
Acara sambutan dari pakdhe Shela yang merupakan kakak dari ibundanya mengawali acaranya itu. Semua orang yang di dalam ruangan terlihat senang dengan penyatuan dua keluarga ini.
"Mas To, mbak Shela sama aku cantik aku kan ya?" Tanya Indah mengambil foto Shela secara diam-diam.
"Raup sana! Biasanya orang tuh bakal mimpi kalau lagi tidur, lha kamu enggak tidur aja bisa ngigo. Luar binazaah!" Tutur Parto yang mencuri pandang pada calonnya.
"Kamu aja yang binasa! wong edan!" (orang gila!). Indah makin sewot. Ini orang belum jadi adik iparnya nini kunti tapi udah kecipratan judesnya.
Dan apakah Beni dan Seno diajak dalam acara ini? Tentu saja.. Tanpa mereka kisah Parto tak akan sempurna. Sempurna semprawutnya maksudnya. Hahaha.
Mereka ada di luar rumah Shela, nyemil kuaci sambil meratapi nasib mereka masing-masing.
"Dulu yang paling ngenes kayaknya Parto deh Sen, udah kerja serabutan, kadang cuma ngarit (cari rumput), pacar juga enggak punya. Sering utang kopi di warung mbok Yuni, kalau dibikin list hidup dia sungguh banyak minusnya. Lha kok sekarang dia yang duluan bahagia, punya rumah sendiri, punya bengkel yang larisnya aselole, dapet pacar cantik, meski galaknya kayak lampir mau lahiran! Yang lebih edan, ini kita dempes (nepi) di pojokan buat hadiri lamaran dia lho. Kamu sedih enggak Sen?"
Beni protes mulu. Protes ke siapa kamu hah?
"Aku sih seneng Ben, malah bahagia banget. Kamu ini, temennya menghappy kok malah ngomong gitu, iri ya?" Seno nyengir kuda.
"Udah ketebak alasanmu bahagia Sen, lha ini kalau Parto udah nikah kan jalanmu buat nyusul dia ke pelaminan makin terbuka lebar. Kok cuma aku yang ngenes di sini, aku mau protes lah pokoknya!" Beni mengambil rokok. Ingin udut niatnya, tapi dia urungkan.
"Ben, kemarin aku denger kabar Jamal masuk bui. Siapa yang laporin Ben?" Seno seakan ingin mengalihkan pembicaraan. Mencoba menghibur temennya yang jomblo itu.
"Mas Ardiaz yang lapor polisi, dia kan banyak kenalan orang penting. Gampang buat dia bikin Jamal masuk penjara, aku sih udah males berurusan sama si keriting, kribo tak tahu diri itu. Bukan takut, cuma aku males aja, nanti Mela baper lagi kalau aku masih ngurusin Jamal. Biarin semua berjalan apa adanya lah Sen,"
__ADS_1
"Iya bener. Dikira kamu masih ada hati sama Mela, kan gawat.. beneran jadi bapaknya Jamila kamu nanti!" Seno mengedipkan mata saat pandangannya bertemu pada sosok yang membuat dia bucin setiap saat. Siapa? Marpuah! Ya Indah lah.. pake tanya!
"Jamila sopo neh?" (siapa lagi)
"Lho lho lho kamu ini enggak update ternyata.. nama anak Mela kan diganti Ben. Bukan lagi Bela, tapi Jamila Putri Syamsudin. Udah fix itu." Seno menginformasikan kepada Beni yang fakir info itu.
"Ooowh.. ya bagus. Jadi enggak mikir kalau bayi itu anakku lagi gegara nama Bela. Kamu kok tahu banyak tentang Mela Sen, ehem.. jangan-jangan.." Beni tersenyum penuh arti. Arti mengejek lebih tepatnya.
"Mikir apa kamu? Mela kan aktif di efbi, semua hal dia postingin. Semua orang satu Indonesia aja udah pada tahu kok. Yang kuper cuma kamu Ben,"
Dan begitulah, mereka ada di acara lamaran Parto tapi, malah ngomongin orang lain.
Saat acara lamaran dengan bertukar cincin selesai, para tamu dibuat penasaran dengan datangnya mobil travel putih yang pasti bukan membawa emak-emak pengajian.
Shela yang melihat siapa yang datang, langsung mengepalkan tangannya. Jantungnya berdetak tak karuan. Ya, yang saat ini datang adalah paket dari tante Rodiyah. Siapa lagi kalau bukan bapaknya Shela. Para tamu saling berbisik, menerka dan mengira sendiri ada apa ini sebenarnya.
"Permisi bu.. ini saya hanya supir yang ditugaskan ibu Rodiyah mengantar bapak Setiawan ke mari. Saya pamit bu, pak.. maaf kan saya ya.. saya tinggalkan bapak di sini. Semoga bapak mendapatkan kesembuhan, saya pamit pak! Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh"
Semua orang saling pandang dengan kehadiran lelaki sepuh yang bernama pak Setiawan yang rupanya sangat tidak setia itu. Rasa amarah memuncak di ubun-ubun Shela. Ibu tahu, Shela pasti terpukul sekali dengan kejadian ini. Ibu pun merasakan hal yang sama. Beliau tidak mengira jika tante Rodiyah benar-benar mengantarkan mantan suaminya ke desa.
"Mas.. itu siapa mas?" Tanya Indah yang tidak bisa menutupi kekepoannya. Parto tidak menjawab, karena sebenarnya dia sendiri tidak tahu siapa yang sekarang sedang ada di teras rumah Shela itu.
__ADS_1
Parto mendekati Shela, menatap mata gadisnya yang mulai memerah menahan air mata.
"Kenapa kamu ke sini? Mau merusak kebahagiaan keponakanku hah? Manusia tak tahu malu! Belum cukup kah bertahun-tahun kamu buat hidup adik dan keponakanku menderita?"
Hal itu diucapkan oleh pakdhe Shela. Beliau begitu tak suka dengan manusia bernama Setiawan ini. Ibunda Shela yang tak ingin acara anaknya berantakan, segera mendekati kakaknya.
"Kang uwes kang," (kang adalah sebutan atau panggilan untuk kakak lelaki. Panggilan itu sudah semakin menghilang digantikan dengan 'mas')
"Ini masih rame, kasihan Shela kang. Kita omongin nanti saja." Ibunda Shela berhasil membujuk kakaknya agar tidak menciptakan keributan di acara lamaran putrinya. Yang sebenarnya para tetangga sudah berbisik-bisik dan berpikir kemana-mana.
"Ben.. itu bapaknya Shela?" Tanya Seno yang sama keponya kayak pacarnya tadi.
"Ya mana aku tahu, tanya sendiri sana!" Mereka bicara dengan memelankan suara.
Meski sekarang fokus terbelah menjadi dua, acara tetap dilanjutkan dengan menetapkan tanggal pernikahan antara Shela dan Parto. Tiba-tiba Shela menangis, meski sudah dia tahan sekuat mungkin air mata itu tidak bisa dia bendung.
Orang-orang yang ada di sana bisa merasakan bagaimana atmosfer di ruangan itu sudah berubah. Bukan lagi bahagia seperti awal acara tadi, tapi terselip rasa kasihan pada Shela dan. ibundanya. Sekarang, banyak orang yang sudah mengetahui cerita kisah keluarga Shela yang sesungguhnya, jadi kedatangan pak Setiawan yang enggak setia itu pastilah menjadi duri dalam daging.
Parto merasa kasihan pada kekasihnya itu, ingin sekali dia mendekati Shela dan membawa Shela dalam pelukannya tapi, hal itu dia tahan. Iya lah gaess masih banyak orang. Ini bukan kisah dengan setting luar negeri yang bisa peluk cium dimanapun berada asal suka sama suka. Ini di desa. Dan Parto sangat menghormati unggah ungguh (tata krama).
Melihat anaknya tertunduk dan terus terisak, ibu Shela langsung memeluk putrinya.
"Nduk.. udah, ndak apa-apa kalau kamu sedih. Menangislah, tapi setelah itu... senyum ya, ini adalah hari bahagiamu, lihat.. mas mu dan keluarganya masih di sini, jangan buat mereka ikut sedih dengan tangismu ini ya nduk," Berbisik lembut sambil mengusap punggung putrinya. Ibu memang selalu bisa membuat Shela tegar dan kuat.
__ADS_1