
"Jadi kamu bela mereka Shel?"
Jamal merasa sejak tadi enggak ada sedikitpun simpati Shela untuk dirinya yang notabene adalah saudaranya sendiri.
"Iya. Aku enggak mau dukung orang yang belok kayak kamu!"
"Jadi jelas kan sekarang? Beni enggak ada sangkut pautnya tentang anak yang Mela lahirin! Hal itu hanya pikiran ngawur mu aja, Ben, To, kita ke pulang!" Imbuh Shela berdiri dari duduknya.
Mereka bertiga beranjak dari duduknya, Jamal enggak terima. Rasa sakit hatinya sangat terasa, dengan kalap Jamal mengambil hiasan dinding di rumahnya yang berbentuk seperti keris. Di dekatinya Beni, saat jarak di rasa cukup.. keris itu di hunuskan ke pinggang kanan Beni. Dua kali Jamal melesakan keris itu ke bagian yang sama.
Beni terjatuh, Shela dan Parto kaget. Jamal mencabut kembali keris yang dia tancapkan di pinggang Beni. Ngilu, sakit, perih, jadi satu. Itu yang Beni rasakan. Tapi, dia masih bisa melihat Parto menghajar Jamal habis-habisan. Tentu saja Parto enggak terima tindakan kriminal yang Jamal lakukan. Sakit hati Jamal membutakannya. Dia enggak terima istrinya masih mengingat kenangan tentang mantannya.
"To! Udah To, kamu mau bunuh Jamal? Kita bawa Beni ke puskesmas dekat sini, cepet!!"
Beni meringkuk, saat Parto dan Shela mendekatinya, dia masih bisa melihat Jamal mengangkat vas lumayan besar di pojokan rumahnya dan siap dia lemparkan ke arah Parto. Pupil mata Beni membesar, Jamal sudah kehilangan kewarasan di dalam dirinya.
"To, awas.." suara Beni lemah. Parto belum sempat menoleh ke arah belakang tapi vas sudah terlanjur Jamal lemparkan tanpa bisa Parto mengelak.
Terdengar Shela berteriak melihat Parto diterjang benda keramik sebesar itu, ambruk seketika.
"To.. To.. ya Allah.. astaghfirullahalazim,!" Shela bingung. Dia harus apa? Dia bisa melihat belakang kepala Parto merembes darah segar. Tak jauh beda dengan Parto, Beni pun terlihat enggak baik-baik saja. Dengan sisa kesadaran yang masih tertinggal, Beni berucap kepada Shela..
__ADS_1
"Kabari Seno La.." Setelah mengucapkan kata itu kesadaran Beni berangsur menghilang.
"Iya.. iya.. Ben, kamu tahan bentar Ben, Ben.. Ben! Beni!!" Shela meneriakan nama Beni saat dia lihat Beni memejamkan matanya.
Shela berlari keluar rumah Jamal. Berteriak meminta tolong pada tetangga dekat rumah Jamal. Mendengar keributan yang ada, beberapa warga langsung menuju lokasi pertumpahan darah terjadi.
Banyak yang bertanya ini dan itu, apalagi kaum emak-emak, mereka malah sempat-sempatnya memvideokan apa yang terjadi. Sambil berkata, 'hai gaess.. aduuh lihat deh di sini lagi ada perampokan! Korban berjatuhan, kita doain semoga korban selamat ya gaess! Oiya yang belum subscribe jangan lupa buat subscribe ya gaess, karena subscribe itu gratisss!!! bye gaess.. kita pantau terus ya kelanjutan nasib para korban!'
Tanpa mau memperdulikan emak-emak minus akhlak itu, Shela mengikuti beberapa bapak-bapak yang membopong Parto dan Beni yang kedua sama-sama tak sadarkan diri. Dengan menggunakan mobil, para bapak itu mengantarkan Parto dan Beni ke puskesmas terdekat. Karena rumah sakit sangat jauh, membutuhkan waktu dua jam untuk sampai ke sana. Yang penting kedua pemuda itu mendapat pertolongan dan penanganan tenaga medis terlebih dahulu. Dan semoga enggak terjadi sesuatu yang enggak diinginkan.
Lalu Jamal mana? Setelah melempar vas besar tadi, Jamal menghilang. Entah ngumpet di mana itu manusia satu.
Penjelasan sederhana yang terjadi pada korban yang terkena tusukan yaitu kehilangan banyak darah. Apalagi Tadi, keris yang Jamal tancapkan melukai dua kali, sudah cukup untuk memberi efek menyakitkan pada diri Beni. Dan dengan asal Jamal mencabut benda tadi, mengakibatkan pendarahan cukup hebat. Terlihat baju dan jaket Beni dibasahi dengan darahnya.
Saat ini mungkin sistem peredaran darah Beni mengalami kesulitan untuk bekerja dengan baik. Hal itu mengakibatkan kurangnya asupan oksigen ke organ penting seperti jantung dan otak. Ketika tubuh kehilangan seperlima atau lebih darah, maka akan terjadi kondisi yang disebut syok hipovolemik. Keadaan ini menyebabkan sejumlah gejala lain seperti darah akan berhenti beredar ke kulit dan kulit terlihat memucat. Dan.. Jantung yang bekerja lebih cepat dengan upaya menarik darah serta oksigen ketika otak terus-menerus kekurangan oksigen, akan mengakibatkan seseorang pusing, bingung, bahkan kehilangan kesadaran seperti yang Beni alami saat ini.
Kenapa gaess? Kagum ma penjelasan si othor iyut ini,, udah enggak usah speechless. Lanjut ke cerita aja, enggak usah kagum nyampe segitunya ma othor ini. Hahaha.
Sampai di puskesmas, Beni dan Parto langsung mendapat pertolongan oleh para tenaga medis di sana.
Shela gemetar. Dia ketakutan setengah mati. Dia enggak nyangka Jamal bisa berbuat seperti tadi. Dengan tangan yang masih gemetar dia menghubungi Seno dengan menggunakan ponsel Beni. Untunglah Beni enggak pakai kode atau password macem-macem untuk membuka layar hpnya, sehingga Shela bisa dengan mudah mencari kontak Seno di sana.
__ADS_1
Tidak menunggu waktu lama, telepon diangkat. Mungkin Seno memang lagi mantengin hpnya, bisa pas banget langsung diterima gitu panggilannya.
Seno: Iya, gimana Ben? Aku ke sana? Butuh bantuan apa?
Shela: (Sambil terisak, dan terbata-bata) Sen.. dateng ke puskesmas di deket desa Jamal sekarang,, Beni sama Parto dirawat di sini,
Seno membelalakan matanya. Ingin bertanya lebih lanjut tapi dia tahu ini bukan waktunya berbincang-bincang. Setelah mengiyakan perintah Shela, Seno langsung melesat ke arah yang Shela maksud. Karena panik, Seno juga enggak sempat ngabarin Indah terlebih dahulu. Dalam benak Seno saat ini yang terpenting adalah melihat kondisi kedua temannya.
Di puskesmas, Shela terus berdoa untuk keselamatan kedua pemuda yang sekarang masih di tangani mbak-mbak perawat dan juga dokter di sana.
Rasanya dia enggak habis pikir, Jamal yang dia kenal selalu keep kalem bisa berubah jadi brutal seperti tadi. Shela mengeluarkan ponselnya kembali, mengirimkan pesan ibunya agar tidak cemas. Dia mengatakan sedang menjenguk temannya yang sakit saat ini, dia tidak berani menelepon ibunya. Dia takut suaranya yang bergetar membuat ibunya khawatir.
Setelah setengah jam mendapat perawatan, Parto bisa sadar dari pingsannya. Tapi, Beni masih belum sadarkan diri.. banyak darah yang keluar dari tubuhnya.. untung golongan darah Beni adalah golongan darah merakyat O+ jadi pasokan darah untuk Beni di sana cukup banyak tersedia. Enggak mengharuskan keliling rumah sakit untuk mencari pertolongan buat dia.
Shela berada di samping Parto, saat pertama kali Parto membuka mata, dia bisa melihat wajah cemas Shela.
"La..." Panggil Parto membuat Shela menoleh ke arah suara itu berasal, wajah Parto masih pucat. Dengan perban melilit di kepalanya, luka itu kembali terasa, Parto menggeser posisi kepalanya tapi terasa sangat sakit dan pusing.
"Jangan banyak gerak To, Alhamdulillah kamu enggak sampai gegar otak! Aku takut kamu cedera otak atau apapun itu namanya, aku-"
Shela menghentikan ucapannya, Parto meraih tangan Shela dan mengulas sedikit senyum di wajahnya. Seperti mengatakan 'aku ora opo-opo'.
__ADS_1