
Beni menatap kosong pada selembar kertas undangan. Kertas yang bertuliskan nama Mela dan Jamal di sana, Mela akan menikah. Dan bukan Beni yang Mela pilih untuk bersanding dengannya di pelaminan.
Parto yang melihat temannya itu terdiam dan hanya nyepur saja belum berani mengajaknya ngobrol. Sedangkan Seno yang baru saja datang berkumpul dengan kedua temannya itu mengambil kartu undangan itu dan membacanya.
"Mela? Mela mantanmu mau nikah Ben?"
"Uwes Sen menengo (udah Sen diem aja)," Kata Parto yang melihat Beni tetap anteng. Mereka sekarang ada di warung Mbok Yuni. Memang di sanalah mereka sering berkumpul.
Tiba-tiba radio di warung Mbok Yun memutar lagu 'Pingal' yang di nyanyikan oleh penyanyi kenamaan Deny Naknan.
Di saat bersamaan Mela dan Jamal yang memang lagi sibuk-sibuknya menyebar undangan di hari bahagianya nanti, melintas di depan warung Mbok Yuni.
"Lah.. lha kok pas" kata Parto secara tak sengaja.
Seno tersenyum saja. Tanpa berkomentar apapun. Dan Beni, dia memandang kedua orang yang barusan lewat dengan model boncengan kayak deye (belalang sembah) itu hanya terdiam. Mela sengaja memilih jalan berputar hanya untuk pamer kemesraan bersama calon suaminya. Dan Mela juga yakin kalau Beni berada di warung Mbok Yun, hanya untuk memastikan lagi bahwa Beni benar-benar ada di sana, Mela sengaja mengajak Jamal untuk berhenti di warung itu.
"Mbok.. beli bensin ya Mbok," Ucap Mela sambil melihat ke arah tiga sekawan yang duduk berjejer rapi. Yang dua orang sih memang bisa di katakan duduk rapi ya, tapi yang satunya lagi selalu duduk dengan jegang (menaikan satu kakinya di kursi).
"Iya Mel. Ambil sendiri ya bensinnya, itu di depan.." Ucap Mbok Yuni.
"Eh ada Mas Seno, Mas Parto sama Mas Mantan.. Lagi ngapain kelian? Udah dapet undangan dariku belum? Jangan lupa nanti kelian dateng semua ya.. aku ngundang semua warga desa sini soale," Mela berucap tanpa memperdulikan perasaan Beni yang statusnya adalah mantan pacarnya.
"Owh kamu mau nikah Mel? Sama siapa?" Tanya Seno pura-pura tidak tahu.
"Hooh Mel.. kok aku juga enggak tahu kalau kamu udah mau nikah," Giliran Parto yang ikut berseloroh.
"Sama Mas Jamal, itu dia orangnya. Dia lamar aku sebulan yang lalu, aku minta di cepetin tanggal pernikahanku sama dia, takut khilap hehehe" Mela ini, benar-benar pencitraan biar di kata wanita sholehah.
"Owh jadi kamu di lamar sebulan yang lalu?" Tanya Seno lagi.
"Iya, romantis ya..?"
"Jadi selama pacaran sama Beni kamu juga pacaran sama Jamal? wah keren kamu Mel, bener kata orang 'kalau bisa gandeng dua kenapa musti gandeng satu aja?'" Parto berucap udah seperti gayanya Shela.
"Ya enggak lah, aku kan tipe setia Mas Parto.. Aku sama temenmu itu putus itu udah lama kok. Tanya aja sama dia kalau enggak percaya.."
"Setia ya.. setiap tikungan tanjakan turunan ada? gitu maksudnya?" Giliran Seno yang berucap.
Beni tetap diam mendengar kedua temannya adu argumen dengan mantannya. Meski sudah mencoba melupakan tapi, hatinya tetap sakit saat mengingat bagaimana dulu dia menjaga jodoh orang yang sekarang sudah menentukan pelabuhan hatinya.
"Kelian ini kenapa sih? Kalau enggak mau dateng ke acaraku nanti ya wes.. enggak usah jelek-jelekin aku gini," Drama itu yang Mela lakukan.
__ADS_1
"Kamu kan yang bilang sendiri di lamar pacarmu yang sekarang mau nikah sama kamu itu sebulan yang lalu. Lha waktu itu kamu kan masih pacaran sama Beni, kamu lupa apa gimana? Kamu mutusin Beni aja baru dua mingguan." Mela tersentak akan kebodohannya. Dia lupa kalau dia baru memutuskan Beni dua minggu yang lalu tapi pamer kepada mereka kalau udah di lamar Jamal sebulan yang lalu.
"Aku enggak jadi beli bensinnya Mbok.." Kata Mela buru-buru meninggalkan warung kopi milik Mbok Yuni.
"Lho Mel.. itu calon bojomu enggak mok ajak ngopi di sini? kenalin ke kita gitu.." ucapan Seno di timpali tawa oleh Parto. Tapi tidak dengan Beni, sedari tadi dia hanya diam.
Setelah calon pengantin baru itu pergi dari warung Mbok Yuni, Beni mengambil gitar yang ada di ujung kursi. Gitar itu punya Parto. Sengaja di taruh di situ karena memang mereka sering genjrang-genjreng di sana.
Piye, sing jelaske karo wongtuo
Wes nglakoni tekan semene
Nek akhire bakal bubar pisahan
Kowe kegodo tresno karo wong liyo
Nglali, kowe sing tau omong dewe
Nglakoni tresno tekan tuo
Ora ngliyo mung aku ning atimu
Nanging saiki atimu ono wong liyo
Awan aku kudanan
Sore mbok larani
Bengi tak tangisi
Mung iso bayangke kabeh kenangan
Kowe tak bocengke turut dalan kekepan kudanan
Saiki nyatane, kowe malah milih di kekep wong liyo
Opo kowe ra kroso abote atiku
Kudu kelangan wong sing paling tak tresnani
Ra jenak dolan, ra doyan mangan nek ra mbok dulang
__ADS_1
Beni kembali terdiam setelah menyelesaikan lagunya. Parto ngowoh, dia speechless. Seno pun sama.
"To.."
"Iyo Sen.."
"Jeru To jeru (dalem To dalem)"
"Hooh.."
"Apasih kelian ini, aku cuma nyanyi lagu yang lagi viral itu aja kok." Ucap Beni.
"Ben, suaramu lho Ben apik tenan.. dadi penyanyi aja kamu, berbakat lho kamu itu" Kata Mbok Yuni memuji suara Beni.
"Bukannya dari dulu juga sering nyanyi di sini Mbok, kok baru sekarang bilang suara aku bagus.."
"Beda rasane ya Mbok pas nyanyi pake hati gitu, di dengernya juga piyee ngono.."
"Nyanyi pake mulut To, kalau pakai hati enggak bakal denger kamu"
"Ben.. kamu masih sayang ya sama Mela?"
"Enggak tahu Sen.. Kenangan itu bukan noda di baju yang bisa hilang kalo di cuci. Aku tenanan kok dia dolanan (aku serius kok dia main-main), ini hati.. bukan toples kerupuk yang seenaknya dia bisa buka tutup, masuk keluarin tangannya sesuka hati" Beni kayaknya beneran oleng sampai bikin perumpamaan aja seenaknya udhelnya sendiri.
"Ben.. istighfar yo, galau ya galau tapi bisa enggak itu mulut kalau ngomong agak di lurusin dikit. Asli lho aku dari tadi ikut sedih denger lagumu, denger curhatmu, lha kok sekarang jadi kesel denger perumpamaanmu.." kata Seno gemas sama Beni.
"Hooh kui.. aku dengerin serius lho ikutan pen tak hiiih denger ujungnya." Parto sih cuma ikut-ikutan kesal aja, aslinya dia pengen ngakak denger curhatan Beni.
"Lho.. aku kenapa to? Ada yang salah?" Beni tersenyum kembali setelah dari tadi mukanya bete banget.
"Banyak Ben.. salahmu banyak... maksudmu apa tadi bilang 'masuk keluarin tangannya sesuka hati' hah?"
"Hooh apa itu maksudnya apa hah?"
Parto tersenyum saat Seno udah mode kesal kek gini.
"Aku kan ngibaratin toples kerupuk.. kalian ini mikirnya apa cuba? emang kalau mau ambil kerupuk di toplesnya tu kek gimana cuba posisi tangannya? masuk ambil kerupuknya terus keluar lagi abis dapet apa yang di cari.. kek gitu kan?" Beni membela diri.
"Wes To jarke wae jarke.. wong edian kui bebas! (wes To biarin aja biarin.. orang gila itu bebas!)"
Mereka bertiga tertawa. Menertawakan ketidak warasan Beni saat dia lagi galau kek sekarang ini. Beni kembali menyelipkan sebatang rokok ke bibirnya, menyalakan korek dan membakar ujung rokok itu. Menikmati setiap detiknya asap nikotin itu masuk ke paru-parunya.
__ADS_1
NB: Yang enggak ngerti arti dari lagu Beni, bisa cek di yutub ya gaesss.. ✌️