Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Kisah Shela


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 20.15, dan Parto pun meminta ijin kepada ibunda Shela untuk segera pulang. Dia tidak mau nanti Shela dan juga ibunya jadi bahan pembicaraan tetangga karena terlalu lama menerima tamu laki-laki di rumah mereka.


Dan syukurlah hujan juga sudah reda. Tidak ada lagi alasan bagi Parto untuk terus berlama-lama di kediaman keluarga Shela.


"Mas.. kamu hati-hati ya di jalan, udah malem. Jangan ngebut ya," Ucap ibunda Shela saat Parto mencium tangannya untuk berpamitan pulang. Berbeda dengan ibunya yang perhatian, Shela malah asyik dengan hpnya di kamar. Dia males bertemu lagi dengan Parto. Hati mungilnya selalu berkata kalau Parto bukan orang baik yang harus dihindari.


"Injih Budhe.. matursuwun sanget, sudah di ijinkan berteduh di sini, malah sampai repot-repot nyuguhi makan juga.. Dan ini mau pulang saja masih dibawain oleh-oleh, aku jadi enggak enak ini Budhe,"


Ibunda Shela memberikan satu loyang brownies buatannya. Parto yang terus-menerus menolaknya membuat ibunda Shela menaruh saja brownies itu di motor Parto.


"Udah Mas.. enggak apa-apa, dari tadi kok bilang ewah-ewuh wae (sungkan melulu), ini Shela kok malah enggak nganterin Masnya pulang gimana to, bocah kui kok saiki tambah ndableg (anak itu kok sekarang makin bandel). La.. Nduk iki Masmu ameh bali kok kowe ndekem wae nek kamar, metuo La! (La.. Nduk ini Masmu mau pulang kok kamu mager aja di kamar, keluar La!)"


Mendengar ibunya berteriak seperti itu, Shela tak sampai hati untuk tetap berdiam diri di dalam kamar. Dia akhirnya keluar dari kamarnya dan menuju depan rumah, di sana sudah ada Parto yang tersenyum menyambut hadirnya.


Apa-apaan sih itu orang,, senyam-senyum mulu. Mau nunjukin kalau dia hebat bisa ngambil hati ibu? Jangan mimpi aku mau jadi pacarmu.. wahai dedemit kurang sajen. Aku enggak suka kamu!


Shela enggak sadar diri kalau dialah yang lebih mirip dedemit kurang sajen jika dibandingkan dengan Parto yang sedari awal sabar banget ngadepin dia. Emang kenapa to Shela kok se anti itu dengan keberadaan Parto. Keknya kok salah mulu, di bantu salah enggak di bantu lebih salah lagi..

__ADS_1


Dulu Shela adalah gadis kecil yang periang dan lucu. Dia sangat sayang dengan kedua orangtuanya, terlebih kepada ayahnya. Dia begitu dekat dengan sang ayah yang menurutnya adalah sosok pahlawan di kehidupan nyata. Hidup dengan sederhana di desa kecil, tidak menyurutkan kebahagiaan keluarga Shela. Setiap hari canda tawa mewarnai rumah keluarga mereka.


Hingga suatu hari, timbul keinginan ayah Shela untuk pergi merantau ke kota. Dia bermaksud merubah ekonomi keluarganya, ingin menambah penghasilan. Gaji sebagai kuli bangunan di desanya terasa sangat kurang untuk mencukupi kebutuhan keluarganya di desa. Karena jasa kuli bangunan di butuhkan saat warga sekitar ingin membangun rumah saja. Dan tidak setiap hari juga kan ada warga yang berniat membangun atau merenovasi rumahnya, jadi saat itu ayah Shela lebih banyak menganggur daripada bekerjanya.


Di tahun pertama semua berjalan baik-baik saja. Sang ayah selalu rajin memberi kabar dan mengirimkan sejumlah uang gajiannya hasil bekerja di kota sebagai supir pribadi di perumahan elit. Tapi, di tahun kedua setelah kepergian ayah Shela ke kota semua berubah menjadi tidak baik-baik saja. Ayahnya menjadi jarang memberi kabar, uang bulanan yang biasa dikirimkan untuk Shela dan Ibundanya pun tidak pernah sampai lagi. Ada saja alasan yang beliau sampaikan tiap kali di mintai jatah uang bulanan.


Merasa ada yang tidak beres, ibu Shela bertekad mengusul suaminya yang ada di kota. Saat itu Shela baru berusia tujuh tahun, dia di ajak ibundanya untuk pergi menemui ayahnya di kota. Karena ibunda Shela tidak tega jika harus menitipkan Shela kepada tetangga atau orangtuanya di desa saat beliau pergi. Ibunda Shela tidak mau masalah keluarganya menjadi bahan ghibahan di desa kalau sampai beliau berangkat ke kota sendiri dan meninggalkan Shela dengan saudara, tetangga atau orangtuanya. Apalagi jika orangtua dari ibunda Shela tahu saat itu pernikahan anaknya sedang dalam masalah. Hal itu pasti akan menambah beban pikiran orangtua.


Singkatnya, setelah benar-benar sampai di kota dan menemukan alamat suaminya bekerja, Ibunda Shela di kejutkan oleh fakta bahwa di sana suaminya, ayah dari Shela.. lelaki yang dulu sangat dia cintai dan banggakan sebagai satu-satunya imam di keluarganya ternyata sudah menikah dengan PRT yang bekerja satu atap dengan suaminya di kota. Hatinya benar-benar hancur, apalagi melihat Shela kecil yang menangis ingin ayahnya ikut pulang bersama dengan mereka ke desa tetapi tidak di indahkan oleh suaminya.


Tangisan Shela waktu itu membuat ibunya sangat menyesal, kenapa beliau mengajak Shela untuk ikut bersamanya ke kota guna mencari keberadaan suaminya. Di dalam bus yang mengantarkan mereka kembali ke desa, isak tangis Shela sesekali masih terdengar. Hal itu membuat ibunda Shela semakin hancur, beliau tidak menyangka pernikahan yang berjalan sembilan tahun bisa kandas karena godaan wanita lain di kota. Entah suaminya itu di goda atau memang suka menggoda, pada kenyataannya.. bayangan keluarga kecil yang bahagia sampai mereka menua bersama dan tersenyum melihat anak cucu beranjak dewasa, meski nanti salah satu diantara mereka di panggil Sang Pencipta kini telah sirna. Menyisakan luka yang membekas meski cerita itu sudah sangat lama.


Di tambah ejekan dan ghibahan tetangga karena mereka mengira ayah Shela pergi ke kota dan berpaling hati di sana karena tuntutan ibunda Shela yang ingin hidup bergelimang harta. Mereka yang tidak tahu apa-apa tapi merasa seperti dewa yang mengetahui segalanya. Menghakimi tanpa tahu faktanya.


Tahun demi tahun Shela lalui dengan ejekan tetangga, sering dia adu mulut atau bertengkar saat rasa sakit di hati itu tak terbendung. Tapi setelah mendengar nasihat ibundanya, Shela menjadi sedikit bisa mengontrol emosinya.


"Nduk.. kita ini cuma punya dua tangan, yang ngomongin kita itu orang sedesa.. daripada tangan kita ini gunakan untuk menutup mulut mereka satu-persatu, lebih baik gunakan untuk menutup telinga kita saja. Belajarlah masa bodoh dengan omongan mereka, kita makan hasil keringat kita sendiri ya kan? kita enggak pernah minta-minta sama mereka.. enggak apa-apa Nduk. Menangis hari ini tapi sebelum air matamu itu kering, kamu harus bisa kembali tersenyum lagi.. Kamu anak ibu, kamu semangat ibu, jangan jadikan semangat ibu hancur karena melihat kamu bersedih karena omongan mereka ya.."

__ADS_1


Selalu menangis setelah ibundanya memberikan kalimat motivasi untuknya seperti itu. Ya, benar Shela memang gadis jutek, nyebelin, cerewet, dan susah di dekati dan itu semua karena gemblengan dari mulut-mulut tetangga yang menjadikannya seperti sekarang ini.


Lalu kenapa dia juga anti sama Parto, Parto kan bukan salah satu tetangga yang mengghibah dirinya dan menghakimi ibundanya? Karena menurut dia, Parto itu cuma pencitraan, baiknya cuma di buat-buat. Bisa-bisanya setiap kali dia kena musibah selalu ada Parto di sana sebagai pahlawan kesiangan. Dia yakin Parto orang enggak baik, itu menurut dia sendiri. Karena dia sering menemui orang-orang yang seperti itu. Baik di depannya, tapi di belakang Shela mereka ikutan menggunjing apapun yang Shela dan ibundanya lakukan.


"Pulang sana!" Ucap Shela yang melihat Parto tersenyum ke arahnya.


"Huuss.. La kamu ini enggak sopan banget ngomongnya,"


Shela cemberut saat di tegur ibunya.


"Aku pamit pulang dulu njih Budhe, Dek.. Assalamualaikum," Sekali lagi Parto mencium tangan ibunda Shela. Sebagai bentuk hormatnya kepada orang yang lebih tua. Ibunda Shela tersenyum melihat sopan santun yang Parto tunjukkan.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarrakatuh," ucap ibunda Shela.


"Nduk.. kamu enggak salim sama Masmu?"


Shela melotot mendengar ucapan ibundanya. Dan sekali lagi Parto tersenyum bahagia, seperti telah memenangkan olimpiade saja.

__ADS_1


Sini Dek.. salim sama Mamas.


__ADS_2