
Dengan menggunakan hijab putih, Shela benar-benar tampil di luar kebiasaannya. Aura kunti yang biasa dia pancarkan, berubah menjadi aura sang dewi.
"Assalamualaikum.. Ndah, Mas mu udah sampai rumah?" Tanya Shela setelah mereka bertatap muka.
"Waalaikumsalam mbak.. iya, udah di rumah mbak. Itu lagi diomelin emak hehehe, mbak Shela cantik banget. Beda dari biasanya.." Indah menatap kagum pada pacar kakaknya.
"Kok diomeli kenapa to Ndah?" Indah belum menjawab pertanyaan Shela tapi, dari dalam keluar seseorang yang membuat Shela datang berkunjung ke sini. Siapa? Ya Parto, siapa lagi.
"Masya Allah..." Kata itu terlontar otomatis dari mulut Parto. Enggak bisa disembunyikan rasa kagum Parto pada diri Shela.
Shela tersenyum,
"La masuk La.. Ya Allah.. aku kayak lihat bidadari lho ini, kamu cantik banget.."
"Lap dulu ilermu To, malu-maluin hahaha" Celetuk Seno.
Shela masuk ke dalam rumah, di sana ada emak yang masih duduk di ruang tamu, melihat ada tamu yang datang, emak langsung berdiri dan tersenyum ramah.
"Assalamualaikum" Shela menyalami emak.
"Waalaikumsalam, duduk nduk.. To, iki sopo?"
Emak bertanya pada Parto tapi pandangan matanya tak lepas dari Shela. Shela mampu mencuri perhatian emak di pertemuan pertama mereka.
"Kulo Shela Bulek.. rencange mas To," (aku Shela Tante.. temennya mas To,)
Mata Parto berbinar seketika. Senyum itu tak lepas dari wajah Parto. Panggilan mas yang Shela ucapkan untuknya semakin membuat hatinya berkembang-kembang.
"Owwh iya iya.. aduuuh ayu men kowe nduk, kamu ini mirip emak waktu masih muda hahaha" emak mulai menunjukan sisi PD nya. Sekarang bisa ditebak kan dari mana gen narsis Parto itu berasal?
__ADS_1
Semua orang yang di ruangan itu tersenyum saja mendengar ucapan emak, iyalah mau apa lagi? Dibantah juga percuma, bisa makin panjang nanti urusannya. Shela memberikan dua kotak kue kepada emak. Emak benar-benar senang dengan kedatangan Shela. Beliau sampai lupa jika tadi ritual ngomelin Parto tadi belum selesai.
Tahu apa yang harus beliau lakukan, emak pamit ke dapur dengan membawa kue pemberian Shela.
"La.." Parto sampai speechless dia enggak tahu mau ngomong apa. Kehadiran Shela saat ini di rumahnya membuat dirinya senang, meski udah sering ketemu.. yang namanya orang lagi sayang-sayangnya itu mau ketemu sehari ratusan kali juga happy-happy aja bawaannya.
"Opo?" Tadi anggun banget, sekarang kok juteknya keluar lagi sih. Mungkin juteknya Shela ini emang gawan bayi ya gaess. (bawaan lahir)
"To.. aku mau nganter Indah servis motor dulu ya, mau pamit emak dulu ah.. biar cepat turun restu hahaha." Seno melangkah menuju luar rumah. Ini dia mau pamit emak kok malah keluar? Lha bukannya tadi emak lagi ada di dapur? Abis dari dapur emak bablas (langsung) ngasih makan ayam-ayamnya gaess di kandang samping rumah Parto. Makanya Seno enggak perlu ngubek-ngubek dapur buat cari emak, karena beliau udah ada di depan rumah.
"Restu buat apa Sen? Jan mimpi kamu! Ati-ati, jangan pulang terlalu sore! Tak cekik kamu nanti,"
"Enggak To enggak.. kalau enggak boleh pulang sore ya tak pulang malem aja boleh dong hahaha" Seno ngelunjak. Minta dibikinin teh campur kaporit pemirsa.
Setelah menyajikan teh dan sepiring kue dan satu piring pisang goreng untuk kakak serta Shela, Indah pamit pergi kepada masnya itu. Tak lupa dia juga pamitan dengan Shela.
Shela nyaman berada di tengah-tengah keluarga Parto. Semua keluarga Parto menerima dia dengan baik, enggak ada kepura-puraan. Semua perhatian mereka terlihat enggak dibuat-buat.
"Hmmm kenapa?" Shela malah balik tanya.
"Kok malah tanya kenapa? Kan biasanya penampilan kamu enggak kayak gini dek," Parto memberikan secangkir teh hangat untuk Shela. Shela menerimanya. Meneguk teh itu dan menaruh lagi cangkir ke atas meja.
"Aku tadi abis dari makam nenek To.. terus inget kamu, aku langsung ke sini aja." Shela menatap mata Parto.
"Ke makam embah terus inget aku La? Astaghfirullah," Parto agak kaget mendengar penuturan pacarnya.
"Kirain kamu kangen aku La, sengaja ke sini buat ketemu aku gitu.." Drama, sok memelas mben apa To?
"Ya buat kamu lah, mau buat siapa lagi hmm? Enggak mungkin aku ke sini buat kambing kamu yang ada di kandang itu kan?" Enggak suka drama. Shela lebih milih blak-blakan.
Seketika itu juga Parto langsung melebarkan senyumannya. Entah sudah berapa kali hatinya dibikin berflowers sama perempuan yang sekarang ada di sampingnya ini.
__ADS_1
"To.. kepala kamu gimana? Dan kenapa kamu enggak bilang yang sebenarnya sama orang tuamu kalau kamu enggak pulang dua hari kemarin karena kena musibah?"
"Aku enggak mau bikin emak sama bapak khawatir La,"
Keduanya terdiam. Parto melihat sekilas ke arah bibir berwarna merah muda itu, si pemilik bibir langsung tahu jika bagian itu mendapat perhatian dari sang pacar.
"Mesum!" Ucapan Shela membuat Parto tertawa.
"Apa sih La,?" tutur Parto sambil menahan tawanya.
"Kamu punya pemutih pakaian?"
"Punya. Kenapa La?"
"Ke belakang sana, cuci otakmu dulu biar bersih dari kemesuman!"
"Direndem dulu enggak La?" Parto menanggapi perintah konyol pacarnya.
Sekarang malah Shela yang tersenyum.
"Bapak kamu mana To? kok aku enggak lihat beliau dari tadi," Shela mengalihkan pembicaraan.
"Jam segini bapak mungkin masih cari rumput La,"
Berbincang tentang kegiatan orang tuanya, membuat Parto dan Shela betah. Mereka sampai enggak sadar kalau di perhatikan oleh bapak dan emak di teras rumah.
"Parto pinter golek (cari) pacar yo Mak?!"
"Iyo. Ayu Pak, koyok aku hahaha" kembali, emak mengulang perkataannya tadi.
"Iya... emak pancen (memang) ayu tapi yo, ayu pada masanya dulu. Dan masa itu udah lewat tergerus jaman. Hahaha" Omongan bapak membuat emak langsung melayangkan cubitan di pinggang suaminya itu.
__ADS_1