
Sedangkan di rumah Indah, beberapa kali gadis itu memperhatikan ponselnya. Berharap akan ada panggilan atau sekedar pesan dari Seno tapi, setelah pertemuan mereka di lapangan tadi pagi Seno tidak menunjukan tanda-tanda akan menghubunginya.
Sedih? Udah pasti.. Indah bukan wonder woman yang berhati baja, yang kuat menahan gempuran perasaan seperti itu. Sesekali dia menghapus air matanya, melihat kembali foto-fotonya bersama Seno di galeri ponsel. Aah.. Cinta penderitaannya tiada akhir! Entah manusia durjana mana yang tega memisahkan kisah pasangan bucin itu, othor juga tak tahu!
Emak memperhatikan kamar Indah yang sedari tadi ditutup, biasanya Indah paling rajin ke dapur kalau sedang libur bekerja seperti ini. Tapi, ini dari pagi setelah pamit mau keluar putrinya itu anteng aja di kamar!
"Ndah.. Indah.. Kowe ra mangan kit esok opo ra ngelehen?" (Ndah.. Indah.. kamu enggak makan dari pagi apa enggak kelaparan?) Tegur emak dari luar kamar Indah.
"Sampun mak" (Udah mak) Jawab Indah tanpa membuka pintu.
Emak khawatir, naluri seorang ibu sangat kuat saat anak-anaknya sedang dalam mode tidak baik-baik saja tapi mencoba tetep rapopo! (enggak apa-apa). Beliau menghampiri bapak yang sedang menonton tv.
"Pak.. kui anakmu lho kit esok ora mangan.. keneng opo yo pak?" (Pak.. itu anakmu lho dari pagi enggak makan.. kenapa ya pak?).
Bapak tidak menjawab. Beliau asyik menonton program televisi yang menayangkan para kontestan berlomba adu bakat nyanyi di sana, sampai-sampai beliau enggak ngeh kalau diajak ngobrol istrinya. Emak yang gemes karena terkacangi oleh bapak langsung mencabut colokan televisi, membuat bapak kebingungan karena acara yang beliau tonton tiba-tiba menghilang dari pandangan.
"Apa to mak? Itu si Minul baru mau nyanyi lho kok malah dimatiin tipinya?" Bapak protes.
"Ora urus Minul, Menul atau siapapun itu pak! Anakmu enggak keluar kamar dari tadi pagi kok ya bapak ini bisa nyantai aja!" Emak bersungut-sungut.
__ADS_1
"Pengantin baru kan emang tinggalnya di kamar mak, ngono kok heran to.. Kayak ndak pernah ngalamin aja.." Entah apa yang bapak pikirkan.
"Pak anakmu itu ndak cuma Parto, lagian Parto juga ndak ada di sini! Bapak tadi minum kopi campurannya gula apa micin to, kok jadi njengkelke gini?!"
"Kopi kan yang bikin emak, bukan gula atau micin.. bapak yakin di kopi itu emak campurin cinta, ya kan mak?" Bapak berdiri berjalan menuju kamar Indah.
"Untung yang emak campur masih cinta, bukan upil atau benda lainnya!" Emak mengikuti bapak dari belakang.
Bapak mengetuk pintu kamar anak gadisnya, dari dalam tidak ada jawaban. Bapak mencoba membuka pintu itu, enggak terkunci.. ternyata si empunya kamar sedang berdoa setelah selesai sholat.
Isak tangis itu terdengar lirih, membuat siapapun yang mendengarnya akan merasa iba. Menengadahkan tangan, memohon kepada Sang Pencipta untuk mengabulkan doanya.
"Ndah.." Panggil emak. Indah kaget, dia langsung menyeka air matanya, melihat ke arah pintu kamar yang ternyata ada kedua orang tuanya di sana.
"Dalem.."
"Ada apa mak, bapak juga tumben ke sini.." Indah mencoba tersenyum. Tapi, nampak jelas jika dia sedang bersedih.
"Kamu kenapa?" Tanya emak mendekati Indah. Bapak duduk di tempat tidur putrinya.
__ADS_1
"Ndak apa-apa mak.. emang kenapa?" Sambil melipat mukenanya yang baru saja dia pakai.
"Ndah kalau ada masalah itu cerita, emak sama bapak ndak punya keahlian baca pikiran orang, jadi ndak tahu kamu ini sebenarnya kenapa. Jangan bilang ndak apa-apa tapi nyimpen sakit hati sendiri gitu, nangis kok berjam-jam.. lihat matamu itu udah kayak gayung di kamar mandi!" Emak mulai membujuk Indah supaya mau bercerita tentang masalahnya.
"Mak nyamain mata Indah kok sama gayung, lha kalau gitu emak gentongnya dong," Bapak nyengir. Tapi, langsung hilang cengiran itu dari wajah bapak setelah emak melotot ke arah beliau.
"Cuma kangen mas To aja mak.." Indah beralasan.
"Lah.. mas mu kan kemarin baru dari sini, kenapa dikangenin nyampe nangis-nangis gitu? Mas mu kan udah punya istri Ndah, sekarang buat dia yang terpenting ya menjaga rumah tangganya, biar tetep harmonis, tetep saling sayang.. Kamu juga nanti pasti kayak gitu kalau udah nikah, tinggal emak sama bapakmu aja di rumah sendirian." Perkataan emak malah membuat Indah kembali meneteskan air mata.
Mau nikah sama siapa mak, aku aja baru putus.. diputusin gara-gara ibu mas Seno enggak mau punya mantu aku!
Bapak mendekati Indah.
"Kamu tahu nduk.. Saat Seno bilang ingin serius sama kamu, setelah acara kakakmu selesai dia bilang ingin melamar kamu, bapak merasa belum rela ditinggal kamu, bapak ndak ngasih jawaban apa-apa saat itu. Kamu penerang di rumah ini, ceriamu bikin bapak ikut seneng. Lha kalau kamu malah sedih kayak gini, rumah ya jadi sunyi nduk.. Parto udah tinggal sama istrinya, kalau kamu nanti nikah dan hidup bareng suamimu.. Rasanya belum rela ditinggalin kelian.." Ucap bapak mengusap rambut putrinya.
Aku enggak akan pergi kemana-mana pak.. aku enggak akan kemana-mana..
Indah menangis karena ucapan bapaknya. Emak memilih keluar kamar Indah karena air matanya juga hampir menetes. Saat di luar kamar, emak di kagetkan oleh munculnya seseorang yang entah kapan datangnya.
__ADS_1