Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Memaksimalkan Anugerah Katanya


__ADS_3

"Masya Allah.. ini siapa To?" Tanya Beni saat melihat foto Shela yang belepotan telur di hp Parto.


Parto yang tadinya ngotot ingin merebut kembali hpnya kembali duduk, males bertingkah seperti anak kecil main rebut-rebutan hp.


"Ya itu.. Kunti yang aku ceritain tadi,"


"Mata kamu rabun apa To, ini cewek cantik gini di bilang kunti..?" Kata Beni sambil memperhatikan lebih fokus foto Shela.


"Aku enggak bilang dia jelek Ben, kelakuan dia yang kayak kunti, amit-amit bener. Baru kali ini aku di pertemuin sama cewek minus akal sehat, akhlakless. Cerewetnya melebihi burung beo punya Pak Agus, galaknya melebihi omelan Emakku kalau aku pulang kemalaman pas ngumpul ma kelian, sadisnya melebihi ibu tiri, tapi nyebelinnya sama kek kelian,"


Ucapan Parto malah mengundang tawa Seno dan Beni. Seno tidak begitu tertarik dengan apa yang ada di hp Parto. Dia hanya ingin tahu apa yang di lihat Parto sampai fokus temannya itu terbelah saat bersama mereka, itu saja. Iya karena baginya cukup Indah saja, enggak ada cewek lain semenarik Indah di matanya.


Beni memberikan hp Parto kembali ke tangan pemiliknya.


"To, siapa namanya? punya nomer wa nya enggak?" Tanya Beni, Seno yang melihat kekepoan Beni terbangun jiwa usilnya.


"Aku mana punya nomer wa nya, pertanyaanmu aneh-aneh aja. Mok kira aku sekurang kerjaan itu apa tanya-tanya nomernya segala. Bisa kabur dari dia aja Alhamdulillah banget, Kalau nama,. Shela.. panjangnya 'Shelamat malam duhai kekasih.."


Mereka tertawa mendengar perkataan Parto.


"Ciyee Beni gercep ni tanya-tanya info cewek. Enggak sabaran banget sih pengen punya pacar lagi, kenapa Ben? Lambemu udah nyut-nyutan karena enggak pernah di kasih jatah lagi ya? Kamu benar-benar udah kemakan godaan syetan yang terkutuk Ben.. Banyakin istighfar Ben biar hidupmu aman, damai, sentosa, dan sejahtera."

__ADS_1


"Omonganmu udah kayak orang yang mau pidato pembukaan waktu pencalonan RT Sen. Bagus mudah di mengerti dan di pahami. Tapi bisa enggak pas bilang 'godaan syetan yang terkutuk' itu jangan lihat ke aku.." Ucap Parto kesal.


"To, niatku baik.. menjadikan kamu contoh visual syetan di dunia nyata. Biar orang awam seperti Beni ini, yang sering berbuat maksiat sama bibirnya itu tobat, sadar dan enggak ngulangin lagi dosa-dosanya dulu."


Sen.. apa kamu lupa satu hal, aku ini kakak dari cewek yang kamu suka, cewek yang bikin jantungmu keder (gemetar) hanya dengan membayangan dia aja. Lha kok bisa-bisanya kalau ngomong sama aku enggak ada sopan-sopannya. Asal gambleh.


"Aku cuma memaksimalkan fungsi dari apa yang Tuhan berikan kepadaku Sen, punya tangan ya gunain dengan baik. Buat memegang sesuatu yang baik-baik pula, punya bibir juga gitu Sen.. gunain sebaik mungkin, aku kan cuma bereksplorasi, gunain bibir enggak cuma buat nyeruput gelas kopinya Mbok Yuni aja. Kelian aja yang mainnya kurang jauh, kurang ilmu cuma paham teori tanpa pernah praktek,"


Parto dan Seno melongo mendengar jawaban Beni. Bisa aja ini orang ngelesnya. Tapi sesaat kemudian Seno tertawa,


"Gini ya manteman.. aku juga sebenarnya paham, ngerti apa yang Beni maksudkan dengan memaksimalkan fungsi apa itu tadi barusan yang dia bilang.. tapi teori saja belum cukup, aku perlu praktek. Benar kata Beni tadi, kita cuma paham teori tanpa pernah nyoba prakteknya.. jadi piye To, oleh ora aku praktek memaksimalkan fungsi lambeku bareng karo Indah? (Gimana To, boleh enggak aku praktek memaksimalkan fungsi bibirku bareng sama Indah?)"


"Macem-macem karo indah tak kebiri kamu Sen,"


Mendengar hal itu Seno dan Beni tertawa terbahak-bahak.


"Aku kan niatnya baik To, ngajarin Indah biar lebih bersyukur dengan anugerah yang di berikan Allah kepada kita. Aku enggak bakal macem-macem kok To, aku sendiri juga masih amatir soal gituan.. jadi kalau percobaan pertama gagal aku siap mencoba dan melakukannya lagi sampai kita sama-sama pro dalam bidang itu"


Beni makin ngakak. Sedangkan Parto dia malah makin kesal dengan Seno.


"Berani macam-macam sama Indah tak jadiin samsak idup kamu, kalau udah ngebet banget pengen civokan.. tu sama bibir pintu warungnya Mbok Yuni itu aja. Mayan ada manfaatnya tu lambemu buat ganjel pintunya biar enggak buka tutup sendiri kena angin."

__ADS_1


"Ya Allah.. Jontor To nanti, parah lah kamu mah hahahaha.." Dan ketiganya malah tertawa saat Beni bersuara.


Sore itu di akhiri dengan guyonan mereka di warung kopi Mbok Yuni. Sedikit ngilangin kegabutan Parto karena ulah Shela tadi pagi.


Parto pergi duluan meninggalkan warung itu, karena dia sudah tidak tahan dengan bau amis yang menempel di tubuhnya. Lagipula dia juga harus melihat kondisi rumah Embahnya yang nantinya akan dia renovasi.


Seno dan Beni masih di warung Mbok Yuni, masih bicara ngalor-ngidul.


"Sen.. kamu udah pernah jajal (nyoba) nembak Indah?"


"Udah Ben.. Ojo takon kelanjutane. Ngenes, tragis (jangan tanya kelanjutannya, mengsad)"


"Kamu di tolak?" tanya Beni penasaran.


Terdiam sesaat, menghabiskan kopinya dan menyisakan ampas hitam pekat di gelas.. Seno membuka suara.


"Bukan di tolak.. tapi aku nya yang kayak di gantung.. di kerjain sama kambing. Aach malah cerita kan ujungnya,"


"Hahaha kok bawa-bawa kambing, kamu di gantung kayak kambing? mau di bolang opo piye? hahahaha (di kuliti sehabis di sembelih)"


Seno pun menceritakan kejadian tiga bulan lalu kepada Beni. Dan sudah bisa ditebak, Beni tertawa terbahak-bahak sampai membuat Seno menyesal udah membagi kisah ngenesnya kepada Beni.

__ADS_1


__ADS_2