
Beni diam sendiri dengan berbagai macam pikiran yang ada di benaknya. Bukan Wanda yang dia pikirkan tapi Mela, dari penuturan Mela waktu di rumahnya tadi subuh.. dia mengatakan sudah mengandung usia delapan bulan.. sedang pernikahan Mela dan Jamal baru lima bulan. Sudah barang tentu Mela dan Jamal melakukan proses perkembangan biakan sebelum waktunya.
Itu artinya, saat masih menyandang gelar kekasih Beni, Mela selingkuh dengan Jamal dan nyicil bikin telinga dedek bayi? Wah, Beni enggak nyangka ternyata Mela bisa setega itu sama dia.
Sedangkan saat berpacaran dengannya saja, Beni hanya diberi jatah main di zona bibir tapi, dengan Jamal, kenapa Mela bisa seberani itu main di zona yang lain?
"Mikir apa kamu Ben? Dari tadi ditanyain diem aja," Seru Seno yang udah mulai bercucuran keringat karena kelelahan seusai membantu para tukang di sana menaikan genteng di atap rumah Parto.
Beni masih memilih bungkam. Hal itu membuat Parto dan Seno berpikir kalau patah hati yang Beni alami saat ini adalah menjadi pukulan paling berat dibandingkan dengan kisah cintanya yang lain. Mereka berpikir Wanda penyebab semua kebisuan Beni. Tanpa mereka tahu ada aktris lain di balik galaunya Beni saat ini.
"Ben.. kalau kamu sesayang itu sama Wanda ya kejar dia lah Ben, pertahankan dia. Kalau tentang mbak Lulu, aku yakin mbak Lulu bisa ngertiin kamu kalau kamu harus nikah duluan dari pada dia," Kembali Seno berseloroh.
"Bukan Wanda..." Akhirnya Beni membuka suara.
Parto dan Seno berjalan mendekati Beni, yang duduk di bawah pohon rambutan.
Tadinya Beni ragu memutuskan ingin bercerita atau tetap diam dan membuat kedua temannya makin bingung menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi dengannya. Tapi, akhirnya Beni memutuskan untuk menceritakan apa yang membuat dirinya seperti orang linglung sedari pagi.
Mendengar cerita Beni, Seno melongo, Parto makin ngowoh. Mereka enggak nyangka Mela lebih suka memilih jalur instan menuju KUA.
"Ya udah sih Ben.. lagian juga udah jadi mantan kamu ini. Napa ikut mikir abot-abot (berat-berat) buat orang yang udah khianati kamu? Jangan bilang kamu juga ikut andil buat nyicil bikin hidung untuk bayinya Mela?" Parto sedari tadi gemas mendengar cerita Beni.
"Nah.. nah.. jangan bilang iya ya Ben?! Bisa abis kamu diamuk Jamal dan disuruh gantiin posisi Jamal jadi suami Mela!" Seno ikut terbawa suasana.
"Ngawur kelian! Aku juga tahu batasan, aku bukan bajing_an yang tega merusak apa yang bukan hak ku!" Beni sedikit meninggikan suaranya.
"Ya siapa tahu Ben, tuh anak Mela nanti lahir matanya mirip kamu, idungnya hasil karya Jamal, telinga kiri punyamu dan yang kanan punya Jamal, ntar bibirnya bolehlah mirip mamaknya.. bayinya kan juga berhak mewarisi gen emaknya, jujur aja.. bibir Mela itu seksi lho, hahahaha"
__ADS_1
Seno mulai asal dalam bicara. Maklum hanya ada para lelaki di sana, tanpa ada cewek-cewek yang membuat mereka terkadang lebih mengontrol ucapan mereka. Seno enggak akan berani bilang bibir Mela seksi saat ada Indah, hal itu pasti bisa menjadi pemicu jatuhnya cubitan keras di lengan Seno. Belum lagi ngambeknya Indah yang bikin Seno bisa kalang kabut saat beneran terjadi.
Parto malah tertawa menanggapi ucapan Seno, dia sampai membayangkan jika benar nanti anak Mela merupakan hasil kerjasama Beni dan Jamal dalam membuat adonan si jabang bayi yang masih ada di rahim Mela itu.
"Sen.. jangan ngomong sembarangan, aku enggak pernah sekalipun nyentuh Mela kecuali main di bibirnya. Dari dulu, aku enggak pernah melampaui batas itu. Sama siapapun, kelian ngomong gini kalau ada orang lain denger bisa ngira aku beneran ikut andil dalam pembuatan anak Jamal sama Mela."
Beni mengingatkan kepada kedua temannya kalau candaan mereka bisa jadi masalah serius jika orang lain salah dalam memahami dan menilainya. Terkadang orang bisa berpikir yang iya-iya saat mereka hanya mendengar informasi setengah-setengah seperti sekarang ini.
"Ben... kok Jamal enggak ngakuin anaknya yang ada di perut Mela itu kenapa?" Tanya Parto kepo.
"Ya mana aku tahu To, udah jangan bahas lagi... makin mumet kepalaku jadinya."
Parto dan Seno merasa belum puas dengan jawaban Beni. Tapi, mereka juga enggak mau memaksa Beni terus bercerita dan membuat pikirannya makin enggak karuan.
"Ben.." Panggil Seno.
Beni menoleh ke arah Seno.
"Itu enggak mungkin. Aku berani sumpah demi apapun, aku enggak pernah lewati batasanku!"
"Ya semoga Mela enggak segila itu... udah ni minum dulu. Kering tenggorokanku dari tadi ngoceh mulu," Seno memberikan teko berisi es sirup untuk Beni.
"Gelasnya mana?" Tanya Beni celingukan,
"Kayak enggak pernah minum langsung dari teko aja sih pake tanya gelas..? oiya lupa, kamu kan biasa minum dari bibir ke bibir langsung ya hahaha... To kasih To,"
Parto melempar kaos yang sejak tadi dia jadikan lap keringat ke arah Seno. Kurang ajar emang Seno!
__ADS_1
Saat mereka asyik bercanda, sedikit mengendorkan otot yang tegang karena kelelahan juga, ada seorang gadis yang berjalan bak Dewi Athena ke arah mereka. Lebih tepatnya ke arah Parto.
"To!" Suara khas gadis itu terdengar langsung di telinga ketiga pemuda yang sekarang fokusnya terarah kepada dirinya.
"Ajur To... kamu bikin salah apa lagi? itu nini mu sampai sewot banget gitu..."
Parto tanpa menggunakan kaosnya karena dia lepas sejak tadi, dan dia lemparkan ke arah Seno berjalan terburu-buru menghampiri Shelanya.
"Dalem.., kok tiba-tiba ke sini? Tahu aku di sini dari siapa La?"
Shela melihat Parto dengan sorot mata tajam.
"Hpmu itu gunanya buat apa sih? dihubungi enggak bisa, mana hpmu siniin!"
"Hp ku mati La... aku lupa isi daya, maaf.. ini.." Parto merogoh kantong celananya, memberikan hpnya kepada Shela. Shela diam.
"Kenapa enggak pake baju?" Tanpa menerima hp yang Parto sodorkan, Shela malah menanyakan baju Parto.
"Ben... lihat Ben, itu bukti nyata adanya penindasan kaum adam oleh kaum hawa, udah bisa dipastikan kalau Parto nikah sama Shela yang jadi kepala suku di keluarga mereka nanti adalah Shela,"
Beni tertawa untuk pertama kalinya hari ini karena kemunculan Shela yang terlihat lucu saat bertemu dengan Parto.
Parto mengajak Shela ngadem bersama kedua temannya di bawah pohon rambutan.
"Pakai bajumu!" ucap Shela sambil melotot ke arah Parto.
"Sen.. kaosku tadi mana Sen?" tanya Parto.
__ADS_1
"Lha yo mbuh... kok takon aku," Seno tersenyum jahil.
Sen... Jangan bercanda sekarang bisa kan? Asyem banget ini kenapa juga Shela datang siang-siang pake urat gini,,