Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Wanda Mengsad


__ADS_3

Bangun tidur dengan keadaan yang kacau, Wanda mengingat kembali kejadian sore itu. Sore yang cerah tapi tidak dengan hatinya.


Adit, cowok yang tadinya masih berstatus pacar Wanda datang menjemput Wanda untuk sekedar jalan-jalan dengan motor ninja ijo yang dia banggakan. Semua berjalan baik-baik saja, Wanda tersenyum dan tertawa mendengar Adit yang pandai merayu terus menggodanya. Wanda merasa sangat senang mempunyai pacar yang menurutnya romantis seperti Adit ini. Padahal cowok yang pandai merayu dan membual seperti Adit itu adalah tipe predator yang sesungguhnya. Jangan menyamakan Adit seperti buaya, karena sesungguhnya buaya adalah binatang yang setia kepada pasangannya.


Sampailah mereka di warung makan lesehan yang letaknya bersebelahan dengan mini market. Wanda duduk di warung lesehan itu sambil menunggu Adit yang ijin ke toilet. Adit tidak membawa hpnya ikut menengok ke indahan toilet warung makan lesehan itu, entah lupa atau memang sengaja diletakkan di meja.


Tiba-tiba hp Adit berbunyi, mengagetkan Wanda yang masih sibuk memilih makanan yang akan dia pesan. Karena terus-menerus bergetar menandakan beberapa kali telepon masuk dan juga muncul notifikasi pesan wa, Wanda akhirnya kepo juga. Dia ingin tahu, sebenarnya siapa gerangan yang terus-terusan menghubungi pacar kesayangannya itu.


Kaget, itu yang Wanda rasakan pertama kali saat membaca isi pesan yang tertera di layar hp Adit. Emosi, merasa ditipu, dan sakit hati itu yang membuat Wanda akhirnya menangis. Dia enggak menyangka lelaki yang memacarinya selama ini adalah suami orang. Ya, semua pesan dan telepon yang masuk ke hp Adit adalah dari istri Adit.


Adit datang dari toilet dengan senyuman yang dibuat sekeren mungkin. Tapi, senyum itu pudar saat melihat Wanda menangis. Pandangannya langsung tertuju ke hpnya yang langsung dia ambil dari tangan Wanda.


Pertengkaran pun terjadi. Adit tetap merasa dirinya benar. Dia masa bodoh dengan anggapan Wanda yang menuduhnya selingkuh.


"Selingkuh? kamu enggak salah nuduh aku selingkuh? Aku mau tanya sama kamu, apa kamu pernah tanya statusku? apa aku yang ngajak kamu pacaran? apa aku janjiin kamu ke hubungan yang serius? Enggak! Aku tanya dimana salahku sekarang?" Adit berkata keras kepada Wanda dengan tidak memperdulikan banyaknya orang yang melihat aksinya tersebut.

__ADS_1


"Kamu masih bisa membela diri? Hatimu itu terbuat dari apa? Kalau selama ini kamu cuma pingin main-main harusnya jangan dengan hatiku.. ini hati bukan taman bermain! Seenaknya kamu pencak di dalam sana! Kamu juga enggak mikirin gimana sedihnya istrimu kalau tahu kelakuan suaminya se lucknut kamu? Otakmu kamu taruh mana hah? Baca pesan istrimu itu! Baca! Anakmu lagi sakit.. dan,.. astaghfirullah.. dan kamu malah asik ngajak aku makan di sini! Kamu punya otak enggak?!" Wanda berkata dengan bibir bergetar. Emosi telah menguasainya.


"Harusnya ini masalah sepele ya, tapi kamu membesar-besarkan ya. Menganggap semua adalah salahku, aku? cuma aku yang salah di sini? Tentu enggak.. Kamu tahu,,?? kamu aja sekarang punya title pelakor!" Ucapan Adit bener-bener membuat Wanda langsung memberi cap lima jari di pipi lelaki yang baru sepuluh menit tadi masih dia puja-puja sebagai lelaki paling romantis dan baik yang pernah dia kenal.


"Kalau aku tahu sebelumnya kamu udah punya anak dan istri aku juga enggak sudi pacaran sama kamu! Aku nyesel kenal kamu, muak aku lihat mukamu!" Wanda menangis, dia dipermalukan di depan umum. Di tunjuk sebagai pelakor, hal yang dia sendiri tidak sadari. Wanita enggak waras mana yang mau menjalin hubungan dengan lelaki yang sudah mempunyai keluarga?


"Nyesel? kamu nyesel setelah aku ngasih apa yang kamu mau? Make up, tas, baju, bahkan hp yang kamu kalungin di lehermu itu adalah pemberianku.. enak amat bilang nyesel! Nyesel tapi menikmati itu namanya munafik, reti?!" Ingin rasanya Wanda mengangkat meja lesehan itu dan melemparkan ke muka Adit yang mulutnya sepedas seblak level jahanam.


Mendengar ucapan Adit yang mengungkit-ungkit apa yang dia berikan untuknya, seketika Wanda mengambil hp yang ada di lehernya dan membantingnya. Dueeer. Maaf bukan seperti itu juga bunyinya.


"Ambil ini! Aku enggak butuh apapun dari seorang bajing_an seperti kamu. Kamu yang tega ngasih harapan palsu ke aku, kamu yang tega membagi perhatian dan kasih sayang yang harusnya kamu berikan untuk keluargamu saja ke aku. Aku memang goblok karena udah percaya sama kamu, aku benci banget sama kamu!"


Belum sempat membuat kalimat pembelaan, Adit di kejutkan dengan kehadiran wanita yang dia sangat kenal. Wanita yang dia nikahi dan memberinya seorang anak yang masih balita. Datang dengan muka memerah, wanita yang datang dengan menggendong anak kecil mungkin baru berusia dua tahun itu langsung menghampiri Adit dan menarik tangannya.


"Yah.. kamu ada main sama wedokan kui!?" Ucap istri Adit yang menunjuk Wanda hanya dengan dagunya saja.

__ADS_1


"Enggak.. Ogak Mah, aku juga enggak tahu itu cewek ngamuk-ngamuk wae. Ra duwe isin blas (enggak tahu malu banget)."


Apa? aku enggak tahu malu? aku ditipu sama dia, dan dia bilang aku enggak tahu malu.. Lanang ora duwe utek (lelaki enggak punya otak).


"Heh wedokan gatel.. kamu lihat, bojoku ancen ganteng. Tapi, jangan seenaknya kamu godain dia. Dia udah punya anak bojo! Kayak neng ndunyo wes ntek wong lanang wae nganti glayuti bojone wong?!! (Kayak di dunia udah enggak ada lelaki aja sampai nempelin suami orang?!!), Untung aku mau dikasih tahu tetangga kalau bojoku nek kene lagi di godani wedokan model kowe! Dadi aku cepet-cepet rene!"


Itu istri Adit kok ya enggak mikir suaminya ikut andil dalam keributan yang terjadi ya. Kok hanya menyalahkan Wanda, dan langsung mengecap Wanda sebagai cewek yang godain suaminya. Ya, karena dia berfikir suaminya adalah orang yang paling baik dan enggak pernah neko-neko. Apalagi sampai berselingkuh, kalaupun suaminya tergoda pasti ceweknya yang keganjenan. Itu yang ada di pikiran istri Adit.


Wanda sampai enggak bisa berkata-kata. Dia mau membela diri tapi kedua pasangan suami istri itu sudah pergi meninggalkannya di sana sendirian. Meninggalkannya dengan rasa sakit hati dan malu teramat sangat. Ach Wanda kamulah the real mengsad yang sesungguhnya.


Memejamkan matanya sesekali Wanda menyeka air mata yang keluar dari matanya. Iya dari mata keluarnya kalau dari hidung namanya umbel (ingus). Berjalan keluar dari warung makan lesehan itu, Wanda merasa malu. Dia tidak tahu harus apa, mau pulang ke rumah juga tidak mungkin karena dia kesini tadi bersama Adit. Apa dia harus berjalan kaki?


Dan, setelah dua jam duduk di pojokan mini market.. akhirnya ada seseorang yang berbaik hati mengantarkan Wanda pulang. Pulang.. ke hati yang tepat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Wahai reader yang mulia dengan kekuatan jempolnya, jan lupa tekan like, dan koment ya. Jan malu² komen di mari karena yang malu²in cuma othor jonthor aja😆


__ADS_2