Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Wanda


__ADS_3

Wanda.. gadis yang dulu pernah bertahta di hati Beni jauh sebelum bertemu dengan Mela. Dia adalah gadis yang membuat Beni jatuh cinta pada pandangan pertama. Kisah cinta mereka harus berakhir karena Wanda memilih bekerja di kota. Dia enggak bisa menjalani hubungan LDR dengan Beni. Perpisahan adalah jalan satu-satunya. Dulu saat berpisah dengan Wanda, Beni tidak segalau sekarang saat di tinggal Mela. Itu karena waktu itu Beni juga belum memikirkan harus membawa hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius.


Setelah perpisahan mereka tidak ada komunikasi apapun yang berlanjut di antara keduanya. Hal itu juga yang membuat Beni mudah menggeser nama Wanda di hatinya dengan gadis lain. Di antara Beni, Parto, dan Seno.. hanya Beni yang sering bergonta-ganti pacar. Tapi, hanya Mela yang membuat dia benar-benar patah hati. Sedari awal mereka pacaran, Mela selalu bilang kepada Beni agar Beni serius menjalani hubungan dengannya dan dirinya siap menunggu jika nanti Mbak Lulu enggak mau dilangkahi.


Tapi pada kenyataannya Mela mengingkari janji yang dia buat sendiri. Dia bahkan selingkuh dengan Sujamal, yang sekarang menjadi suaminya dan memilih meninggalkan Beni dengan alasan Beni terlalu leda-lede. Hidup memang pilihan.. dan Mela memilih Sujamal dan meninggalkan Beni dengan semua janji manis yang Mela ucapkan untuk Beni.


"Wanda.." Panggil Beni setelah dia memastikan kalau yang dihadapannya adalah orang yang dia kenal.


"Lo siapa?"


Weladalah.. opo Iki, baru ke kota tiga tahun masa enggak kenal aku. Apa aku yang udah bertranformasi jadi makin aduhai sampai mantan aja lupa sama aku.


"Kamu lupa apa emang sengaja pura-pura enggak kenal sama aku?" Tanya Beni mengerutkan keningnya.


"Gue tanya lo siapa??" Bentak Wanda.


Sik.. sik ini dia beneran Wanda apa bukan ya, kok ngomongnya lo gue lo gue gitu. Kok aku jadi ragu, jangan-jangan aku salah orang.


"Nda.. Wanda, ini aku Beni. Beben, kamu inget? Aku.. ah aku benci bilang ini, aku mantanmu," Terjadi perubahan raut muka pada Wanda. Dia mendadak menangis lagi, kejer.. Beni bingung apa yang membuat Wanda jadi kayak orang kerasukan gitu.


"Ben.. Bebeen.. ini beneran kamu? Ben.. kacamataku pecah Ben.. Aku enggak bisa lihat jelas muka kamu," Ucap Wanda di tengah isak tangisnya.

__ADS_1


Rabun ya rabun Nda.. Masa sama suaraku juga kamu udah lupa, ach kamu ini.. lagi sedih masih bisa bikin orang jengkel.


"Kamu kenapa bisa terdampar di sini Nda?"


"Ben.. kamu kok manggil aku enggak kayak dulu to. Ini beneran kamu bukan Ben? Jangan bikin aku kayak orang bego lah pliss.. aku udah kacau banget hari ini.." Wanda masih terisak-isak. Beni melepas jaketnya untuk menutupi pundak Wanda yang terekspos karena baju yang kurang bahan.


"Lah kamu aja manggil aku Ben Ben wae kok, lagian panggilan itu kan waktu kita masih jadian Nda.. dan sekarang.. ah sudahlah, kamu mau aku anter pulang? aku tanya belum kamu jawab.. kamu kenapa bisa terdampar di sini?" Beni menatap wajah Wanda yang kacau karena make upnya luntur. Eye liner dan maskara hitam yang dia kenakan luntur karena terlalu lama menangis, membuat Wanda terlihat seperti Nini kunti di kehidupan nyata. Bulu mata palsunya juga lepas dan malah berpindah ke pipi. Wanda benar-benar terlihat kacau.


Beni mengambil bulu mata di pipi Wanda. Wanda hanya terdiam. Wanda tahu saat ini dirinya pasti sudah mirip badut. Dia enggak peduli dengan pikiran orang, hatinya hancur karena penghianatan yang dilakukan pacarnya.


Beni masuk kembali ke mini market, membeli tisu dan air mineral untuk Wanda. Membeli coklat juga, karena yang dia tahu coklat bisa membuat mood seseorang membaik.


"Minum dulu Nda.." Kata Beni membukakan tutup botol air mineral untuk Wanda. Wanda mengambil air mineral itu dan menuruti perkataan Beni.


"Beben.. anterin aku pulang ya, kepalaku pusing. Aku enggak bisa pulang dewe.. aku di tinggal di sini sama dedengkot tak tahu diri tadi.." Wanda mengusapkan tisu itu ke matanya. Dia kembali menangis mengingat kejadian tadi, saat dia memergoki pacarnya selingkuh tapi malah dia yang tercampakan di sini. Wanda merasa dirinya sangat bodoh karena mempercayai semua ucapan lelaki durjanah itu.


Beni berdiri, dia mengulurkan tangannya untuk membantu Wanda berdiri juga.


"Aku antar kamu pulang.. jangan nangis terus. Ini kalau orang lain lihat dan mereka enggak tahu kejadiannya kayak apa, pasti mengira aku yang udah bikin kamu semprawut kayak gini."


Wanda hanya diam. Dia berdiri namun masih menggenggam tangan Beni. Berjalan menuju tempat parkir, dimana Beni meletakkan sepeda motornya. Beni sudah hafal dimana letak rumah Wanda, karena sebelum mereka memutuskan hubungan cinta-cintaan mereka, Beni sering berkunjung kesana.

__ADS_1


"Nda.. kamu ngantuk?" Tanya Beni di tengah perjalanan.


"Diem Ben.. aku enggak mau ngomong dulu," Jawab Wanda yang sekarang memposisikan kepalanya di punggung Beni. Dia bersandar di sana. Memeluk erat badannya sendiri yang sudah tertutup oleh jaket Beni. Kalau bahasaku sih sedekep, enggak tahu di kelian nyebutnya apa.


"Nda.. Kamu pegangan aku aja, jangan kayak gitu. Kamu bisa jatuh," Ucap Beni lagi.


"Kamu nanti enggak fokus nyetang kalau aku pegangan kamu.."


"Pegangan Nda..!" Beni berucap sambil menambah kecepatan laju motornya. Secara otomatis Wanda langsung memeluk Beni dari belakang. Tangannya melingkar di perut Beni. Beni bukannya ingin mengambil kesempatan tapi, dia berfikir ini sudah hampir larut malam. Kalau dia terus bersantai melajukan motornya pelan di jalanan akan membuat Wanda sampai di rumah kelewat tengah malam.


Sesampainya di rumah Wanda, Beni masih duduk di atas motornya. Wanda turun dari sana dan berjalan membuka pagar kecil yang terbuat dari bambu di depan rumahnya.


"Masuk Ben.." Ajak Wanda.


Jam 23.10 ngajak aku masuk ke rumahnya.. Belum lima menit duduk di dalam rumahnya pasti bakal di gropyok (di keroyok) warga sini.


"Kamu mau besok kita dinikahkan kalau aku ikut masuk kedalam?" Beni menjawab dengan tersenyum.


"Kamu jaga diri, istirahat, jangan mikir macem-macem, kalau kamu butuh aku.. nomerku masih yang dulu. Aku pulang ya, kamu masuk gih, angin malem enggak baik buat cewek." Beni menstarter motornya, dia bukannya enggak mau berlama-lama di rumah Wanda. Tapi, yang namanya di desa merdayoh (bertamu) kelewat dari jam 21.00 pasti akan menimbulkan ghibahan bagi si empunya rumah. Apalagi yang bertamu adalah laki-laki.


"Beben.. makasih banget, hati-hati ya. Aku enggak bisa hubungi kamu.. hp aku rusak. Tadi aku banting di depan mini market,"

__ADS_1


Walah Nda.. kamu marah ya marah aja tapi masa nyampe banting hp. Ini kalau kamu jadi istriku.. sehari marah sepuluh kali, bisa ambis isi rumah kamu hancurin Nda.


__ADS_2