Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Belum Berakhir Di Sini


__ADS_3

Kata-kata Seno terus terngiang di telinga Indah. Waktu pulang tadi Seno mengantar Indah sampai rumah, kebiasaan yang dulu pernah hilang. Dan dengan berani Seno meminta ijin emak dan bapak untuk melanjutkan hubungannya dengan Indah ke arah yang lebih serius.


Sebelumnya, Seno menceritakan jika orang tuanya terutama ibunya tidak menyetujui hubungan antara Indah dan dirinya. Seno sudah bertekad mantap apapun yang terjadi tetap mempertahankan Indah di sisinya. Sudah mencoba mengikhlaskan, melepaskan Indah sempat membuat dia hampir melepaskan nyawanya juga.


"Ngene lho Sen.." Bapak mulai bicara.


"Restu orang tua itu penting ya to? Apalagi kamu anak tunggal. Orang tuamu pasti berharap banyak sama kamu, kalau bapak sih gimana Indah aja.. Bapak ndak pernah maksain kehendak bapak ke anak-anak. Mereka semua sudah gede, tahu mana yang baik, yang cocok, yang pas buat mereka. Bapak tinggal kasih restu."


"Kalau ibumu mempermasalahkan wetonnya Indah, nanti dikemudian hari hal itu akan diungkit terus menerus jika kelian sudah menikah. Misalnya saat kelian kena musibah, saat pernikahan kelian diuji, bukan ndak mungkin kalau ibumu nanti selalu menyalahkan Indah sebagai penyebab terjadinya masalah dan cobaan dalam rumah tangga kelian,"


Bapak melihat raut muka Seno yang galau. Pucat karena kedinginan, ditambah sepertinya bapak Indah juga melarang Seno untuk menikahi anaknya. Membuat Seno makin lemas saat ini.


"Pak.. apa ndak ada jalan lain, maksudnya seperti tolak bala atau semacam itu agar mereka bisa bersama?" Emak ikut menimpali obrolan bapak dan Seno. Merasa kasihan melihat Seno yang seperti kehilangan semangatnya.


"Ya ada mak.. ada, semua masalah itu ada jalan keluarnya. Tapi, di sini bapak kok bacanya ibu Seno ini bukan hanya mempermasalahkan weton genduk mu (anak perempuan) tapi ya karena ndak setuju kalau Seno jadi mantu kita. Mak.., ini ada Seno juga.. Bapak mau bilang, untuk ukuran keluarga Seno, keluarga kita ini termasuk orang ndak punya, ya.. orang pas-pasan lah." Bapak tersenyum getir.


"Jadi, meski nanti mereka bisa menikah ya pasti ada aja kesalahan Indah di mata ibunya Seno." Bapak menjelaskan.


"Tapi, pak.. setelah menikah sama Indah.. aku akan ajak Indah tinggal di rumahku sendiri. Enggak akan ngerepotin orang tua, baik pihak bapak atau orang tuaku sendiri. Aku yakin bisa membuat Indah bahagia. Aku mampu menafkahi dia, menuruti semua inginnya.. Aku-" Ucapan Seno terpotong.


"Bapak ngerti, kamu cintanya sama Indah itu ndak main-main. Bapak paham, tapi bukan bapak yang mesti kamu yakinin. Kamu ingat omongan bapak tadi di awal? Bapak manut. Siapapun itu pilihan anak-anak bakal bapak restui. Sekarang kamu pulang, istirahat.. Bapak denger kamu habis sakit, sekarang malah hujan-hujanan kayak gini. Mau ganti pakaian dulu? Baju Parto pasti muat buat kamu."

__ADS_1


Seno menggeleng, menolak dengan halus tawaran bapak untuk mengganti pakaiannya. Seno minta ijin pamit pulang, Indah yang dari tadi di kamar keluar setelah mandi dan berganti baju. Mengantar Seno sampai ambang pintu.


"Aku pasti buktiin ke kamu, aku bisa bikin ibu terima kamu.. Kita pasti bersama! Kamu masuk gih, makan yang banyak.. Masa aku tinggal satu bulan badan kamu kurus banget gini,"


"Bantu aku dengan doamu ya dek.. Assalamualaikum." Seno hanya berani menggenggam tangan Indah, enggak berani kiss di bagian manapun itu. Karena pasti akan mendapat lemparan sandal karet dari bapak!


"Waalaikumsalam mas.." Indah mengangguk patuh.


Seno enggak langsung pulang, dia membawa motor ke arah rumah orang tuanya. Hanya satu tujuan Seno, mencairkan hati ibunya. Kalau bener harta yang menjadi alasan ibu menentang hubungannya dengan Indah, Seno rela memberikan rumah, mobil yang terparkir di rumahnya dan juga dua motor yang sering dia pakai. Belum banyak diceritakan di sini ya kalau Seno anak orang kaya?


Ya, seperti itulah Seno. Dia mandiri setelah menamatkan pendidikannya di bangku sekolah. Melamar bekerja sambil kuliah, membuatnya bisa menduduki posisi kerjanya sekarang. Membuat dia bisa mensejahterakan kedua orang tuanya. Padahal jika ditarik garis ke belakang, keluarga Seno sendiri sudah termasuk keluarga terpandang di desanya. Bapaknya adalah boss tauge, tahu kan apa itu tauge? Yups gaess kecambah itu lho. Bapaknya Seno punya beberapa karyawan, 2 truk ekspedisi, dan entah apa lagi yang keluarga Seno miliki, othor agak males nulisnya hahaha. Ya, intinya dia sugih! (kaya!)


Ibu yang melihat Seno datang, langsung tersenyum senang.


"Salam dulu, jangan kayak Jelangkung datang tak diundang pulang tak diantar." Tegur ibu.


"Assalamualaikum buk.." Seno mencium tangan ibunya. Hatinya bergetar, saat memegang tangan wanita yang melahirkannya ini. Apakah dia tega menentang keinginan ibunya, membuat ibunya menangis, apakah dia sanggup melakukan itu semua?


"Tadi habis kehujanan Sen?" Tanya ibu menyentuh pundak putranya. Seno hanya mengangguk.


"Buk.. Aku mau ngomong sama ibu, sebelumnya maaf.. aku enggak bisa meneruskan perjodohan dengan Virza." Seno mengamati perubahan raut muka ibunya, senyum itu hilang dari wajah cantik wanita paruh baya itu.

__ADS_1


"Terus piye?" Tanya ibu enggan menebak arah obrolan putranya.


"Aku hanya mau nikah sama Indah." Kata Seno mantap.


Ibu Seno mundur, menjauh dari Seno berdiri.


"Buk.." Panggil Seno tahu jika ibunya saat ini kecewa kepadanya.


"Kamu ganti baju sana," Ibu malas membahas masalah yang tak berujung ini.


"Buk, kalau ibu enggak suka sama Indah karena dia dari keluarga biasa aja.. Aku enggak bisa terima buk, maaf buk.. rejeki, jodoh, dan maut itu rahasia Allah. Kita bisa seperti ini juga karena ijin Allah. Semua ini hanya titipan, saat kita enggak ada, enggak akan bawa ini semua. Ibu juga pasti lebih tahu hal itu." Seno menatap ibunya dengan tatapan sendu. Tidak tega melihat ibunya berkaca-kaca seperti sekarang ini.


"Sejak kapan aku memandang segala sesuatu dari harta Bagus Senopati Maharaya?? Makin cupet saja pikiranmu sekarang. Aku makin enggak kenal sama kamu, anak yang dulu penurut sekarang hilang entah kemana! Aku hanya minta satu hal dari kamu, dan kamu enggak mau kabulkan." Ibu marah.


"Yang ibu minta itu setara dengan nyawaku buk.. Ya Allah.. Apapun itu buk, asal jangan minta aku berpisah dari Indah.. aku enggak bisa.." Seno memohon kepada ibunya.


"Kamu.. Kamu anggap Indah nyawamu? Lalu aku ini apa mu? Sekarang terserah kamu saja, terserah kamu mau ngapain.. Terserah." Ibu berjalan ke dalam kamarnya. Seno terduduk di lantai. Bukan ini yang dia mau, bukan seperti ini... Bukan jawaban terserah yang ingin Seno dengar dari ibunya.


Dari luar bapak Seno menghampiri anaknya, menepuk pundak Seno pelan.


"Ganti baju, makan, biar bapak yang ngomong sama ibumu!" Bapak meninggalkan Seno setelah berkata demikian.

__ADS_1


__ADS_2