Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Hari Pernikahan


__ADS_3

Hari ini, semua penantian, harapan, impian, serta keinginan Parto telah terwujud nyata. Setelah mengucapkan kalimat ijab qobul yang dia ucapkan tadi, resmilah sudah dia menjadi suami Shela.



#Foto hanya pemanis aja gaess.



#Anggap aja itu Parto n Shela, ngono yo gaess!


"Selamat ya brother... Akhirnya sah lho, gimana tadi, aman enggak jantungmu?" Beni menepuk pelan pundak Parto.


"Adem panas Ben. Huuuft" Parto menyeka keringat di dahinya.


"Lebih adem panas nanti malam To, aku kok kepingin kayak kamu ya." Seno melihat ke arah Indahnya yang tampak manis dengan balutan kebaya merah.



"Kamu kepengen apa Sen?" Beni mulai iseng.


"Nikah lah, kamu mikir apa?" Seno melirik malas ke arah Beni.


"Kalau kepengen yang lain.. jepitin aja itumu ke lubang pintu! Dijamin syahdu brother!" Seno langsung memukul pelan pundak Beni.


"Eh aku mau makan lah.. aku kok laper, To.. aku mau isi perut dulu ya. Kamu sih enggak usah tak ajak Sen, males juga ngajak kamu hahaha!" Beni melenggang pergi ke bagian prasmanan.


"Ancen lucknut sih kae wong!" Seno akhirnya berjalan mengikuti Beni.


Acara sangat meriah. Banyak tamu undangan yang hadir di sana. Shela dan Parto saat ini ada di pelaminan. Duduk manis dengan perasaan bahagia yang menyelimuti hati masing-masing.


"Kenapa To?" Shela tersenyum saat mengetahui suaminya itu memperhatikannya.


"Mas.. Panggil aku mas.." Parto membuat Shela melebarkan senyumannya.


"Aku suka manggil kamu To, kenapa? Kamu enggak suka?" Rasanya banyak bunga yang tumbuh di hati keduanya saat ini.


"Aku suka.. apapun panggilan darimu untukku, aku suka.. tapi, aku lebih suka saat bibirmu itu memanggilku dengan sebutan mas. Sayang juga boleh. Lebih merdu aja di dengernya." Parto mengedipkan satu matanya.


Aaach ini ya.. nulis suasana kayak gini ditemani rintik hujan, angin yang bertiup gawe moyak-mayik wit-witan.. rasane kui gawe anu lho! (Maaf enggak ada translate untuk kalimat ini hahaha)


"Nanti.. bukan di sini, bukan sekarang, aku akan manggil kamu mas dengan suara ter merduku! Membuatmu enggak akan lupa saat aku mengucapkannya! Aku pastikan itu!" Bisik Shela membuat jantung Parto bersenam Poco-Poco!

__ADS_1


"Kamu kenapa jadi senakal ini? Siapa yang ngajarin kamu hmm?"


"Dan aku tunggu saat itu, saat kamu menyerukan namaku," Lanjut Parto membuat Shela menampakan deretan gigi putihnya.


Di sisi lain. Beni dan Seno yang melihat keakraban pasangan sah tersebut dari jarak yang cukup jauh hanya bisa menebak-nebak apa yang Parto dan Shela bicarakan.


"Ben.." Seno menyomot pisang goreng yang ada di tangan Beni.


"Diieh Rojali!!! Manggil ya manggil tapi tangan kondisiin dong!" Beni mengambil lagi pisang goreng di piring yang ada di depan mereka.


"Opo?" Beni memasukan satu pisang goreng utuh ke dalam mulutnya.


"Eeeladalaah.. kamu ini rakus apa emang gragas? Turunan barongan ya? Mulut bisa melebar kayak gitu?" Seno geleng-geleng kepala melihat kelakuan Beni.


"Inbang nok selobot neh!" (Timbang mok serobot neh!) #Daripada kamu serobot lagi!


"Mereka kelihatan seneng banget ya Ben.. Emang bener lah, jodoh itu manusia enggak ada yang tahu. Ternyata diantara kita bertiga, Parto duluan yang mau uji kekuatan dongkraknya!"


"Hmm emang kamu manusia?" Beni membuat Seno langsung menekuk mukanya. Alhasil Beni ngakak karena selalu bisa bikin Seno kesal.


"Uji kekuatan dongkrak? Maaf mas Seno, aku masih polos.. bisa kamu jelasin maksud perkataanmu tadi apa?" Beni kembali tertawa. Tapi, Seno segera menyumpal mulut Beni dengan pisang goreng yang masih ada di tangannya. Membuat Beni memberikan kata-kata mutiara untuknya.


"Lihat aja Ben, abis ini aku bakal cepet-cepet lamar Indah. Dan kamu.. bye aja!" Sombong!


Mereka mengobrol, bercanda, meski untuk orang lain candaan mereka dinilai kejeron (keterlaluan), tapi ya itulah mereka. Enggak ada dendam. Saling mengumpat udah jadi makanan sehari-hari buat indra pendengaran mereka.


...****************...


Apa yang paling ditunggu setelah acara pernikahan? Buka amplop! Right! Pintar, jenius, luar biasa! Kalau kelian tim mengsad pimpinan Pio dari desa Wekaweka, bukan buka amplop yang menjadi gongnya di acara pernikahan. Tapi apa? Katakan sekali lagi?? Bisa lebih keras pemirsa??? Ya... malam pertama.. Sebentar, othor tak menyingsingkan lengan baju dulu sebelum menulis adegan berbahaya ini.


Diberitahukan kepada seluruh reader, meski minim atau mungkin tidak punya pengalaman sama sekali di bidang ini. Demi memenuhi keinginan be_jat para tim mengsad othor udah surpe (apa itu surpe?) diberbagai bacaan pernganuan! Tapi, satu yang perlu dijelaskan disini.. ini hanya hiburan, jangan pernah ngejudge othor, karyanya, ataupun semua reader ktk di sini! Kelian bebas memilih bacaan di sini, dengan pikiran dan daya tangkap kelian masing-masing kalau kisah ini tidak sesuai ekspektasi kelian, ya monggo melipir mawon!


...****************...


"Mas.. sudah makan belum?" Tanya mertua Parto yang melihat Parto mondar-mandir, setelah mengganti pakaian.


"Sampun buk." Parto gugup, lah ini kenapa malah pengantin pria yang grogian, harusnya kan sebaliknya. Itulah uniknya pasangan ini.


"Tamu sudah sepi, udah malam juga.. kalau mas To mau istirahat ya monggo. Tahu kan kamar kelian di sebelah mana?" Ibu tersenyum sambil menepuk ringan pundak Parto.


"Njih buk." Lagi-lagi kalimat singkat aja yang Parto ucapkan untuk menjawab pertanyaan ibu mertuanya.

__ADS_1


"Ehem.." Shela berdecak pinggang. Melihat Parto yang masih ada di ruang tamu sambil menggigit bibir bawahnya. Dia ini kenapa dah?


"Iya.." Parto tersenyum melihat cara Shela mengkode dirinya agar masuk menuju kamar mereka.


"Udah La?" Tanya Parto setelah menutup pintu.


"Udah.. Kan cuma mandi sama ganti baju, mau berapa lama emang?" Shela duduk di ranjangnya.


Parto masih berdiri, asli dia bingung harus apa.


"Kamu kenapa?" Shela bertanya karena memang dia enggak ngerti Parto itu gugup karena alasan apa.


"Duduk sini, mau berdiri terus?" Shela menarik tangan Parto yang mengeluarkan keringat dingin.


"Tangan kamu dingin banget, kamu sakit?" Shela menyentuh kening suaminya.


"La.." Parto menggenggam tangan Shela yang tadi dia gunakan untuk meraba kening Parto.


"Dalem mas" Mendengar jawaban Shela membuat hati Parto tak karuan.


"La.." Dua kali Parto memanggil Shela, tapi kali ini Shela bukan menjawab dengan suaranya. Dia memberanikan diri untuk berperan aktif memulai pergulatan bibir diantara mereka.


Keduanya larut dalam perasaan masing-masing. Shela yang dari awal memulai permainan bibir menjadi kewalahan karena balasan yang lebih aaach yang Parto berikan. Bukan hanya bibir Shela yang dijelajahi oleh Parto tapi juga bagian lain yang menuntut untuk dijamah.


Shela terus mengalunkan suara merdu menyebut nama suaminya. Membuat Parto makin bersemangat untuk menuntaskan rasa penasaran dan menjadikan Shela wanitanya. Saat ingin menjelajahi kedua bukit tanpa pengaman yang sudah dia taklukkan, dan membuat si pemilik meracau tak karuan... keduanya di kagetnya oleh suara ponsel Parto yang berdering.


Mencoba melanjutkan bermain di posisi enak menurut mereka berdua, sekali lagi ponsel berbunyi.


"Sebentar.." Suara Parto terdengar parau. Tanpa mengunakan baju yang dia buang entah kemana, Parto hendak mengambil ponselnya. Tapi, Shela langsung menarik lagi tangan suaminya. Saat Parto ditariknya, dia terjatuh dengan tangan menangkup sebelah bukit terlarang yang sudah halal untuknya.


"Sebentar sayang.." Ucap Parto dengan mengecup ringan bukit yang telah resmi menjadi miliknya itu, Parto bangkit saat kembali mendengar ponselnya terus menerus berbunyi.


"Mau lanjut apa stop sekarang dan jangan pernah nyentuh aku lagi!" Ancaman Shela berhasil membuat Parto masa bodoh dengan panggilan yang saat ini masih setia untuk di terima.


Shela menguasai keadaan kembali, dengan berdiri keduanya menautkan bibir. Mata Shela terbuka untuk melihat siapa gerangan yang membuat Parto tidak fokus, dengan masih menautkan bibir Shela mengambil ponsel Parto. Nama Beni ada di sana, keisengan pun langsung terlintas di otak Shela. Dia langsung menekan tombol hijau tanda menerima panggilan.


"Aaach..." Lenguh Shela merasa kehabisan stok oksigen di paru-parunya.


Saat Parto ingin menjelajah kembali kedua bukit yang tadi tertunda untuk dieksplor, Shela memperlihatkan ponselnya yang dalam mode menerima panggilan.


...----------------...

__ADS_1


Sampai sini dulu gaess.. othor tak anu dulu, terimakasih atas semua dukungan kelian untuk ktk (kisah tentang kita). Kurang hot? coba bacanya sambil nangkring di atas kompor! Tunggu kejutan besok.. mungkin bakal ada kreji up lagi untuk menuntaskan keinginan terpendam kelian! Jadi gunakan jempol kelian untuk ngasih aku semangat ya gaess, dengan like n komen di setiap bab ktk! Love you all ❤️


__ADS_2