Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Senyummu Bikin Aku Hmm


__ADS_3

"Minggir!" Ucap Shela lagi.


"To, ini kalau kamu enggak ikut aku juga emoh lah..!" kata Beni.


"Mas To, ayo to buruan.. udah siang ini." Giliran Ralina yang ikut-ikutan membuat Parto kebingungan.


"Ya Allah,, Kelian ini pada kenapa? La.. kamu ini kenapa to? Aku tanya baik-baik kok jawabnya sengak terus." Parto memandang Shela yang tetap diam, males menjawab pertanyaan darinya.


"Ben, kamu gantiin aku dulu kan bisa. Iya nanti aku bilang sama Ralina. Aku enggak bisa Ben, beneran.." Parto memberi kode kepada Beni dengan memandang ke arah Shela.


Beni langsung mengerti, dia tersenyum seketika.


"Lin.. reneo sik (kesini dulu)" Ucap Parto kepada Ralina yang ada di samping mobil milik Pakleknya.


'Hmm piye Mas?" Tanya Ralina saat sudah berada di antara Beni, Parto, dan Shela.


"Lin, sebelumnya aku minta maaf banget.. aku enggak bisa nyupiri kamu sama temen-temenmu. Aku ada urusan lain Lin, penting!"


Ralina langsung terlihat kecewa.


"Terus gimana ini Mas? Enggak jadi aja?" Ralina seakan ingin menangis.


"Jadi dedek Lilin, biar Mas Beni aja yang nyupiri kelian. Mamas udah biasa ke sana. Dijamin aman, selamat sampai tujuan!" Beni seperti mengiklankan diri sendiri.


"Sepurone banget yo Lin, ini biar Beni aja yang gantiin aku. Ya Allah aku enggak enak ini, tapi lebih enggak enak kalau mengesampingkan urusanku sendiri. Aku benar-benar minta maaf Lin,"


Shela melihat ada kekecewaan di wajah Ralina.


"Tapi kan Mas To, udah janji.. katanya bisa..." Ucap Ralina. Terdengar lirih. Tapi, tetap bisa didengar siapapun di sana.


"Lagi kamu To, kalau udah janji itu ditepati! Kamu mau kemana emang? urusan apa yang lebih penting dari janjimu ke dia ini?" Shela ikutan gemas dengan Parto. Dia merasa Parto adalah orang yang enggak bisa dipercaya. Enggak bisa dipegang omongannya.


"Kamu. Kamu yang lebih penting. Aku enggak bisa pergi ninggalin kamu yang uring-uringan kayak gini, alasan aku enggak bisa pergi bareng mereka itu karena kamu."


Ucapan Parto membuat Shela, dan Ralina tertegun. Terlebih Shela, dia sampai bengong. Beni hanya tersenyum melihat temannya sekarang menjadi sepopuler itu. Membuat pesonanya raib hilang entah kemana. Karena sedari tadi enggak ada yang gagas omongan Beni.


"Oowh iya udah mas To, biar mas Beni aja yang berangkat bareng aku. Mbak maturnuwun udah nganterin cateringnya ya..," Ralina berjalan menjauh dari tempat Shela dan Parto.

__ADS_1


"To, aku udah gantiin tugasmu.. awas aja kalau kamu enggak jadian ama dedek Lala. Jangan bikin pengorbananku sia-sia..." Ucap Beni sambil tersenyum.


"Ntutmu berkorban?! Kamu seneng kan dikelilingi cewek satu mobil gitu?!"


"Hahaha.. salahmu emoh melok. Rejekiku To," Beni berlalu pergi. Meninggalkan Shela dan juga Parto yang masih diposisi yang sama.


"Heh?!" Panggil Shela kepada Parto. Parto menautkan alisnya.


"Heh opo?" Tanya Parto kemudian.


"Kamu enggak nyesel itu, enggak jadi jalan-jalan bareng cewek tadi?" Shela menurunkan nada bicaranya. Sepertinya moodnya mulai membaik.


"Enggak. Lebih nyesel kalau kamu marah sama aku tanpa aku tahu sebabnya apa. Aku enggak bisa baca isi hatimu La, kalau kamu enggak suka atau ada masalah sama aku, sama sikapku, atau apapun yang buat kamu tersinggung dan masih berhubungan dengan aku.. bilang aja La. Aku enggak bisa nebak, kamu kenapa dan karena apa sampai bisa marah kayak tadi.."


Shela terdiam. Iya juga.. Apa yang sebenarnya membuat dia semarah tadi. Kalau dipikir-pikir, Parto juga bukan pacarnya, mungkin belum lebih tepatnya. Mereka masih dalam proses mengenal pribadi dan sikap masing-masing. Bisa dikatakan hanya Parto yang berusaha mengenal pribadi dan watak Shela, sedangkan Shela sendiri masa bodoh dengan Parto.


Dia cuek tapi, kalau lihat Parto bersama cewek lain seperti tadi ubun-ubunnya terasa keluar asap. Ngebul. Apa mungkin Shela cemburu? Iya bisa jadi. Karena Shela menganggap Parto satu-satunya orang yang beda dari teman-temannya. Jadi bagi Shela Parto spesial? Iya spesial pake telur dua dikaretin. Lah dikira nasi goreng.


"To.." Akhirnya Shela memanggil Parto dengan benar.


"Dalem," Parto masih menatap Shela dengan intens.


Parto menaikkan alisnya seperti bertanya 'maaf untuk apa?'


"Udahlah lupain aja. Awas minggir To, aku mau pulang!" Parto tak bergeming. Dia malah makin mendekatkan tubuhnya pada motor Shela. Kaki kanannya ditaruh tepat dibawah ban depan motor gadis berambut hitam legam itu.


"Jawab dulu, maaf kenapa?"


"Kalau aku enggak mau jawab, kamu mau apa?" Parto tersenyum mendengar ucapan Shela yang terdengar seperti tantangan.


"Kamu maunya apa?" Giliran Parto yang bertanya.


"Dasar gila!" Shela berucap sambil sedikit tersenyum. Parto yang melihat hal itu jadi lega. Akhirnya Shela tersenyum juga.


"La.."


"Hmmm"

__ADS_1


"Jadian yok!"


"Gah!" (Ogah)


Parto tertawa. Shela makin memperlebar senyumnya.


"Bisa dipikir-pikir dulu kok La, enggak usah buru-buru ngambil keputusannya."


"Kamu nembak cewek kayak ngajak tawuran! Apa sih To, ngaleho.. (minggir) hari ini pesenan ibu banyak To."


Parto berpikir sesaat.


"Jadi kamu mau ditembak pake cara apa La?"


"Aku enggak mau ditembak To, nyawaku cuma satu. Bisa mati aku kalo nyawa yang hanya titipan ini kamu bantai, kamu tembak seenaknya.!" Shela menunjukkan sisi humorisnya.


"La.."


"Apa sih To manggil-manggil mulu,"


Mengisyaratkan dengan jari yang berbentuk love, jari telunjuk dan ibu jari yang disatukan. Parto benar-benar terlihat konyol.


"Saranghae"


Shela tertawa melihat Parto yang menurutnya sangat lucu sekarang ini. Parto pun ikut tersenyum melihat Shela se senang itu.


"Kamu abis ngupil apa, pake kode jempol di gituan segala Hahaha"


"Ya Allah,, apa tadi sarang tawon.. duuh Gusti. To kamu kok lucu banget sih,"


Teruslah bahagia La, sebisaku aku enggak bakal buat kamu sedih saat bersama dengan ku.


Shela pulang ke rumahnya dengan perasaan riang gembira. Walaupun diawal melihat Parto tadi timbul rasa muak pengen nyekik orang yang bernama Parto itu tapi, akhirnya manusia bernama Parto itulah yang membuat moodnya kembali stabil.


Parto pun demikian, meski enggak jadi nyupiri plus dapet fulus dan dapet liburan gratis.. Parto enggak menyesal. Karena buatnya bisa melihat Shela tertawa lepas seperti tadi sangatlah langka. Apalagi tawanya Shela itu karena dia. Benar-benar membuat Parto merasa senang.


Hari ini banyak hati yang bahagia. Parto yang senang karena Shela. Shela yang happy karena kekonyolan Parto. Beni yang asyik sendiri dengan para ladies.

__ADS_1


Hanya Ralina yang mengSad, kenapa? Dia suka sama Parto? Kepo ya? Ya tanya sama Ralina sendiri sana. Tapi mending jangan kepo deh, kata teman temene temenku yang punya temen lagi itu bilang.. kepo bisa memperpendek anu.


__ADS_2