrinya. Sehingga sang penerima pesan jadi gagal paham dengan apa yang pemberi pesan ingin sampaikan.


Saking malunya, untuk menatap mata Shela atau membalas perkataan Shela pun enggak mampu Parto lakukan.


Nah.. dari sini kita belajar gaess tentang pentingnya mempelajari informasi secara detail dan terperinci. Agar kejadian gaje dan memalukan kek yang Parto alami ini enggak menimpa reader budiman dan budiwati semua.


...****************...


__ADS_1


Selalu klik like dan tinggalkan komen ya gaess. Bagi yang mau aja sih. Enggak maksa juga😌


__ADS_2