
"Kamu bercanda? Ojo guyon To,! (Jangan bercanda To,!)" Shela memandang Parto dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Entahlah, bagi Shela menjalin hubungan bukan sekedar antar dua hati saja.
Dia yang selalu berpatokan pada masa lalu ibunya, menjadi selalu waspada dengan sekitarnya. Kurang harmonis gimana dulu ayah dan ibunya tapi, pada akhirnya mereka harus berakhir di jurang perceraian karena orang ketiga. Faktor ekonomi juga menjadi salah satu alasan kenapa ayahnya meninggalkan mereka waktu itu. Dan Shela enggak mau mengulang kisah pilu ibunya dulu. Tidak, membayangkannya saja membuat Shela bergidik.
"Sopo sing guyon La, aku tenanan! (Siapa yang bercanda La, aku serius!)"
Shela malah tertawa mendengar perkataan Parto. Parto bingung, berpikir apakah dia salah bicara atau gimana kok tanggapan Shela seperti itu.
"To, aku.. kamu.. kenal baru berapa bulan? berapa tahun? hmm belum ada dua bulan, iya kan? Kita juga enggak sedekat itu To, mungkin ibu mikir kamu pacarku. Tapi, aku enggak bisa mikir seperti yang ibu pikirkan. Apa semudah itu kamu anggap aku calon istrimu setelah kita beberapa kali saja kita ketemu? To, kita hidup di dunia yang butuh banyak asupan kewarasan! Jangan terlalu terbawa perasaan. Kamu tahu? untuk menjalin sebuah hubungan itu harus didasari rasa suka terlebih dahulu, apa kamu tanya sama aku, aku suka kamu atau enggak?"
Mengambil jeda untuk bernapas.
"Beberapa kali kita ketemu saja belum cukup untuk kita sama-sama mengenal satu sama lain. Aku tadi bilang 'buktiin aja', untuk menjawab perkataan mu yang bilang enggak bakal ninggalin aku. To, kamu tahu? Menikah itu butuh banyak modal. Bukan hanya hatimu saja yang menjadi pertimbangan tapi, juga segi ekonomi. Aku akan sedikit membagi kisahku ke kamu sebagai bahan pertimbangan keputusanmu yang mengatakan aku calon istrimu, Ayahku dulu meninggalkan ibuku dengan alasan memenuhi kebutuhan keluarga, dia pergi ke kota To. Merantau.. tapi, kamu tahu apa yang ayahku dapat setelah dia pergi merantau? kehancuran keluargaku! Dia selingkuh, ibuku hancur, aku hancur, keluarga yang aku banggakan sebagai keluarga paling harmonis menjadi bahan lelucon oleh para tetangga dan teman-temanku."
Shela mulai mengusap air matanya.
"La.." Ucap Parto yang merasa bersalah karena ucapannya yang gegabah malah membuat Shela menangis. Mengingat masa lalu itu sungguh membuat Shela tersiksa.
"Lima tahun setelah kepergian ayahku itu, dia datang lagi To.. datang dengan anak dan istrinya. Ayah datang untuk meminta rumah yang aku dan ibu tempati. Hahaha lucu sekali ya? Bertahun-tahun hidup di kota tapi saat pulang kampung malah ngusir aku dan ibu. Aku benci ayahku! Manusia seperti dia enggak layak aku sebut ayah.."
Masih menangis Shela memandang Parto. Parto tidak tega melihat Shela sesedih itu.
"Dua minggu.. dua minggu To, aku dan ibu harus hidup satu atap dengan ayah. Dengan istri dan juga anaknya. Ibu dulu belum mengajukan gugatan cerai, di mata hukum ayah masih suami ibu. Di mata tetangga ibu adalah wanita yang sering menuntut sehingga ayah berpaling ke lain hati. Bodoh sekali mereka, bisa berpikir seperti itu! Kamu tahu kek gimana sakitnya hati ibu, setiap malam beliau nangis.. aku muak! Ayah sengaja membuat mental ibu tertekan agar ibu mengajakku pergi dari rumah. Aku sering mendapat amukan oleh ayah, sering di bentak oleh istrinya.. sering berebut mainan dengan anaknya! Dua minggu itu bagai neraka To,"
"Embah Uti (nenek) yang tidak tega dengan kondisi kami, akhirnya membujuk ayah dan juga istrinya untuk tinggal bersama dengan Mbah Uti. Mereka mau? Tentu karena menurutku ayah juga sungkan saat bertatapan mata dengan ibu. Entah merasa bersalah atau tak enak hati.. aku enggak tahu.. yang aku tahu aku dan ibu bisa bernafas lega setelah kepindahan ayah dan juga anak istrinya waktu itu. Ibu cepat-cepat mengurus surat perceraian agar kejadian serupa enggak terulang lagi."
__ADS_1
"La.. udah enggak usah diceritain kalau bikin kamu sedih La," Parto mengusap pelan pundak Shela.
"Enggak To, kamu harus tahu.. kamu harus tahu alasanku belum mau melanjutkan hubungan kita ini. Aku enggak mau kamu berpikir aku sok jual mahal atau terlalu banyak menuntut. Aku hanya enggak ingin mengulang kisah pahit ibuku.." Shela berucap sambil menunduk.
"Aku minta maaf La.. aku enggak berpikir sejauh itu, aku enggak mikirin perasaan kamu. Harusnya aku memantaskan diri dulu sebelum mengucapkan kata-kata sakral itu.. aku yang salah di sini."
"To.. aku bukan gila materi, kita hidup di desa. Makan nasi pake garem juga aku bisa, udah biasa.. tapi, tuntutan kebutuhan yang lain kedepannya pasti enggak cukup dengan modal hati dan rasa cinta kan To?" kali ini Shela berucap sangat lembut. Tidak ada urat amarah yang jadi toping pembicaraan mereka.
"Iya La iya.."
"Kita temenan aja dulu.. asal kamu tahu To, kamu satu-satunya temen yang aku punya saat ini! Aku enggak pernah cerita seperti ini kepada siapapun, aku bisa terbuka sama kamu.. entahlah padahal dulu aku berpikir kamu orang yang enggak baik lho To tapi, sekarang malah aku ceritain masa laluku sama orang yang dulu aku cap sebagai orang enggak baik ini."
"Mukaku preman tapi hatiku beriman La, aku bukan orang yang apapun itu, yang dulu kamu pikirkan!"
"La.. makasih udah percaya sama aku, aku akan memantaskan diri untuk bisa ngambil hati kamu."
"Iya, kerja yang bener, nabung yang banyak! Sukses dulu baru ngajak aku nikah!"
Keduanya tertawa mendengar ucapan Shela.
Ya Allah ridhoi jalanku untuk bisa membuat gadis di hadapanku ini selalu tersenyum, tertawa, dan bahagia karena aku.
"To.. ngomong-ngomong kamu kenal siapa cewek gila tadi?" tanya Shela yang sekarang moodnya sudah membaik.
"Enggak, tapi tunggu.. dia tadi bilang namanya Meisaroh La!"
__ADS_1
"To.. aku tahu kamu sedikit enggak waras, tapi sekarang aku juga makin tahu.. kamu punya kelemahan di pendengaran! Namanya Medusa To!"
Parto tersenyum, sedikit tertawa mendengar guyonan Shela. Ternyata Shela cewek yang suka humor juga.
"Wedusa La? kambing dong?!" kembali mereka tertawa hanya dengan membahas nama Meisya.
Detik berikutnya, Parto baru menyadari.. Meisya, nama itu terdengar enggak asing. Ya, karena baru semalam dia, Seno dan juga Beni menjadikan nama Meisya sebagai trending bahan ghibahan.
"To.. aku pulang ya, aku enggak mau bikin ibu khawatir." Ucap Shela sambil menaiki motornya.
"Mau aku anter?"
"Enggak.. lha emang kamu enggak kerja?"
Mendengar pertanyaan Shela membuat Parto tersadar, hari ini dia harus segera ke rumah pak Agus untuk nyupiri mobil travel milik beliau.
"Astaghfirullah.. Ya Allah La,!"
"Hmm nengopo? (hmm kenapa)"
"Aku dikongkon esuk-esuk nyang omahe pak Agus, meh nyupiri travele.. heleeh iki yo kawanen aku! (Aku disuruh pagi-pagi ke rumahnya pak Agus, mau nyupiri mobil travelnya.. heleeh ini ya kesiangan aku!)"
"Mulo duwe mpripat kui dinggoni kocomoto jaran ae, delok wedokan ngesot nyang pinggir dalan kok girap! (makanya punya mata itu dipakein kacamata kuda aja, lihat cewek ngesot di pinggir jalan kok kesenangen!)"
Keduanya tertawa. Sepertinya hubungan mereka kedepannya akan baik-baik saja tapi, ya mbuh! (ya entahlah).
__ADS_1