
Beni sampai di rumah Wanda. Dengan sedikit ngebut dia bisa tiba lebih cepat, apalagi dia memang suka memacu adrenalin saat berada di jalanan. Pokoknya demi nuntasin rasa rindu lah ceritane.
Wanda yang memang berada di teras rumah tersenyum saat melihat Bebennya berkunjung.
"Beben.." Wanda berdiri dari tempatnya duduk dan berjalan menghampiri Beni. Beni ikut sumringah melihat reaksi yang Wanda tunjukin.
"Ben tumben banget ke sini, kenapa?" Wanda menanyakan pertanyaan basa-basi yang jawabannya dia sendiri sudah tahu.
"Kamu enggak kangen aku apa Nda?" Beni over PD pemirsah.
"Aku enggak berhak kangenin kamu Beben, aku siapa... kita udah enggak ada hubungan apa-apa kan?" Wanda bertanya sambil memiringkan wajahnya.
"Emang harus 'kamu siapa' dulu baru bisa ngangenin aku Nda?" Beni balik bertanya.
"Ya Allah ayo masuk dulu Ben, di mana sopan santunku sampai lupa belum nyuruh kamu masuk ke dalam!" Wanda mengajak Beni masuk dalam rumah.
"Iya Nda,"
Sampai di dalam rumah, Beni melihat ada ayah dan ibu Wanda sedang menonton tv. Sesaat Beni agak gugup, tapi dia menutupi kegugupannya dengan menunjukkan sopan santunnya, cara yang paling simpel agar terlihat good looking dihadapan orang tua adalah dengan menyalami kedua orang tua Wanda. Dia enggak mencium tangan orang tua Wanda seperti yang biasa Seno dan Parto lakuin. Hanya bersalaman biasa saja. Beni belum pernah mencium tangan siapapun kecuali tangan ibunya sendiri.
"Iki sopo Nda? kok kayak pernah lihat ya?" Tanya ayah Wanda sambil melihat ke arah Beni. Wanda bingung mau jawab apa, dia melihat Beni dengan pandangan bertanya. Mungkin kalau ngomong Wanda ini bakal bilang 'aku bilang apa ni sama ayah?'
"Aku Beni Om, temen Wanda tadinya.." Ucapan Beni sengaja digantung untuk melihat reaksi Wanda. Wanda jelas makin bertanya, ini maksudnya Beni apa cuba?
"Kok tadinya?" giliran ibu Wanda yang bertanya.
"Iya tadinya temen biasa Bulek, tapi sekarang Alhamdulillah Wanda mau nerima aku jadi temen hidupnya nanti,"
Wanda tersenyum. Menampakkan lesung pipinya yang menambah keelokan pada diri Wanda. Cantik, sudah pasti. Orang tua Wanda enggak sekolot itu sampai enggak bisa diajak bercanda gaess.. jangan bayangin kalau Beni bakal disuguhi racun tikus abis ngomong kayak tadi ya, sama sekali enggak. Mereka orang tua yang pengerten (pengertian) bingitzz.
Orang tua Wanda akhirnya berbincang sebentar dengan Beni, sampai akhirnya mereka meninggalkan pasangan muda-mudi itu di ruang tamu.
"Beben.. kamu apaan sih, bercandanya enggak lucu tadi. Kalau ayah sama ibu anggap kamu pacar aku beneran gimana?" Wanda sedikit cemberut tapi malah membuat Wanda terlihat makin manis di mata Beni.
__ADS_1
"Yang bercanda siapa Nda, aku tenanan (serius) kok. Jujur aja... kamu selalu punya ruang khusus di hatiku. Kamu dan kenangan kita, Kamu yang sampai sekarang masih manggil aku Beben meski kita udah enggak sama-sama lagi buat aku pengen balik ke masa itu, waktu kamu dan aku menjadi kita. Bukan mengulang kisah kita yang dulu, karena ujung kisah kita dulu adalah perpisahan, kegagalan mempertahankan kamu di sisiku... Aku ingin mengukir lagi kisah baru dengan kamu dan membuang semua kenangan buruk yang akan buat kamu sakit hati... menggantinya dengan cerita kita yang dimulai dari malam ini."
Beni sangat fasih melontarkan kata-kata itu. Begitu syahdu didengar, membuat luluh hati Wanda. Apalagi ditambah dengan intro pegangan tangan seperti sekarang ini, diiringi musik yang terdengar merdu dan menambah suasana romantis meski cuma di ruang tamu,
Kerinduan
Yang kini kurasakan
Terjawab sudah dengan hadirmu
Membawa kehangatan
Sekian lama
Kau doa yang kupintakan
Tuhan kirimkan engkau padaku
Mengisi kisah hidupku
Dalam gelapku, kaulah pijarku
Dalam hatiku, engkaulah cintaku
Kaulah lentera di dalam jiwa
Kuatkan raga, peluk nan cinta
Semoga abadi, cinta tuk selamanya
Wanda tersenyum. Hatinya berkembang-kembang (berbunga-bunga) saat ini.
"Jadi gimana Nda?" Tanya Beni memastikan hubungan mereka.
__ADS_1
"Apanya yang bagaimana Beben?" Senyum itu tak hilang dari wajah ayu Wanda.
"Kamu nerima aku apa enggak? ya maaf kalau acara nembak kamu sekarang enggak modal blas... besok aku ulangi deh, besok tak ke sini lagi. Bawa beras dua karung biar orang tua kamu mau jadiin aku mantunya!"
Wanda tertawa mendengar ucapan Beni.
"Beras? Astaghfirullah Beben, enggak ada barang lain yang lebih meyakinkan gitu?" mereka saat ini masih saling berpegangan tangan gaess. Enggak tanya ya? Ya, cuma ngasih tahu aja sih. Daripada kelian tanya tetangga yang enggak tahu apa-apa.
Wokey lanjut cerita aja. Othor mulai oleng.
"Kamu maunya dibawain apa Nda? Asal jangan minta candi Borobudur dipindah ke sini aja, aku bingung cara bawanya Nda."
Beni memang paling bisa bikin hati cewek luluh lantak dengan semau ucapannya. Hanya ada dua cewek yang dia tandai enggak goyah dengan setiap bualannya. Yang pertama Shela si Nini kunti, yang kedua Ralina. Dua cewek itu seperti buta dengan pesonanya. Dan lebih memilih Parto sebagai pusat fokus mereka.
Pesona Beni benar-benar lenyap saat dihadapkan dengan dua makhluk P3 itu. Apa..? apa? P apa? P3. Perempuan Penggemar Parto.
Ya salam apa lagi itu? Itu adalah julukan yang Beni dan Seno berikan untuk Shela. Dan sepertinya sekarang Shela punya teman P3.
"Ben... kamu tahu sendiri kan, aku enggak bisa, aku..." Wanda menunduk.
Beni agak terkejut. Dia pikir Wanda akan terima ungkapan rasa yang dia ucapkan tadi. Benar kata Parto, Beni terlalu PD. Dia enggak mikirin kalau Wanda baru boker heart (Broken, ini bisa-bisanya yang nulis aja plesetin kata. Jangan ditiru gaess, enggak baik!). Beni mengulang kisah gagal nembak cewek di momen yang enggak tepat kek Seno. Dulu Seno ngungkapin rasa ke Indah di kandang kambing, lah sekarang Beni... Meski bukan salah tempat, tapi dia salah waktu. Enggak mempertimbangkan situasi dan kondisi saat ini.
"Maaf Nda, aku enggak mikirin perasaan kamu. Harusnya aku enggak lancang bilang ngajak kamu balikan sekarang,"
Beni melepas genggaman tangannya pada jari jemari Wanda. Eleh wes kasep! (Hilih udah telat!). Udah dari tadi juga kok baru dilepasin itu tangan. Kenapa Ben? Kecewa ya realita enggak sesuai ekspektasi hahaha.
"Ben... maafin aku ya, aku kok merasa udah jahatin kamu ini.." Wanda merasa enggak enak hati.
"Enggak apa-apa Nda, tenangno pikirmu! Aku woles."
Beni mulai berpikir apa Wanda juga termasuk salah satu orang buta yang enggak bisa lihat pesonanya? Dia pernah bilang kepada Parto bahwa enggak ada cewek yang bisa nolak pesonanya kecuali orang buta. Ya salam kok kejam gini ya. Atau lebih parahnya Wanda termasuk P3. Omegot no!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Senyum penuh uhhuk Wanda.