
"Parto mana Ben?"
Tanya Seno sambil menghentikan motornya tepat di samping Beni.
"Tadi kata Indah aku di suruh ke sini ngasih Parto GpU, kok malah kamu yang jadi kuncen di sini." Ucap Seno lagi.
"GpU? kamu mau urut siapa bawa minyak gituan kesini, Parto udah jalan barusan.. mau ke tempat Pak Agus katanya." Jawab Beni sambil mengeluarkan sebatang rokok dari saku jaketnya.
"Kata Indah aku di suruh kesini, bawa minyak urut ini lho, bentar deh aku cek lagi wa nya.."
Seno mengambil hp yang ada di kantung celananya. Di cek beberapa saat dan dia terdiam. Terdiam akan ke dudulannya.
"Di suruh ngurut jalan desa kali kamu Sen hahaha, adek kakak itu kalau ngerjain orang kok kompak banget. Tadi aku di wa Parto, di suruh kesini buat bantuin dia idupin ayam-ayamannya yang katanya mogok, tapi baru aku starter sekali tu motor nyala."
"Ternyata aku yang salah lihat Ben, Indah nulis GPL aku bacanya GpU.." Beni tertawa mendengar penjelasan Seno.
"Rabun ya rabun tapi kira-kira lah Sen, eh bentar.. kamu dari tadi nyebut Indah Indah mulu. Kamu mau deketin dia, kamu suka sama bocil itu?"
"Kan dulu aku pernah bilang Ben, jombloku karena pilihan. Memilih jomblo untuk menjaga hati Indah, udah lama aku suka sama dia.. tapi aku diem aja, dulu dia masih sekolah. Aku enggak mau ganggu sekolahnya dengan ngasih beban rasaku ke dia, tapi kan sekarang dia udah lulus. Mending aku gasspol sekarang daripada di duluin orang, Indah itu istimewa buatku Ben."
Beni melongo mendengar penuturan Seno.
"Parto tahu kamu suka sama Indah?"
"Tahu.."
"Respon dia gimana?"
Seno diam sesaat, mengisi paru-parunya dengan oksigen yang sudah ternoda oleh ulah Beni karena dari tadi sibuk nyepur.
"Dia nyuruh aku deketin cewek lain aja." Jawab Seno sambil menunduk.
"Udah ku duga, kalau aku jadi Parto juga sama kek gitu hehehe. Maaf ya Sen bukannya aku enggak dukung niat baiknya tapi, kok aku ragu kamu bakal beneran serius sama Indah. Indah tu masih muda, apa ya kalau sebutannya itu.. labil, pacaran ma orang kek gitu sama aja momong (mengasuh) balita."
"Aku juga masih muda lah Ben, kamu kira umurku berapa hah? Jangan ngeselin lah kamu, aku tu niatnya serius.. kelian ini enggak ada yang dukung malah ngendorin semangatku aja. Aku enggak apa-apa di bilang ngurus balita atau apapun yang kamu bilang tadi, malah enak kan punya cewek imut, manis, polos, aach aku bayanginnya kok bikin semangatku makin berkobar ya Ben"
__ADS_1
Beni melihat Seno yang tersenyum sendiri dengan dunia khayalannya.
"Aku kok enggak peduli umurmu berapa Sen, enggak mau tahu juga. Aku lebih penasaran sama apa yang kamu bayangin tadi.. polos, maksudnya apa itu?"
"Iya Indah kan masih lugu, istilahnya polos kan? kamu ini mikir apa lho Ben. Fantasimu tak terkendali ternyata, siang bolong kek gini bisa-bisanya mikir polos yang lain."
Beni malah tertawa mendengar ucapan Seno. Seno lalu melihat Beni, ternyata temannya itu sudah aktif lagi jadi perokok rupanya.
"Ben, tumben nyepurmu kuat banget?"
"Iya, lagi pengen aja.." Jawab Beni sekenanya.
"Kamu udut karena udah enggak ada yang ngasih jatah ke bibirmu itu ya? hahaha kapok Ben,"
Beni melotot mendengar ucapan Seno. Bisa-bisanya dia ngomong gitu.
"Kamu ini kalau ngomong.."
"Kenapa?"
Dan keduanya tertawa enggak jelas di bawah pohon talok, yang enggak tau apa itu pohon talok ya udah, bayangin aja pohon yang gampang aja, aku enggak mau kelian mikir so hard cuma karena sebuah pohon.
Setelah menyudahi obrolan mereka, Beni memutuskan untuk pulang ke rumah. Sedangkan Seno, dia melajukan motornya pergi ke mini market di luar desanya. Iya, di desa mereka belum ada mini market apalagi mall seperti di kota. Sebagian kebutuhan warga desa seperti sembako dan lainnya di cukupi oleh warung-warung kecil yang di miliki beberapa warga di sana.
Tapi, ada juga yang memilih berbelanja ke pasar atau pergi ke luar desa untuk ke mini market seperti yang Seno lakukan. Kok pelosok sekali tempat mereka? Enggak.. bukan pelosok cuma jauh dari keramaian itu saja.
Seno ingin membelikan Indah coklat dan beberapa makanan ringan lainnya. Buat Seno, Indah adalah prioritasnya sekarang. Cinta memang tidak memandang kamu siapa dan punya apa, tapi kalau datengin pujaan hati tanpa membawa apa-apa juga akan aneh rasanya. Memang seperti itulah realitanya, ungkapan kata saja belum cukup untuk menunjukkan betapa seriusnya usaha mendapatkan cinta.
Apa Seno akan nembak Indah lagi? Belum, tidak sekarang. Dia tidak mau gagal di momen yang tidak tepat untuk kedua kalinya. Cukup pendekatan aja dulu, tunjukkan perhatian, dan saat Indah membutuhkannya, Seno akan berusaha selalu ada. Seenggaknya Seno udah punya modal untuk bisa dapetin hati Indah kalau ketiga hal tersebut berjalan dengan lancar.
Sampai di mini market Seno langsung masuk kesana. Mengambil barang yang dia tuju, dan segera ke kasir untuk membayarnya.
" Totalnya seratus tujuh puluh lima ribu Mas,"
Ucap kasir itu. Seno mengeluarkan dua lembar uang seratus ribu. Setelah membayar belanjaannya, Seno menerima struk belanja dan uang kembaliannya.
__ADS_1
"Sik Sik.. Ini Mas Seno ya?"
Seno menatap kasir itu seksama. Mengingat apakah dia mengenal orang yang ada di depannya ini, memorinya ternyata tidak bisa memindai siapa orang yang ada di depannya ini.
"Iya bener Mbak," Seno menjawab singkat pertanyaan tadi, tanpa balik bertanya siapa kasir tersebut,
"Pasti Mas Seno lupa ya sama aku, kok jadi cuek banget.." Tambah si kasir itu. Sepertinya mbak-mbak ini ingin Seno mengingat dirinya. Karena tak kunjung mendapat respon dari Seno, Mbak kasir tadi kembali berucap..
"Mas Seno.. Ini aku Ralina. Dulu aku kerja bareng Mas Seno di pabrik, tapi aku resign.. dan sekarang aku kerja di sini Mas," Imbuh kasir tadi yang ternyata bernama Ralina.
Seno melihat Ralina, berharap menemukan ingatan tentang dia di otaknya. Tapi nihil, hanya Indah yang ada di sana hahaha enggak gitu juga. Memang Seno lupa atau bahkan enggak kenal dengan orang yang barusan dia tahu bernama Ralina ini.
"Aku kok lupa ya.. Maaf ya Ralina,"
"Pasti lupa lah Mas, di pabrik kan Mas Seno itu banyak yang suka. Mana mau kenal orang kayak aku gini hehehe"
Ini kenapa malah ngajak ngobrol di kasir ya, untung mini marketnya sepi. Kalau lagi rame bisa di seret keluar sama pembeli yang lain.
"Enggak juga lah Ralina, mungkin dulu belum ada kesempatan aja buat kenalan sama kamu. Kamu buru-buru resign," Jawaban asal Seno malah membuat Ralina mengembangkan senyum di wajahnya.
" Ya udah.. sekarang aja kenalannya Mas, Aku Ralina.. boleh minta nomernya enggak?" Kata Ralina sambil mengulurkan tangannya.
"Eh.."
"Kenapa Mas?"
"Enggak apa-apa Ralina, Tadi udah tau kan aku Seno.. nomer apa ini maksudnya? Nomer token?" Jawab Seno sambil menerima uluran tangan Ralina.
"Nomer wa lah Mas, Mas Seno ini lucu deh"
"Maaf Ralina, aku enggak hafal nomer wa ku.. dan sepurone aku buru-buru ini, aku duluan ya."
Ralina terlihat kecewa karena Seno seperti menghindarinya, Dia masih memperhatikan Seno meski lelaki itu sudah ada di luar mini market tempatnya bekerja. Bahkan saat Seno akan menyalakan motornya, Ralina bergegas menyusul Seno ke luar.
"Mas Seno, ini nomer wa ku, simpan ya."
__ADS_1
Ucap Ralina sambil menyerahkan selembar kertas kecil bertulis nomer telponnya.