
Shela menatap kearah Parto. Seakan bertanya 'dia udah vaksin rabies belum?'
Parto mengangguk. Saat itu, untuk pertama kalinya Shela berjabat tangan dengan Beni dan Seno.
Seno sih lempeng-lempeng aja, dia kan emang bucin akut sama Indah.
"Mbak Shela pinter bikin kuenya, kue ini rasanya enak banget mbak." Indah tanpa sungkan beberapa kali memasukan brownies lumer ke dalam mulutnya. Tanpa peduli ketiga lelaki di sana kebagian atau enggak.
"Kalau ibu yang bikin lebih enyoii lagi, ini levelnya masih jauh sama bikinan ibu." Kata Shela sambil tersenyum.
"La... kamu sama Indah dulu ya, aku tak nerusin nurunin genteng tadi. Biar cepet kelar." Parto berjalan sambil mengusap lembut pucuk kepala Shela. Shela diam tanpa merespon. Dan hal kecil itu makin membuat Beni ngowoh.
Seorang Parto bisa se akrab itu dengan Shela. Tadi saat dirinya minta berjabat tangan dengan Shela saja mikirnya lama banget. Beni kira tadi Shela enggan mengulurkan tangannya.
Saat ketiga lelaki itu berada agak jauh dari tempat Shela dan Indah berbincang, Beni menanyakan pertanyaan yang membuat hatinya mengganjal.
"To..." Seru Beni yang melihat Parto sudah ambil ancang-ancang untuk menaiki tangga menuju atap rumah.
"Opo?" Parto melirik saja ke arah Beni.
"Kowe opo pacaran ambi Shela? (kamu apa pacaran sama Shela?)
Beni bertanya langsung tanpa basa-basi dulu. Parto sekarang udah berada di atas atap rumah.
"Ijeh proses," (masih proses,)
"Lah.. kowe ora wani nembak dekne opo To?" (Lah.. kamu enggak berani nembak dia apa To?) Giliran Seno yang berseloroh.
"Wes tak jak mbojo malah, aku moh nek muk pacar-pacaran rasan. Nanging, bocahe durung gelem." (Udah aku ajak nikah malah, aku enggak mau kalau cuma pacar-pacaran aja. Tapi, dianya belum mau.)
"Edyaaaaan!!!"
__ADS_1
"Njiiir!!!"
Seno dan Beni merasa kalah start beneran dari Parto. Temen mereka itu bahkan berani ngajak nikah Shela yang status mereka aja belum resmi jadi pacarnya.
"To... kamu pakai jurus apa buat naklukin Shela. Dia aja cuek banget sama aku, malah kek jyjyc liat aku. Lha ama kamu kok beda, gemes aku sama cewek model Shela ini,"
Beni menggeser meja kayu yang ada di dekat pintu agar tidak menghalangi jalan.
"Jurus seribu bayangan Ben hahaha, pesona mu luntur di depan Shela, aku kok ngakak Ben." Seno yang gantian mengejek Beni.
"Enggak usah gemes sama Shela Ben, kamu udah punya Wawan lah." Parto turun dari atap. Keringat bercucuran yang nampak jelas di wajahnya.
"Ngopo To? Kok mudhun?" (kenapa To? kok turun?)
Parto enggak langsung menjawab, dia merasakan kakinya menginjak sesuatu yang membuat dirinya langsung berucap 'aaargh'
"Kenapa?" Tanya Beni langsung menghampiri Parto.
"Edan lah kowe, tadi apa enggak pake sepatu? minimal sendal lah.. udah tahu main di lokasi kek gini pake acara nyeker! (telanjang kaki) Keluar dulu! Bisa enggak?" Beni melihat benar ada paku tertancap di kayu yang sekarang menghiasi telapak kaki Parto.
"Aku merinding liatnya To, sakit ya?" Tanya Seno ikut membantu Parto berdiri.
Dibantu Beni, Parto bisa melepaskan paku yang tertancap di kalinya. Darah langsung mengalir di bagian yang terkena paku itu.
"Iish asyem banget lah, keluar dulu yuk!" Ajak Parto sambil jalan terpincang-pincang.
Melihat ada yang enggak beres dengan kakaknya, Indah berlari menghampiri Parto yang sebenarnya sudah berada dekat di lokasi dia dan Shela duduk tadi.
"Mas To kenapa?" Indah panik saat melihat darah di setiap jejak langkah kakaknya.
"Kena paku dia Ndah, mau uji kekuatan fisik dia! Lagaknya mau debus, jalan di atas paku! Eh tahunya tuh paku punya dendam ma dia. Nembus deh ke kakinya!" Beni menjelaskan dengan gaya konyolnya.
__ADS_1
"Ya Allah mas.. kok sembrono banget to, tadi enggak pake sepatu ya?" Parto diam saja saat Indah mulai tanya ini dan itu.
Shela mendekati Parto, dia dengan cepat menyiram kaki Parto dengan air putih di teko yang tadi disuguhkan untuk mereka minum. Semua orang yang melihat hal itu hanya diam, respon Shela sangat cepat. Daripada sibuk bertanya, dia langsung beraksi dengan tindakan.
"Ada obat luka? Betadi_ne atau sejenisnya?" Tanya Shela dengan muka serius.
"Ndak ada mbak, entar dulu biar aku beli." Indah berdiri, dia berniat membeli apa yang Shela sebutkan tadi.
"Dek, aku aja yang beli. Kamu di sini aja!"Seno menahan tangan Indah.
"Aku aja mas, mas Seno istirahat aja. Kan capek tadi abis angkat-angkat barang segitu banyak."
"Aduuuh... udah-udah biar aku aja! Kelian ini bucinnya entar aja bisa enggak?" Beni gemas dengan obrolan dua insan dimabuk asmara itu.
Dengan cepat Beni mengendarai motornya pergi dari rumah embah Parto.
"Kamu bisa enggak sekali aja enggak ceroboh? Sakit kan?" Shela menatap manik hitam milik Parto. Parto hanya mengangguk tanpa mengeluarkan suara. Dia tahu dia emang ceroboh saat ini, membuat orang-orang menjadi cemas karena kecerobohannya.
"Mana darahnya keluar terus lagi, kelian ada sapu tangan atau kain apa gitu yang bisa dipakai buat balut luka sementara?" Shela bertanya kepada Indah dan Seno.
Indah menggeleng pelan. Sedang Seno berlari ke arah motornya, berharap di sana ada sesuatu yang bisa dia gunakan untuk menghentikan darah yang terus mengalir di telapak kaki Parto.
"Minum dulu mas.." Indah menyodorkan segelas air untuk kakaknya.
Merasa lama menunggu, Shela melepas cardigan yang dia pakai dan di robeknya bagian lengan. Indah dan Parto sampai kaget karena tindakan Shela yang nampak seperti di pilem-pilem itu.
"La.. itu baju kamu kok malah dirobek-robek! Sayang La..." Parto makin enggak enak saat Shela jongkok di depan Parto dan mengangkat kakinya untuk dibalut dengan cardigan milik Shela.
"Mbak Shela perhatian banget sama mas To,,," ucap Indah lirih.
Meski pelan tapi perkataan Indah bisa didengar oleh Parto maupun Shela.
__ADS_1
Shela hanya diam tanpa menanggapi apa yang diucapkan Indah. Sedangkan Parto, dia makin yakin, makin memantapkan hati untuk menjadikan Shela halal untuknya.