
Lulu kembali teringat ucapan Ardiaz tempo hari di ruang kerja dokter itu, memaksanya untuk mengingat kembali kejadian beberapa tahun yang lalu yang membuat dirinya memutuskan hubungan dengan Ardiaz.
"Kenapa? Kamu selalu merasa benar kan? Kamu egois! Kamu pergi tanpa dengerin penjelasanku. Apa yang kamu dapat setelah kamu ninggalin aku? Kebahagiaan? Bahkan aku yakin saat ini, di dalam sana masih ada namaku!" Duduk di meja kerjanya dengan melipat kedua tangannya ke depan dada, membuat Ardiaz makin terlihat keren.
"Kamu bicara apa? Kamu terlalu PD pak dokter. Bahkan jauh sebelum kamu punya gelar dokter, sikapmu itu selalu seenaknya sendiri!"
Lulu enggak mau kalah. Seakan sekarang ini adalah waktu yang tepat untuknya mengeluarkan apa yang dia pendam selama ini.
"Aku enggak mau berdebat Lu, tapi kamu maksa aku buat lakuin hal itu. Coba dulu kamu sedikit saja mau dengerin aku, mungkin saat ini kamu sudah menjadi nyonya Ardiaz, Lu.. aku tanya sekali lagi, apa yang membuat kamu pergi waktu itu?"
"Apa? Nyonya Ardiaz? Mimpi! Gelar itu untuk siapa? Aku yakin kamu sedang membicarakan perempuan yang kamu pakaikan cincin di jari manisnya dulu, bahkan sampai sekarang namanya akan selalu aku ingat. Dia yang terus bilang dukung hubungan kita, tapi, dia juga yang menikmati akhir kisah kita! Pak dokter yang terhormat, jangan lupa.. aku pergi juga karena orang tuamu sama sekali enggak menyukaiku. Hubungan macam apa itu? Penuh kepalsuan. Kita berbeda! Kita berdua beda.. kamu dan aku enggak bisa sama-sama!"
Ledakan itu Lulu sampaikan dengan nafas memburu. Dia sudah lelah menyimpan luka itu sendiri. Ardiaz kaget. Dia diam sesaat.
"Kenapa? Sekarang kamu yang enggak bisa berkata-kata? Kalau dulu kamu benar-benar mempertahankan hubungan kita pun aku enggak sudi diduakan olehmu! Orang tuamu memandang ku tak lebih dari seorang benalu. Kamu lupa hari pertama dan terakhir aku menginjak rumahmu? Ibumu bilang baju yang aku pakai sama seperti taplak meja di dapurmu! Ardiaz.. coba bayangkan jika hal itu menimpamu? Owh maaf aku lupa, kamu bukan aku yang bajuku saja bisa di samakan dengan taplak meja!"
Ardiaz memilih diam. Tatapan matanya sangat tajam. Mungkin kalau tatapan mata bisa dibandingkan dengan benda, silet adalah benda yang menggambarkan tatapan Ardiaz saat ini.
"Kamu tanya kenapa aku pergi kan? Aku jawab sekarang biar kamu tahu keputusanku sudah tepat saat itu. Meninggalkanmu adalah sebuah jalan terbaik, mungkin sekarang di rumahmu, kepulangan mu sudah di tunggu oleh istri dan anak-anakmu di rumah! Aku pergi karena melihatmu bersama Ani, kamu pasangkan cincin itu di jarinya tapi dengan tega kamu hubungi aku untuk datang ke sana dan melihat itu semua. Di mana perasaanmu Ardiaz? Kamu bilang meski orang tuamu enggak suka denganku tapi kamu akan terus memperjuangkan hubungan kita, omong kosong!! Bahkan kamu selingkuh dengan temanku sendiri. Karena apa? Tentu saja karena dia lebih segalanya dari ku kan?"
Memegang erat gamis yang dia kenakan, Lulu sedang mencoba untuk tidak menangisi masa lalunya. Di tikung sahabatnya sendiri, dihina orang tua dari kekasihnya kala itu, menangis pun percuma untuk saat ini! Apa yang mau Lulu tangisi.. kisah mereka sudah tamat. Akhir mereka bukan bersama. Empat tahun mereka menjalin hubungan, jatuh bangun mereka saling menguatkan, tapi di akhir cerita.. Lulu bukan jodoh Ardiaz. Dia bisa apa?
Sekelebat kenangan tentang indahnya saat mereka bersama malah membuat sesak di dada Lulu, selama ini dia sudah mati-matian menguatkan hati. Berusaha bangkit dan menata lagi hatinya yang hancur, bukan sekali dua kali dia mencoba menjalin hubungan dengan lelaki lain, berharap nama Ardiaz akan pudar dari hatinya. Tapi, ternyata hatinya pun enggak mau bekerja sama dengannya. Nama Ardiaz tetap menguasai ruang kecil di sana.
Dan Lulu hanya bisa menyimpan rasa sakit itu sendiri saat mengetahui Ardiaz malah pergi meneruskan pendidikannya untuk mendapatkan title dokter yang sekarang ini disandangnya. Hari demi hari dia sibukan dengan bekerja, apalagi saat sang ayah sakit dan membutuhkan banyak biaya untuk kesembuhannya, tidak ada waktu untuk Lulu bersedih hati dan meratapi kisah cintanya.
__ADS_1
Beni, adiknya yang masih sekolah pun ikut membantu dirinya mencari uang dengan bekerja kasar menjadi kuli panggul di pasar. Setelah pulang sekolah Beni tanpa di suruh akan segera pergi dari rumah, selalu pamit dengan bilang ingin pergi belajar kelompok tapi, air mata Lulu tak terbendung saat menyaksikan sendiri adiknya bercucur keringat mengangkat barang yang dia yakini lebih berat daripada berat badan adiknya itu sendiri.
Di saat itu, tidak ada waktu untuk Lulu memikirkan Ardiaz. Baginya bisa membayar pengobatan ayahnya adalah suatu anugerah. Sampai akhirnya, ayahnya harus pergi karena menyerah dengan penyakit yang diderita beliau. Kepergian ayah Lulu membuat keluarga kecil itu makin terpuruk, ibunya sempat down karena belum terima dengan kepergian sang ayah. Di usia Beni dan Lulu yang masih muda, mereka sudah digembleng dengan banyaknya ujian untuk keduanya.
Tak mau terus-menerus berada di keterpurukan, Lulu yang mempunyai ijazah SMA mencoba melamar bekerja di sebuah PT dengan gaji yang lumayan menurutnya. Alhamdulillah, Lulu yang awalnya tidak yakin akan diterima bekerja di sana. Nyatanya malah langsung mendapat panggilan kerja.
Dan Beni, dengan ketekunannya.. dia bisa membangun usaha sendiri. Meski bukan bengkel yang besar, tapi dia bisa membuktikan, dia bisa bangkit dengan usahanya itu. Orang tua Lulu dan Beni pasti sangat bangga dengan kegigihan kedua anaknya, pantang menyerah dan saling memberi dukungan satu sama lain membuat mereka bisa kuat menjalani cobaan yang ada.
"Lu.. kamu salah paham, Astaghfirullahalazim... Kenapa kamu enggak bilang dari dulu, kamu benar-benar udah salah nilai aku Lu! Ani, waktu itu dia memang benar memakai cincin yang aku pasangkan langsung ke jarinya, tapi, cincin itu buat kamu nantinya! Lu.. aku cari cincin itu untuk melamar kamu, menjadikan mu halal untukku.. sebelum aku pergi meneruskan pendidikan ku! Lu.. kamu sendiri yang bilang, aku harus bisa jadi dokter.. enggak boleh hancurin keinginan orang tua. Biaya berobat yang mahal serta kurangnya tenaga medis di desa, dan juga dukunganmu yang selalu menguatkan ku, menjadi motivasi buatku untuk bisa mewujudkan gelar ini Lu."
Ardiaz menggapai tangan Lulu, terasa dingin. Lulu tersentak dengan perlakuan Ardiaz, ingin dia lepaskan genggaman tangan dokter berkacamata itu, tapi genggaman itu semakin erat.
"Lu.. maafkan aku karena sikap orang tuaku, dan tentang Ani.. dia bukan siapa-siapa.. aku masih menunggumu sampai saat ini. Belum ada istri ataupun anak di rumahku kecuali kamu mau memberikan anak untukku! Lu.. aku kembali hanya untukmu,"
"Omong kosong-"
Air mata itu mengalir, Lulu enggak terima sikap Ardiaz yang selalu sesukanya seperti ini. Semakin dia melawan, malah membuat Ardiaz semakin liar. Dokter mesum.
Ardiaz mengakhiri kunjungannya ke bibir Lulu setelah mereka hal yang dia lakukan kelewat batas, membuat Lulu menangis bukanlah inginnya. Dia hanya ingin Lulu diam dan mendengar apa yang sebenarnya terjadi saat itu. Kesalahpahaman itu harus berakhir sekarang juga. Itu yang Ardiaz pikirkan.
Lulu berjongkok, menutupi mukanya dan tangisnya di antara lutut dan tangannya. Rasa bersalah itu muncul, Ardiaz merasa dia memang keterlaluan.
"Lu.. aku minta maaf.." Ardiaz ikut jongkok di depan Lulu yang sedang menangis, di sentuhnya pundak yang bergetar itu. Tapi, Lulu belum mau melihat ke arah dokter yang memaksakan ciuman kepadanya.
"Lu.." Panggil Ardiaz pelan.
__ADS_1
"Lu.. kita udah dewasa, aku enggak minta kita balikan pacaran kayak dulu. Aku mau kamu jadi istriku! Menikah lah denganku Lu! Minggu depan aku akan ke rumahmu dengan orang tuaku, aku pastikan setelah kedatanganku nanti, kamu akan menjadi halal untukku!" Ucap Ardiaz sangat yakin.
"Kenapa kamu seenaknya sendiri, kamu enggak mau bertanya dulu apa mauku? Ingin rasanya aku buang kamu dan semua keegoisan mu itu ke laut!" Masih dengan menunduk tapi tangisan itu mereda.
"Lihat aku Lu, apa yang kamu mau? Apapun itu akan aku turuti asal bukan menyuruhku untuk pergi, aku kembali hanya untukmu,!"
Lulu menatap mata Ardiaz, tiba-tiba tamparan itu melayang ke pipi pemuda yang ada di hadapannya. Ya, Lulu menampar Ardiaz!
"Jangan seenaknya lagi kamu menciumku!"
Kaget? Tentu.. tapi Ardiaz malah tersenyum karena artinya Lulu enggak meminta dia untuk pergi.
"Enggak waras!" Ucap Lulu lagi.
"Iya, kamu yang bikin aku enggak waras!"
"Dokter macam apa yang seenaknya berbuat mesum seperti tadi-"
Ardiaz malah mendorong Lulu sampai terjengkang dan mentok mepet tembok.
"Dokter macam ini.. Maaf untuk yang tadi aku enggak minta ijin dulu, dan maaf untuk keinginanku yang ingin mengulanginya lagi.."
Sebelum kembali mencium bibir Lulu, Ardiaz melepas kacamatanya, menaruhnya entah dimana. Kerinduannya pada Lulu yang membuat dirinya sampai lupa jika ruang kerjanya itu bisa saja dimasuki oleh perawat yang membutuhkan dirinya,
Saat melawan pun dirasa percuma, Lulu hanya bisa memejamkan mata.
__ADS_1
...----------------...
Wes lah gaess.. bayangin aja sendiri. Jujur saya mumet suruh nulis adegan ginian.