
Sore itu, Shela selesai membeli keperluan untuk pesanan catering. Banyaknya barang yang dia bawa membuat dia sedikit kerepotan tapi, bukan Shela namanya kalau hal seperti itu aja enggak bisa dia atasi. Dengan menyusun barang dengan berbagai gaya di atas motornya, akhirnya dia bisa membawa pulang semua barang belanjaannya.
Saat ingin menghidupkan motornya, dia melihat seseorang yang tak asing buatnya. Hanya diam memandang gerak-gerik lelaki yang sekarang terlihat tertawa tralala trilili dengan seorang wanita di depannya.
Ganjen. Minta disantet!
Ya itulah pikiran yang berseliweran di benak Shela. Apalagi saat melihat perempuan yang diajak ngobrol itu mulai mengeluarkan hp, sepertinya dia ingin bertukar nomer dengan lawan bicaranya. Yang tak lain adalah Parto. Lelaki yang masih berstatus pacarnya itu tetap terlihat asyik di tengah hiruk pikuk orang-orang yang berseliweran di parkiran.
Tidak ingin berlama-lama di sana, Shela memutuskan untuk pergi. Dia masa bodoh dengan apa yang baru saja dilihatnya. Meski begitu, tetap saja pikiran buruk menyelimuti benak Shela. Dengan logika yang masih berjalan, dia juga berpikir tidak mungkin pacarnya itu punya niatan selingkuh darinya dengan memilih area parkiran pasar sebagai sarana pacarnya itu menjalin kedekatan.
Meski sifatnya agak konyol tapi, Shela tahu Parto bukan jenis laki-laki garangan.
Lelah.. Shela sampai rumah juga akhirnya. Setelah meletakan semua barang ke dapur, Shela duduk di teras. Memainkan ponsel dan menekan nomer Parto. Sebuah pesan terkirim.
Shela: Dimana?
Satu kata itu sudah dibaca oleh Parto, dengan tanda read yang terpampang nyata.
Parto: Di hatimu. Kangen ya?
Iya kangen pengen nyekik kamu. Dalam hati itulah jawaban Shela.
Memilih enggak membalas pesan dari Parto. Shela masuk ke dalam rumah lagi, membantu ibunya menyusun kardus yang akan digunakan untuk bungkus catering besok.
"Kenapa nduk?" Tanya ibu yang seperti tahu kegelisahan anak gadisnya.
Tersenyum sambil menggelengkan kepala pelan. Shela memberi kode kalau dia enggak apa-apa.
"Enggak apa-apa buk,"
"Kamu udah mandi nduk? Mandi dulu, abis itu makan. Jangan ditunda sampai lapar." Perintah ibu.
Tak mau membantah ibunya, Shela langsung bergegas melakukan apa yang ibunya katakan barusan.
__ADS_1
Di tempat lain, Parto masih menunggu balasan pesan dari Shela. Sepuluh menit tak ada respon. Parto memilih nyamperin bidadari hatinya itu ke rumahnya.
Hanya butuh waktu kurang dari satu jam, dengan mengendarai motor matic adiknya Parto sampai di rumah Shela. Lho kok pakai motor Indah lha si ayam kemana? Ayam sedang tidak baik-baik saja. Perlu perawatan khusus. Jadi, sementara ayam diistirahatin dulu di bengkel.
"Assalamualaikum.." Parto mengetuk pintu rumah Shela.
"Waalaikumsalam," Ibu membukakan pintu. Senyum langsung menghiasi wajah ayu ibunda Shela saat melihat Parto bertamu.
Mereka berbincang di ruang tamu, Parto lebih suka duduk lesehan dan membantu ibunda Shela menyetaples (tahu kan? staplesin kerdus gitu lho!) kardus.
"Sebentar ya mas, kok ini Shela dari tadi belum keluar kamar."
"Nggeh buk."
Saat ibu akan berdiri dari duduknya, Shela lebih dulu keluar kamar. Masih menggunakan mukena. Menandakan dia baru saja selesai sholat.
Senyum tipis Shela tujukan untuk Parto yang melongo melihat penampilan Shela. Cantik. Satu kata itu mewakili semuanya.
"Tadi aku denger ibu bicara sama orang, kirain siapa gitu buk, ya aku lihat dulu ke sini. Tahunya dia.. bosen." Shela berlalu pergi, menuju kamarnya lagi.
Udah biasa dengan gaya bicara Shela yang jutek, cuek, dan terkesan tidak ramah itu, Parto hanya tersenyum melihat pacarnya masuk kembali ke kamar.
Ibu ke dapur untuk membuat bolu gulung, saat itu Parto memilih duduk di kursi. Rasanya capek sekali dia, bengkelnya seakan jadi primadona di desanya. Membuat dirinya menjadi sangat sibuk. Dengan tangan kiri yang menopang kepalanya, dia lantas memejamkan mata.
Kembali ke ruang tamu, Shela hanya melihat Parto di sana. Duduk di samping lelaki itu, tahu ada yang datang, Parto langsung membuka matanya.
"Kenapa ke sini?" Tanya Shela menuangkan teh hangat ke dalam cangkir,dan diminum sendiri.
"Kangen La, maaf ya akhir-akhir ini aku jarang nemuin kamu." Parto mengubah posisi duduknya, terlihat dia memang kelelahan dengan lingkar mata agak menghitam.
__ADS_1
"Tadi aku lihat kamu di pasar. Sama siapa tadi?" Enggak mau basa-basi, Shela menatap tajam ke arah Parto. Berniat ingin mengorek informasi dari pacarnya itu.
Tersenyum. Akhirnya Parto tahu, ada yang mengusik hati Shela. Dan sekarang dia menemukan jawabannya. Shela cemburu.
"Kamu lihat aku waktu dimana? Kalau di pinggir jalan aku lagi beli buah, artinya aku lagi sama penjual buah. Itu buahnya ada di atas meja, kalau kamu lihatnya di parkiran, itu waktu aku bantuin keluarin motor mbak-mbak yang kesulitan keluarin motornya sendiri karena posisi parkiran yang semprawut. Aku ke sana, maksudku.. aku ke pasar karena ada temenku yang motornya enggak bisa dinyalain tadi. Dia telepon aku, suruh benerin.. tahunya cuma harus ganti busi aja. Kalau enggak percaya, itu kunci busi sama obengnya masih di jok. Mau aku ambilin?"
Penjelasan panjang lebar Parto sepertinya kurang meyakinkan Shela. Shela masih diem.
"Sebelum ke pasar, aku emang mau ke sini La. Mau nemuin kamu. Enggak ketemu kamu hampir seminggu bikin aku ngap, idupku kayak kurang oksigen." Imbuh Parto.
"Alah alesan. Ya kalau kamu mau ke sini ngapain juga ke pasar dulu, mau tebar pesona di sana?" Nyolot dia pemirsa.
"Kan tadi aku udah bilang La.. temenku butuh bantuan, aku pikir bantu temen dulu baru ke sini."
"La.. mau makan bakso? Kita keluar bentar yuk!" Seperti ingin mengubah mood Shela, Parto mengajak Shela makan di luar.
"Enggak. Aku udah makan. Makan mulu bikin gendut!" Masih aja jutek.
"Meski kamu gendut tapi kamu tetep muat di hatiku kok La," Dia belajar ngegombal dari mana cuba?
"Jadi kamu ngeledek aku? Kamu bilang aku gendut?? Pulang sana!!" Emosi lagi.
"Enggak mau lah. Coba kamu pikir.. jarak dari sini ke rumahku kalau aku ngebut paling cepat satu setengah jam baru sampai kan? Kamu enggak khawatir kalau aku kenapa-napa di jalan? Karena kamu usir sebelum menuntaskan rasa rinduku ke kamu?" Mulai gaje ini orang.
"Enggak. Aku enggak mau mikir, maunya dipikirin aja!" Shela kembali menyeruput teh di cangkirnya.
"Lha ini kan aku mikirin kamu, sini peluk sini... dari tadi kok uring-uringan mulu," Parto menarik tangan Shela berniat menghantarkan Shela ke pelukannya. Tapi, yang terjadi.. teh yang Shela masih dia pegang malah tumpah ke celana Parto. Tepat di area terlarangnya.
"Eh.. maaf To, maaf.." Shela cekatan mengambil tisu di meja dan mengelap area itu tanpa sadar ada apa di balik sesuatu yang dia lap dengan maksud mengeringkan celana Parto dari teh hangat yang dia tumpahkan tadi.
Tangan Parto langsung menangkap tangan Shela,
"Di maafin.. tapi, udah jangan digosok-gosok gitu La. Aku enggak apa-apa, tapi yang di sana jadi kenapa-napa.."
__ADS_1
Shela melihat ke arah tumpahan teh tadi, dia baru sadar... dia melakukan kesalahan yang membuat dirinya malu semalu-malunya.