Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Janji Parto


__ADS_3

Dari hasil rundingan warga, pak Setiawan akhirnya dipulangkan kembali ke asalnya. Ya, dia dikirim lagi ke kota. Diantar beberapa warga dan juga pakdhe untuk bicara langsung dengan istri pak Setiawan. Banyaknya warga yang menolak hadirnya pak Setiawan di desa membuat Shela dan ibu Kumala sedikit lega. Mereka tak harus hidup dengan tekanan batin menghadapi kelakuan pak Setiawan nantinya.


Kenapa warga desa menolak pak Setiawan? Karena mereka mengira pak Setiawan terjangkit virus menular, mereka takut jika nanti penyakit pak Setiawan bisa menular ke mereka. Dan ditambah sikap pak Setiawan yang tidak bersahabat pada warga desa membuat mereka juga enggan menerima pak Setiawan berbaur bersama mereka.


"Udah sore To, kamu enggak pulang?" Tanya Shela mengambil piring kotor yang ada di meja.


"Kamu ngusir aku La?" Senyum sambil memiringkan kepala.


"Heh.. dimana-mana orang abis ngelamar itu ya pulang, kamu mau tampil beda gitu? Mau nginep?" Ikut tersenyum, suasana hatinya sudah jauh lebih baik sekarang.


"Boleh.. kalau kamu yang suruh, jadi besoknya kita langsung nikah, gimana? pasti sangat menyenangkan." Mulai deh mode sengkleknya keluar.


"Aku nyuruh kamu pulang! Sana pulang," Saat asyik mengobrol, ibu keluar dari dapur membawa satu piring nasi yang sudah komplit dengan sayur dan lauk pauk pendampingnya. Ibu menyerahkan piring itu untuk Parto, calon mantu satu-satunya.


"Makan mas.. dari tadi belum makan to?"

__ADS_1


"Nduk.. kamu ini, mas mu udah nemenin dari tadi kok ya dianggurin. Kamu buatin teh dulu sana." Lanjut ibu yang memberi titah untuk anaknya. Tanpa menunggu ibunya mengulang perintah, Shela beranjak menuju dapur. Sebenarnya itu hanya alasan ibu untuk bisa bicara dengan calon mantunya itu.


"Mas.. ibu mau ngomong sama mas To ya." Parto mengangguk menatap serius ke arah ibunda Shela yang merangkap calon ibu mertuanya.


"Mas maafkan ibu dengan keributan yang terjadi tadi siang, ibu juga sudah meminta maaf kepada orang tua mas To sebelum mereka pamit pulang tadi. Sebenarnya ibu malu dengan kegaduhan yang ayahnya Shela lakukan saat keluarga mas To berkunjung ke sini. Apalagi kunjungan mas To sekeluarga dengan maksud melamar Shela, malah terjadi kejadian seperti tadi." Diam sesaat, memberi jeda pada kalimat yang beliau sampaikan. Memandang wajah calon mantunya secara seksama.


"Yang ingin ibu bilang... tolong jaga Shela mas, saat nanti kelian sudah menikah tolong jangan sakiti hati anak ibu itu dengan menodai kepercayaannya, apalagi sampai membuat cabang di hati mas To untuk wanita lain. Ingatlah, bagaimana perjuangan mas To dan Shela saat akan bersama, akan banyak godaan dan ujian setelah menikah nanti. Karena perjalanan cinta kelian yang sesungguhnya baru dimulai saat kelian sudah menjadi suami istri. Hal ini ibu sampaikan karena melihat kegagalan ibu. Ibu merasa gagal dalam berumah tangga, meski sudah mencoba sebisa mungkin untuk menjaga keharmonisan, bertahan dalam kesulitan ekonomi, tapi nyatanya terjangan ombak terlalu kuat menghancurkan pernikahan ibu dan mantan suami ibu. Menyisakan luka yang sampai sekarang masih ditanggung oleh Shela."


Parto mengerti semua kekhawatiran ibu, dia masih diam nyimak curahan hati calon mertuanya.


"Saat orang tua memutuskan berpisah, yang selalu dan pasti menjadi korban adalah anak. Dan ibu sudah melihatnya sendiri mas. Bagaimana Shela dulu sangat pemurung, jarang bersosialisasi, tapi, sekarang Shela terlihat sangat bahagia mas. Dan itu semua ibu yakin karena mas To, jadi.. ibu minta dengan sangat jaga kepercayaan Shela. Maaf kalau permintaan ibu ini terlalu muluk-muluk, lha itu kok nasi masih didiemin aja? Ndang (buruan) dimakan mas!"


"Buk.. aku ndak bisa memberi banyak janji tapi, sebisaku.. akan aku wujudtin mimpi-mimpi Shela saat bersamaku, berusaha membuat dia bahagia. Akan selalu menjaga hatinya. Buk.. aku juga punya adik perempuan jika dia disakiti laki-laki pasti aku ndak terima, jadi aku pasti berpikir ribuan kali sebelum membuat Shela menangis."


Hmm jangan cuma omong doang ya To, jangan sampai kamu nanti di santet warga mengsad gegara baru nikah udah bikin Shela nangis.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari, Shela sudah mendengar semua obrolan mereka tadi. Shela datang dengan membawa teh hangat, duduk di samping ibu.


"Kamu bikin tehnya di Nganjuk ya La? kok lama banget?" Ibu berdiri dan memberi waktu kedua anak manusia itu untuk kembali berbincang.


"Mas.. nasinya jangan dipegang aja gitu. Dimakan ya!"


Sekali lagi, Parto hanya mengangguk dan tersenyum ke arah ibunda Shela.


"La... abis ini aku langsung pulang ya," Parto berpindah tempat duduk, sekarang dia ada di samping Shela.


"Iya. Makan dulu, jangan sampai kamu pingsan gara-gara kurang makan!" Shela menuangkan teh hangat ke cangkir untuk Parto.


"Aaaa La.. makan tuh!" Memberi perintah untuk Shela agar dia mau membuka mulutnya. Ooowh ceritanya mau menyuapi Shela to To?!


"Heeeeh apaan? Enggak ah.. aku udah makan kok! Kamu aja yang makan, abis itu pulang!"

__ADS_1


"Makan! Tinggal mangap aja susah, apa mau di suapi dengan cara lain?" Mengerlingkan mata nakalnya.


Demi kesejahteraan bersama, dari pada makin drama juga, Shela menuruti perintah Parto untuk makan makanan yang tadi ibu bawa untuknya. Parto tahu sebenarnya Shela juga belum makan apapun sejak siang tadi, siapa juga yang bisa nafsu makan jika dihadapkan dengan masalah seperti Shela tadi. Untungnya Parto adalah orang yang care dia tahu harus bagaimana menghadapi Shela yang menurut sebagian orang punya sifat bak nini kunti itu. Tapi, bagi Parto.. dari awal jumpa dengan Shela dulu, meski dengan luluran telur dan bau amis yang mengusik indra penciuman Shela adalah gadis cantik yang spesial. Spesial pake telur tiga kilo!


__ADS_2