
Seno melirik jam tangannya, ini udah malam. Harusnya Indah udah sampai sini. Rasa khawatirnya membuat dia beberapa kali menghubungi Indah.
Menangkap kegelisahan yang Seno rasakan, Parto melempar bantal yang tadi dipakai untuk tiduran.
"Opo to To, ojo usil saiki lah."
"Ngopo kowe?" Tanya Parto merasa penasaran.
Beni ikut memperhatikan Seno.
"Indah To.. aku tak cari dia dulu ya, masa iya dari tadi aku ngabarin dia nyampe sekarang belum ada nongol di sini."
Parto melotot mendengar perkataan Seno.
"Kan aku udah bilang, jangan ngasih tahu dia! Piye to kowe iki? Indah itu kalau gugup, ngendarai motor juga kayak orang kesetanan. Ada lubang di depannya juga main hajar.. Aah kampret lah kamu Sen!!" Parto kesal dengan tindakan yang Seno lakukan.
Parto mencoba berdiri, tapi mendadak kepalanya terasa pusing. Shela membantunya duduk kembali,
"Istirahat aja To, kamu belum pulih. Biar aku yang cari Indah. Semua ini salahku." Seno akan beranjak pergi meninggalkan ruangan itu,
"Sen.." Panggil Parto.
"Antar Shela pulang, bisa?"Lanjut Parto sambil melihat ke arah Shela. Seno mengangguk saja.
"Aku udah ngabarin ibu To, enggak apa-apa, aku di sini aja. Biar Seno pergi cari Indah."
Rasa bersalah membuat Shela enggan untuk meninggalkan Parto sendiri di puskesmas itu, meski ada mbak Lulu di sana.. tapi, mbak Lulu di sana untuk merawat dan menjaga adiknya sendiri. Pasti akan sungkan buat Parto sekedar minta tolong untuk mengambilkan minum, misalnya. Itu yang ada di pikiran Shela.
__ADS_1
"Enggak La.. kamu pulang aja. Besok juga aku udah pulang kan, jangan bikin ibu cemas ya." Parto mencoba meyakinkan Shela.
"Shela.. lebih baik kamu pulang, ada aku di sini. Cuma jaga dua bayi besar ini enggak akan merepotkanku" Ucap mbak Lulu dengan tersenyum manis. Shela mengalah, dia enggak mau berngeyel-ngeyelan disaat seperti ini.
"Mbak nitip Parto ya," Kata Shela berjalan mengikuti Seno.
Setelah Seno dan Shela keluar dengan menutup pintu ruangan itu, Beni cekikikan enggak bisa menahan tawanya. Mbak Lulu melihat adiknya dengan heran. Ini adiknya yang luka pinggangnya tapi kok yang geser otaknya. Enggak ada apa-apa tahu-tahu cekikikan sendiri.
"Kamu kenapa Ben?" Tanya mbak Lulu menelisik apa gerangan sebab adiknya itu cosplay jadi bapak kunti.
"Itu mbak.. tadi Shela bilang, nitip Parto gitu, aku kok bayangin Parto kayak anak kambing main dititip-titipkan ke orang." Kembali Beni tersenyum, meski nyeri di bagian belakang tubuhnya sangat terasa tapi, dia masih bisa tersenyum bahkan tertawa seperti tadi hanya karena ucapan Shela.
"Asyem kowe Ben, itu tandanya dia beneran sayang sama aku Ben. Alhamdulillah beruntungnya aku.." Parto ikut tersenyum setelah menyadari perhatian manis yang Shela tunjukan kepada dirinya dan semua orang yang tadi ada di sana. Hanya untuknya. Itu yang membuat Parto kembali merasakan sensasi hatinya seperti ditumbuhi bermacam-macam bunga.
"Mbak Lulu.. ibu kok ditinggal dewe to, kepiye lho?!" Beni sadar akan satu hal. Kalau mbak Lulu di sini artinya ibunya sekarang seorang diri di rumah.
Mbak Lulu mengambil bantal yang tadi Parto lempar untuk nimpuk Seno. Dia kembalikan ke tempat Parto berbaring.
"Tapi mbak.. bukan Beni yang ngejar-ngejar Mela kok. Mela yang enggak bisa lepas dari bayangan cipo_kan adikmu itu. Iya kan Ben?"
Parto menunjukan giginya saat mengatakan hal itu. Seakan menahan tawanya karena saat itu dia bisa melihat mbak Lulu membulatkan matanya. Dan Beni, rasanya dia ingin sekali menyumpal mulut Parto dengan batako satu truk. Apa yang akan dipikirkan mbak Lulu nanti kalau mengetahui gimana bar-barnya gaya pacaran adiknya itu.
"Apa sih To, kayaknya bener otakmu ada yang enggak beres. Cuba besok tanyain lagi sama dokternya, sapa tahu emang letak otakmu agak nyamping! Perlu ditata ulang!"
Parto tergeletak mendengar ucapan Beni. Sedangkan mbak Lulu, mendengar adiknya sudah cerewet seperti sedia kala agak sedikit mengurangi rasa khawatirnya.
Waktu menunjukan pukul 21.45, Beni dan Parto udah terlelap dalam mimpi masing-masing. Padahal kalau mereka dalam keadaan sehat wal'afiat, jam segini masih mereka habiskan dengan ngapelin mbok Yuni.
__ADS_1
Mbak Lulu ngantuk. Tapi dia bingung harus tidur dimana, ini bukan rumah sakit kelas VIP dengan fasilitas sofa atau kasur lain untuk keluarga pasien bisa tidur nyaman, damai, tentram dan sejahtera. Ini hanya puskesmas kecil di luar desanya. Dia berjalan ke luar kamar rawat inap adiknya, duduk di bangku yang tadi sempat dia pakai untuk menemui seseorang.
Seseorang itu adalah dokter yang kebetulan pernah mengisi dan memberi luka di hatinya. Enggak mau berlarut-larut memikirkan masa lalu, mbak Lulu menaruh tangannya untuk dijadikan bantalan, iya.. mbak Lulu berniat mengistirahatkan raganya di bangku panjang itu.
Baru beberapa saat memejamkan mata, dia merasakan ada seseorang yang menutupi tubuhnya, memberikan selimut atau entah apa. Dia belum sadar betul dari rasa kantuknya.
Membuka matanya perlahan, mbak Lulu kaget saat melihat dokter Ardiaz berjongkok tepat di depan wajahnya. Jarak mereka sangat dekat. Dengan buru-buru, mbak Lulu memposisikan dirinya untuk duduk kembali. Sorot matanya tajam ke arah lelaki yang ada di depannya. Yang sekarang tanpa ijin duduk di sebelahnya.
"Capek ya? Tidur lagi aja.." Ardiaz, dokter itu membetulkan letak kacamatanya.
"Kamu apa kabar Lu?" Sambungnya lagi.
Bukannya menjawab, mbak Lulu malah berdiri dan ingin pergi meninggalkan Ardiaz. Enggak mau kalah gesit, Ardiaz menarik tangan mbak Lulu dengan maksud mencegah perempuan itu beranjak dari tempatnya duduk.
"Lepas! Kita bukan muhrim.. jangan seenaknya menyentuhku!" Kalimat pertama yang Ardiaz dengar dari bibir sang mantan.
"Jadi kamu mau aku halalin dulu, baru mau aku sentuh, begitu?" Tantang Ardiaz mengambil kacamata yang dia pakai, dan menaruhnya di saku jas putihnya yang tadi sempat jatuh karena sempat mbak Lulu hempaskan, jas itu yang tadi menyelimuti tubuhnya saat terpejam beberapa saat tadi.
"Jangan sembarang! Bercanda ada batasnya! Aku udah punya suami, jangan macam-macam!!" Ketus sekali mbak Lulu ini.
"Oowh.. maaf, aku enggak tahu. Tapi, aku bersedia jadi simpanan mu, bagaimana? Tertarik?" Masih enggak mau nyerah. Ardiaz enggak percaya begitu saja perkataan mbak Lulu tentang statusnya yang mengatakan dirinya sudah bersuami.
Sebuah tamparan hampir saja melayang di pipi dokter manis itu, tapi sang dokter lebih gesit menangkap tangan pelaku yang nyaris memberikan cap lima jari di pipinya.
"Jangan ribut. Ini udah malam. Istirahatlah!"
Dengan santai Ardiaz berjalan meninggalkan mbak Lulu dengan berjuta kekesalan yang ada di dadanya.
__ADS_1
Apa itu tadi? Mau menunjukan apa dengan dia berbuat seperti itu? Tanpa terasa, butiran air mata itu jatuh membasahi pipi perempuan yang selalu terlihat tegar itu.