
Beni menutup bengkelnya. Ingin kembali ke klinik tempat Parto dirawat setelah tadi pagi dia pulang karena tidak mau membuat ibunya cemas.
"Buk.. aku ke klinik lagi ya." Pamit Beni kepada ibunya yang sedang mencuci piring.
"Iya Ben, itu bawa jaket sama helm. Kamu beliin buah dulu buat Parto. Atau makanan yang kira-kira dia suka, ibu jenguk dia nanti aja kalau dia udah pulang." Ucap ibu yang dijawab iya aja oleh Beni.
Dijalan, Beni melihat ada pedagang buah mangga dan jeruk. Dia berniat membelikan Parto buah-buahan itu untuk menjenguk Parto. Sebenarnya sih ke sana tanpa buah tangan juga woles aja dia tuh, tapi biar enggak terkesan pelit bin medit boleh lah ngasih beberapa butir buah untuk menghiasi meja tempat Parto dirawat.
Beni menghentikan motornya. Tepat disebelah gerobak depan toko buah itu.
"Heeh pakai mata kalau bawa motor! Kamu hampir ngelindes aku tahu enggak?!!" Teriak seseorang yang muncul dari samping gerobak itu sesaat setelah menyelesaikan misi memilih buah yang akan dia beli.
Mod_yar Ben.. Ketemu dia lagi. Alamat bakal panjang ini urusannya! Dikira dia semut apa kok bilang aku mau ngelindes dia, aneh!
"Maaf mbak, enggak lihat!" Ucap Beni singkat. Dia males berdebat dengan perempuan di sampingnya ini.
"Kok bisa enggak lihat? Kamu rabun?" Tanya Virza membetulkan letak helmnya yang masih nangkring di kepala. Sepertinya helm yang dia pakai kebesaran. Sehingga membuat si pemakai helm harus beberapa kali membetulkan letaknya.
"Anggap aja begitu!" So simple. Benar-benar males debat.
Virza memperhatikan Beni saat memilih buah, kenapa orang ini mirip sekali dengan Bambang mantan pacarnya yang ninggalin dia, apa dia saudara Bambang? Pikir Virza. Masih dengan menatap Beni yang mulai enggak nyaman karena diperhatikan seperti itu.
"Apa? Lihatnya gitu amat?" Tanya Beni iseng ingin tahu. Tak dijawab pun tak masalah buatnya.
__ADS_1
"Siapa nama kamu?" Tanya Virza, eh ngajak kenalan rupanya.
"Oowh ngajak kenalan.." Beni tersenyum ala Syahrukan, bayangin aja bayangin gaess! Kalau perlu praktekin sekalian!
"Tanya nama bukan berarti ngajak kenalan. Kamu saudara Bambang ya?" Jutek kayak nini kunti!
"Aku enggak kenal Bambang." Udah kepedean, malah dihempaskan karena si Bambang. Lagian siapa sih Bambang ini, hidupnya kok ribet amat, suka bikin orang lain susah karena dia!
"Bohong ya.. Kelian mirip!" Masih mikir kalau Beni saudara Bambang.
"Nama kamu Virza kan? Aku mau tanya sama kamu Vir.. kalau aku saudara Bambang emang kenapa? Ini hanya perandaian karena sebenarnya aku sama makhluk bernama Bambang itu enggak ada hubungannya sama sekali!"
"Kalau kamu saudara Bambang, minimal kenal sama pendosa satu itu, bilang sama dia suruh tanggung jawab!! Balikin uangku yang selama pacaran dia pakai untuk modal usahanya! Balikin nama baik orang tuaku karena dia udah bikin malu semua keluargaku! Kalau dia enggak punya apapun untuk menebus semua itu, dia bisa pakai nyawa dia!!" Pandangan mata sinis penuh dendam dan kebencian Virza perlihatkan saat mengatakan semua itu.
"Oke. Aku pergi dulu. Maaf sebelumnya aku beneran enggak kenal Bambang."
"Kalau kamu enggak kenal Bambang, kamu bisa gantiin dia buat tanggung jawab! Gampang kan?" Beni yang udah menaiki motornya setelah meletakan buah yang baru dia beli ke jok motor hanya bisa melongo.
"Apa? Bilang sekali lagi.. Tolong lebih keras ngomongnya, sepertinya telingaku kehilangan fungsinya tadi."
"Bilang aja budek!" Mak jleb banget.
"Kamu gantiin dia tanggung jawab!" Ulang Virza. Ini orang kok gitu ya, maksudnya enggak kenal siapa Beni tapi kok enggak ada malu-malunya gitu. Mana pakai minta tanggung jawab dari Beni lagi.
__ADS_1
"Gini ya, hari ini aku sibuk.. Minta tanggung jawabnya besok aja." Beni menyalakan motornya.
"Aku enggak main-main!" Virza langsung duduk di jok belakang motor Beni.
"Eh apa ini? Bisa enggak kita omongin baik-baik aja,"
Sik To.. Aku jenguk kamu dipending dulu. Tak kelarin masalah sama cewek yang tiap ketemu aku minta tanggung jawab ini.
Beni menghela nafas. Turun lagi dari motornya, enggak peduli kalau sekarang pedagang buahpun ikut memperhatikan gerak-geriknya. Dia berpikir cepat, mencari alasan yang bisa membuatnya kabur dari gadis berhelm kegedean ini.
"Aku mau ngomong sama kamu, mau ngasih tahu kamu, biar kamu tahu aku kayak gimana.. orang yang kamu mintai tanggung jawab ini adalah suami orang. Aku udah nikah Vir, aku ke sini buat beli buah karena istriku ngidam pengen mangga sama jeruk."
"Apa kamu tetep mau aku tanggung jawab? Dengan cara apa? Nikahi kamu? Nyentuh kamu aja enggak.. dan lagi aku terlalu sayang sama
istriku.. enggak mungkin aku duain dia. Jadi.. maaf ya, kita bisa jadi temen aja." Beni ternyata punya bakat jadi sutradara. Ngarang cerita sedemikian rupa sampai bikin Virza kaget dibuatnya.
"Jadi.. jadi kamu udah nikah.." Virza seakan enggak percaya.
"Iya. Mau jadi bapak juga, hebat kan?" Bangga akan kehaluannya!
Virza diam. Dia merasa malu sekaligus menyesal, berdebat dengan orang yang tidak dia kenal. Meski orang itu mirip dengan mantannya yang lucknut tapi Beni tetap bukan Bambang.
"Aku pergi dulu ya Vir, kasihan istriku nunggu lama." Fix selain playboy Beni juga seorang ahli ngibul.
__ADS_1