
Kerinduan Seno kepada Indah makin tak terbendung. Hampir tiga minggu mereka tidak bertemu. Rasanya separuh nafasnya hilang tanpa hadirnya Indah di sisinya.
Dia tidak bisa bertemu dengan Indah karena kesibukan yang ibu sengaja ciptakan untuknya. Ada saja hal yang mengharuskan Seno berkunjung ke rumah orang tuanya. Hal itu ibu lakukan hanya untuk mencegah Seno kembali kepada Indah.
Sebenci itu ibu kepada Indah? Hanya karena ramalan yang belum jelas, ibu bisa setega itu memisahkan pasangan yang lagi bucin-bucinnya?! Ya mau gimana lagi, ibu lebih suka Seno bersanding dengan orang yang menurut hitungan primbon bisa membawa hoki di kehidupan Seno kedepannya setelah menikah nanti. Bukan Indah yang katanya membawa ketidak baikan, pengaruh buruk, dan banyak cobaan lain saat mereka nekat menikah. Perlu dicatat, semua itu baru asumsi ibu saja.
Waktu menunjukan pukul 12.00, waktu istirahat untuk semua buruh pabrik di PT tempat Indah bekerja. Langkahnya pelan saat menuju kantin, duduk sendiri karena memang dia tidak begitu suka keramaian. Tanpa dia sadari ada orang yang memperhatikan gerak-geriknya.
Indah membuka ponsel yang barusan dia ambil dari tas. Selama bekerja, memang tidak diperbolehkan membawa benda elektronik itu ke dalam area produksi. Larangan itu bertujuan agar pekerja hanya berkonsentrasi pada bidang yang para buruh itu kerjakan saja.
"Ndah.. Boleh ikut duduk di sini?" Tanya seorang lelaki yang tiba-tiba mengagetkan Indah dengan sapaannya. Indah hanya mengangguk mengiyakan.
"Kamu enggak makan Ndah?" Tanya lelaki itu lagi.
"Masih kenyang," Indah menjawab tanpa menoleh.
"Makan gih, ini aku bawa siomay. Buat kamu!" Sebungkus siomay ada di hadapan Indah sekarang. Indah menggeleng tanda menolak.
"Aku masih kenyang pak, terimakasih." Pak? Siapa gerangan yang sedang berbincang dengan Indah ini?
Dia adalah atasan Indah di dalam produksi, jabatannya setara dengan Seno. Tapi beda divisi. Sejak pertama kali masuk di divisi yang sama dengan Yudha nama atasan Indah itu, Indah sudah menarik perhatian Yudha.
"Heleh di luar jam kerja enggak usah manggil pak Ndah. Panggil nama aja, atau mas atau sayang juga boleh hahaha" Ngarep ente!
__ADS_1
Indah masih cuek tanpa respon tanggapan yang berarti. Dulu, enggak akan ada yang berani deketin dia waktu jam istirahat seperti ini karena ada Seno yang mengawalnya. Sekarang Seno sengaja menjaga jarak, setiap istirahat seperti sekarang Seno lebih memilih menyendiri entah pergi kemana. Yang penting enggak bertemu dengan Indah.
Padahal hati berharap bersama tapi, raga sengaja menjauh menambah luka. Hmm emang bener kan, cinta penderitaannya tiada akhir!
Seno, dia memperhatikan Indah dari jarak jauh. Baru hari ini dia memberanikan diri dan menguji kemampuan hatinya sejauh mana bisa bertahan enggak mendekati Indah saat melihat Indah di dekati lelaki lain seperti tad. Hobi banget menyiksa diri ya!
Berbahagialah tanpa aku Ndah..
Seno memutuskan berjalan menjauh, hatinya tak mampu melihat lebih dari ini. Melihat Indah dengan tatapan sendu membuat dia ikut merasakan pilu.
Waktu cepat berlalu, saat ini semua pekerja pabrik beramai-ramai antri keluar dari gedung parkir untuk pulang ke kediaman masing-masing. Ya, sudah jam pulang kerja saat ini.
Indah tidak terburu-buru, dia berjalan pelan menunggu antrian ribuan motor yang ingin keluar dari parkiran. Dia memilih pulang jika jalanan sudah agak sepi. Duduk di atas motornya, menopang dagu. Males ngapa-ngapain.
"Perasaan tadi terang, kenapa sekarang malah mendung gelap banget gini.." Indah bicara sendiri.
Meski tahu akan hujan, gadis sembilan belas tahun ini belum tergerak hatinya untuk memakai mantel. Bisa ditebak, hujan yang turun keroyokan membuat Indah seketika basah kuyup.
"Astaghfirullah.. Baru juga tadi mendung, masa udah ujan aja!" Indah membuka jok motornya, mencari mantel untuk melindungi diri dari siraman air hujan. Tapi, ternyata di dalam sana tidak ada mantel atau apapun itu.
"Ini apa lagi.. Kok mantelku enggak ada.." Indah mulai menggerutu. Dia lalu ingat, kemarin sore habis mencuci motornya. Mantel yang harusnya selalu ada di jok motor tidak dia masukan kembali ke tempat semula.
Sepuluh menit Indah menunggu hujan reda di pinggir rumah warga sekitar tapi, yang terjadi.. hujan malah semakin deras. Badan Indah menggigil karena kencangnya angin. Dia mau mengeluarkan ponselnya takut tersambar petir. Buat kelian jangan sekali-kali main hp saat kondisi hujan dar-der ya gaess, bahaya!
__ADS_1
"Kenapa enggak bawa mantel?" Tegur seseorang membuat Indah kaget. Suara itu.. Suara yang dia rindukan, Indah langsung menoleh ke sumber suara. Seno. Dia terlihat mengeluarkan mantel yang enggak dia pakai, dia berikan kepada Indah. Indah masih diam, matanya berkaca-kaca, bukan hanya Seno yang merindukan Indah.. tapi, Indah pun merasakan hal yang sama.
Di bawah guyuran hujan itu, Indah menangis. Entah apa yang dia tangisi, Seno makin tak kuat untuk tidak merengkuh gadis yang tengah terisak itu.
Kenapa berpisah dengannya bisa sesakit ini Ya Rabb...
"Jangan nangis... Kamu kedinginan?" Tanya Seno memegang kedua pundak Indah. Indah menggeleng kepala pelan, sambil menunduk tidak mau tangisannya membuat Seno rapuh untuk kedua kalinya.
"Mas Seno mau nikah?" Tanya Indah terbata-bata. Seno kembali memeluk tubuh gadis itu, ingin dia menjawab.. Iya mau nikah asal sama kamu, tapi sebelum masalahnya dengan ibunya selesai dia enggak mau umbar janji dulu kepada Indah.
"Maaf mas.. aku harus pergi," Indah menaruh mantel yang Seno berikan tadi ke atas jok motor Seno. Dengan cepat Seno menarik tangan Indah, Indah langsung terbentur tubuh bidang Seno.
Ingin menahan tangis tapi, tidak bisa. Dia masih secengeng dulu.. Masih Indahnya yang dulu...
Dengan lambat Seno tarik dagu Indah, pandangan mata mereka saling bertemu. Jarak menjadi sangat dekat, meski angin berhembus kencang, namun debaran jantung yang saling memuja satu sama lain mampu menciptakan atmosfer hangat diantara mereka.
Seno mencium Indah, di depan rumah orang yang othor sendiri tak kenal karena emang belum kenalan. Seno melakukan hal yang harusnya bisa dia tahan. Tapi, sekarang mereka malah menikmati pagutan bibir tersebut. Memejamkan mata tanda tak ingin momen ini berakhir, meski suplai oksigen sudah berkurang pada paru-paru mereka.. Namun tak membuat keduanya ingin menghentikan adegan kiss in the rain tersebut.
"Maaf aku mengingkari janjiku, maaf aku enggak bisa melepas mu dari hidupku, maaf karena aku malah membuat diri kita tersiksa seperti ini, maaf.. Ndah!"
"Aku enggak akan lepasin kamu, meski nyawaku taruhannya!"
Ucap Seno mantap.
__ADS_1