Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Nini Kunti vs Titisan Gerandong


__ADS_3

Seno melihat tangannya masih digenggam Indah. Seno yang melihat Indah gemetar berfikir pasti Indah merasa gugup, enggak tahu harus bilang apa untuk mengungkapkan alasan penolakan perasaannya itu.


Indah enggak pernah lakuin ini sebelumnya, melakukan apa? iya itu yang dia lakuin sekarang, menyentuh bahkan menggenggam tangan laki-laki selama itu. Indah menarik nafas, memberi asupan oksigen untuk paru-paru.


"Mas Seno.. aku, aku juga sayang sama Mas Seno." Ucap Indah pelan. Pelan tapi perkataan Indah itu masih bisa terdengar jelas ditelinga Seno.


"Iya Ndah.." Seno tersenyum, Happy? belum.. dia takut dibelakang kalimat Indah ada kata 'tapi'.


"Ndah.. tenang aja, aku enggak akan maksa kamu untuk membalas rasaku, memaksa kamu untuk bilang 'iya' ke aku, padahal kamu enggak memiliki perasaan apapun sama aku. Aku masih Seno yang dulu Ndah, masih selalu ada buat kamu.. aku enggak akan berubah atau mengubah apapun di diriku karena penolakan ini." Seno melepas genggaman tangan Indah. Mengarahkan tangannya ke pipi Indah. Menyentuh pipi gadis imut itu, memandang matanya untuk mencari apakah benar tidak ada dia di hati Indah. Indah terkejut karena belaian Seno pada pipinya membuat dirinya ngeblush.


"Mas.. dengerin dulu, tadi balonnya ucul (lepas). Tanganku keringeten iki Mas.."


Hah? Jadi..


"Aku juga sayang sama Mas Seno, jangan tanya kenapa.. aku sendiri juga enggak tahu. Aku terbiasa dengan hadirnya Mas Seno," Imbuh Indah.


Seno benar-benar tersenyum lega sekarang. Aaach akhirnya.. kek orang lagi kembung terus bisa keluar gas kek gitu ya leganya? Ya jangan disamain sama kentut juga elah. Jadi balon tadi terbang karena Indah yang grogi. Bukan sengaja menerbangkannya.


"Ben.. To.. Alhamdulillah aku diterima," Seno berteriak kegaringan eh kegirangan ke arah Beni dan Parto duduk melihat aksinya sedari tadi.


"Syukur deh.. seengaknya salah satu dari kita enggak jones lagi. Tapi ya jangan ben.. to.. juga manggilnya lah Sen. To, aku baru nyadar ini, kalau nama kita disatuin kok jadi satu kombinasi pisuhan (makian) yang mematikan ya hahaha"


Parto tetap diam. Daritadi diem mulu deh. Sariwawan eh sariawan pesti ni. Beni yang melihat Parto kicep sedari tadi menyenggol pundak temannya itu.

__ADS_1


"Kowe ngopo? (kamu kenapa)"


"Mau pulang. Laper," Parto berdiri dari tempatnya duduk. Beni mengikuti langkah Parto. Meninggalkan dua manusia yang sedang senang-senangnya itu. Mendengar bunyi motor Parto yang di starter, Indah tersadar kalau diapun juga harus pergi dari tempatnya berdiri sekarang. Apalagi langit juga sudah menunjukkan kalau waktu akan berubah dari sore ke malam hari.


"Ndah.." Seno menggenggam erat jemari Indah dengan tangan kanannya. Indah menoleh ke arah lelaki yang sekarang menjadi pacarnya itu. Kok canggung ya. Indah hanya tersenyum. Dari saku celananya Seno mengeluarkan kotak kecil. Seno melepaskan genggamannya, membuka kotak berwarna merah maroon itu. Di dalamnya ada sebuah cincin, iya enggak mungkin juga seekor sapi yang ada di kotak sekecil itu kan? Seno meraih jemari tangan kiri Indah dan menyematkan cincin itu ke jari manis Indah.


"Mas Seno.." hanya itu yang terucap dibibir Indah. Seno tetap intens memandang kedua mata Indah.


"Dalem.. pakai ya Ndah, maaf Mas baru bisa ngasih ini Dek," Seno mengubah panggilan 'aku kamu' jadi 'mas adek'. Sok manis sekali dia ya? Mbok ya biarin, namanya juga baru jadian. Apapun akan Seno lakuin untuk bisa melihat Indahnya tersenyum seperti sekarang ini.


"Kita pulang sekarang? Mas anterin kamu pulang," Seno benar-benar lega sekarang, tiga tahun dia menanti saat ini tiba. Hah? berapa? lama amat.. Iya tiga tahun, waktu Indah masih berumur lima belas tahun, baru masuk SMA ya? Dan bisa-bisanya dia menambatkan hati untuk bocah sekecil itu. Fix Seno enggak waras. Seno selalu mengantar jemput Indah saat Parto tidak bisa melakukannya, atau terkadang Seno sendiri yang menawarkan diri untuk menggantikan tugas Parto itu.


Padahal rumah Seno jauh dari rumah Indah, apalagi dia sendiri juga bekerja. Pokoknya demi lah judulnya. Cuma nganter jemput kamu Ndah.. aku sanggup pokoe,, bukan hal berat juga. Itu yang dipikirkan Seno waktu itu.


"Kamu mau balon yang tadi lagi Dek?" Seno menoleh ke belakang bertanya kepada Indah sebelum dia melajukan motornya.


"Enggak Mas.. takutnya Mas Seno marah karena balonnya prucut (terlepas).."


"Kamu ini mikir apa, enggak mungkin aku marah sama kamu cuma karena balon, aku langsung antar kamu pulang ya Dek?"


"Injih Mas.." Indah sering dibonceng Seno tapi, entah rasanya saat ini dia merasa lebih senang daripada sebelumnya. Dia selalu merasa nyaman bila didekat Seno. Pada akhirnya penantian Seno dengan kesabarannya membuat dia mendapatkan hati Indah, sang pujaan hatinya.


__ADS_1


Senyum Indah untuk kelian wahai reader budiman dan budiwati❤️


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Waktu menunjukkan pukul 19.10, Parto belum sampai rumah. Dia berniat membelikan emak dan bapaknya sate ayam terlebih dahulu sebelum pulang kerumahnya. Beni ngintilin aja dari tadi, dia enggak ada acara lain malam ini. Jadi mending muter-muter gaje bareng Parto. Mereka ini emang cocok jadi kapel (couple) absurd.


Sampai mereka di gerobak penjual sate ayam. Mereka langsung memesan sate kepada kang sate yang terlihat sibuk karena rame pembelinya.


"To.. lama lho ini, kita cari tempat lain yok" Ajak Beni saat merasa jenuh lima belas menit menunggu pesanan mereka belum juga di kipas-kipasin sama kang satenya itu membuat Beni bosan.


"Moh lah.. aku nunggu ini aja, lagian enggak enak lah Ben.. udah pesen kok main tinggal aja. Enggak tanggung jawab itu namanya."


"Emang aku ngapain penjual satenya To kok mok kon (di suruh) tanggung jawab?," Beni selalu bisa membuat Parto kesal dengan omongannya.


Dia males menanggapi mulut Beni yang makin tak terkontrol itu, dia melihat antrian pembeli sate mulai berkurang. Itu artinya pesanannya akan segera dibuatkan. Namun setelah hampir setengah jam menunggu dia dibuat kesal oleh seorang pembeli yang main selonong aja merebut jatah pesanan satenya.


"Aku udah pesen dari tadi.. astaghfirullah kamu?!" Parto kaget karena pesenannya malah di ambil perempuan yang baru saja datang dengan masker yang menutupi hidung dan mulutnya. Iya kali matanya juga ditutup masker?!.


"Iiih kamu lagi?! Cak ini pesenan sate punyaku kan Cak?" Tanya perempuan yang selalu membuat hiiiih tiap kali bertemu Parto.


"Heh Mbak.. kamu ini baru dateng kok langsung ambil jatah kita, antri dulu Mbak! Kamu enggak lihat temenku itu mukanya udah item kena debu di jalan, lubang idungnya udah penuh asap sate, dari tadi juga ngulu idu wae saking ngelehe.. Ra mesakno opo sampeyan Iki? (nelen ludah terus saking lapernya.. Enggak kesian apa kamu ini?)" Beni berucap demikian niatnya mau menyadarkan Mbak itu kalau mereka yang lebih dulu memesan sate itu tapi kok terkesan menjelekan Parto ya,


"Hora urus! (Enggak peduli!), aku udah pesen dari tadi kok! Terus aku tinggal beli bensin, artinya aku lebih dulu di sini daripada kelian!"

__ADS_1


Parto menggelengkan kepalanya, melihat pertunjukan antara nini kunti dan titisan gerandong di depan matanya. Dia hanya diam karena tahu lawannya ini sangat pintar bersilat lidah. Dan dia juga pengen tahu bagaimana Beni menghadapi nini kunti di depan mereka sekarang ini.


__ADS_2