
Malam semakin larut, ibunda Shela masih berkutat di dapur untuk membuat pesanan kue. Beliau masih memikirkan tentang anaknya, jika nanti mantan suaminya benar-benar diantar ke desa oleh istrinya, pasti Shela akan sangat kecewa dan sedih dengan sikap ibunya yang dianggap lebih mementingkan orang lain daripada perasaan putrinya.
Kilasan masa lalu membuat beliau melamun. Shela kecil dulu sering menangis, sering mengigau dalam tidurnya, jarang atau bahkan hampir tidak punya teman sebaya.
Setiap ada tugas kelompok di sekolah, Shela selalu kerjakan sendiri. Karena anak lain tidak ada yang mau satu kelompok dengannya, sering terjadi hal menyakitkan. Cemooh yang Shela kecil dapatkan karena ulah ayahnya. Lucu ya.. lelaki yang pergi meninggalkan anak dan istrinya malah dianggap sebagai korban karena tetangga berpikir perginya lelaki itu karena ulah sang istri yang sering menuntut.
"Ibu enggak istirahat? Kan bisa bangunin Shela buk," Shela mengikat rambutnya dahulu sebelum mendekat untuk membantu ibunya.
"Lho nduk, kamu kok udah bangun.. apa ndak tidur lagi kayak kemarin? Kamu kok sekarang hobi begadang." Kata ibu sambil mengambil loyang kue. Menuangkan adonan yang tadi beliau buat. Dan menaruh di oven.
"Ya tidur buk, cuma tadi denger di dapur ada suara mikser, Shela langsung kebangun."
Shela menuju kamar mandi untuk mencuci muka, dan ibu hanya melihat gerak-gerik anaknya. Duduk dan menuangkan teh hangat yang memang sudah beliau buat di teko sedari tadi.
"Nduk.. soal ayahmu itu-"
"Buk, jangan bahas orang itu dulu, masih terlalu dini kalau ingin membuat mood ku rusak." Shela memotong perkataan ibu, ikut duduk di samping beliau. Memandang wajah teduh ibunya.
"Gini buk.. To tadi sore bilang katanya hari ini dia dan orang tuanya mau ke sini."
Agak terkejut. Ibu mengerutkan keningnya. To itu siapa pikir ibu.
"To?" Tanya ibu akhirnya.
"Mas Parto buk, Shela enggak pernah panggil dia mas kok." Cuek aja.
"Oalah.. mas mu, lha kok hari ini to La.."
__ADS_1
"Ibuk kan bilang suruh dia datang ke sini, ya Shela ngomong ke dia buk.. lagian dia itu dari awal emang udah ngebet mau ka_win kok. Pas Shela bilang ibuk nyuruh dia ke sini sama orang tuanya ya makin girang dia."
Shela sedikit menyunggingkan senyum melihat ekspresi ibunya yang agak terkejut tadi.
"Iya ibu nyuruh mas mu ke sini nduk.. tapi ya ndak dadakan gini to, kamu kok santai-santai aja ki piye."
"Nanti kalau kepergok ibu lagi gituan kayak kemarin kan seenggaknya aku sama To udah sah buk," Shela bisa aja jawabnya. Senyum jahilnya membuat ibu mencubit kecil lengan anak gadisnya.
"Kamu kok nakal to saiki, niru siapa kamu ini?" Benar-benar enggak nyangka anaknya bisa sesantai ini mengatakan bahwa keluarga pacarnya akan datang bertamu atau mungkin bisa aja langsung melamar anaknya nanti.
"Udah kayak gini, pesenan kue ibu batalin aja. Yang udah dibuat ini bisa untuk suguhan keluarga mas mu nanti. Mas mu bilang jam berapa mau ke sini nduk?"
"Ngapain dibatalin buk, Shela bisa kok nganterin pesanannya. Buk.. Nanti yang datang hanya emak bapaknya To aja, paling juga nambah sebiji kalau adiknya ikut. Enggak bakal bawa orang sekelurahan juga.. ibu ini, dulu pas ayah datang ke rumah mbah uti (nenek) pertama kali bawa orang satu truk ya?" Shela mengakhiri senyum yang dia sunggingkan karena ingat ada nama orang yang tidak dia suka tak sengaja dia ucapkan.
Ibu hanya membalas dengan senyuman aja. Tidak mau membuat suasana hati anaknya hancur.
"Ndah.. kamu pakai karung goni aja, repot banget dari tadi lihatnya. Ini kan yang mau lamaran aku, kenapa kamu yang sibuk dari kemarin? Heran..!"
Parto melenggang keluar rumah, duduk di teras. Menikmati kopi yang tadi Indah buatkan untuknya.
"Mak.. emak kok ndak bilang kalau mau lamar mbak Shela sekarang to mak, kirain aku masih lama.. aku kan enggak punya baju yang cocok buat acara nanti mak!" Terlihat Indah masih bingung keluar masuk kamarnya,
"Bener kata mas mu Ndah, kamu pakai karung aja! Baju segitu banyak di lemari kok bilang ndak punya baju!" Emak ikutan sewot melihat kelakuan anaknya yang satu itu.
"Mas To juga ieh, kan bisa bilang sama aku dulu mas kalau mau lamaran. Aku bisa pesen baju di olshop, ah nyebelin lah..!" Melipat tangannya di dada, Indah duduk di samping kakaknya di teras rumah.
"Ndah.. Indaaaah.. kamu udah pesen kue buat nanti ke tempat calonnya mas mu?" Tanya emak teriak dari dalam rumah. Pagi ini merupakan pagi terrempong sepanjang perjalanan Parto menjadi anak emaknya.
__ADS_1
"Belum mak," Indah kembali berdiri dan menghampiri emaknya yang sibuk melihat dan memeriksa barang yang akan mereka bawa nanti ke rumah Shela.
"Kok belum ki piye? Kamu dari tadi ngoceh aja, berisik banget sampai lupa kan sama kuenya. Udah kamu buruan pesen kue ke yang biasa kamu pesen itu.. Pesen yang gede ya, kasih tulisan apa gitu biar bagus." Emak.. sungguh engkau tak tahu apa-apa tentang calon mantumu mak.
"Mak.. emak mau pesen kue ke Shela cake itu? Itu kan yang bikin mbak Shela mak.. ini emak enggak tahu apa lupa? Yang mau emak lamar buat jadi calon istrinya mas To itu ya mbak Shela yang punya Shela cake itu mak.. Hahahaha ini gimana ceritanya kita mau lamar dia, ke rumah dia malah minta dia buatin kue lamaran yang nanti di antar sama mbak Shela sendiri ke sini. Abis itu kuenya kita antar lagi ke rumah mbak Shela, aduh aku kok ngakak ini.. Hahaha"
Emak melongo. Tanda beliau memang enggak tahu apa-apa tentang siapa calon mantunya. Beliau samperin anak sulungnya yang cengengesan mendengar keributan di dalam rumah,
"Kamu ini, mau ngerjain orang tua hah?" Emak protes ke Parto sambil menepuk keras pundak anaknya.
"Aduh mak.. lha aku salah apa lho mak hahaha" Parto enggak bisa menahan tawanya. Indah ikutan ngakak dari dalam rumah. Sedangkan bapak, beliau woles aja menikmati nasi goreng hasil karya anak gadisnya di dapur.
...----------------...
Waktu yang di tunggu tiba, Shela kaget saat Parto datang bersama rombongan. Benar-benar banyak orang yang datang, padahal dia berpikir kalau Parto hanya datang bersama kedua orang tuanya dan adiknya saja. Ternyata dugaannya salah.
"Nah.. nduk lihat kan, mas mu datang bawa orang sekelurahan." Ibu melewati Shela yang masih terbengong di ruang tamu.
Ibu sudah tahu semua akan seperti ini, makanya beliau sudah menyiapkan semuanya. Memasak makanan yang cukup banyak, mengundang saudara dan tetangga dekat rumah untuk menyambut datangnya calon besan, perfect. Ibu emang paling pinter.
Saat Parto melihat Shela, matanya itu tidak bisa berkedip. Langsung terfokus pada satu titik itu, Shela.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jan tanya othor belakang foto Shela itu siapa gaess. Anggap saja itu mbak Sri yang ikut selpi😌. Yang pasti yang diberi tanda itu bukan ibunda Shela ya gaess😂
__ADS_1